Belajar Etika Berlalu lintas sambil Tamasya

    AnggunPaud - "Saya mau tamasya berkeliling-keliling kota Sambil melihat-lihat keramaian yang ada Saya panggilkan becak kereta tak berkuda Becak, becak, coba bawa saya Saya duduk sendiri sambil mengangkat kaki Melihat dengan asyik ke kanan dan ke kiri Lihat becakku lari bagaikan tak berhenti Becak,becak, jalan hati-hati (Ibu Sud) Lagu di atas sangat akrab di telinga anak-anak.

    Anak-anak sangat hafal dengan lagu tersebut. Selain mudah dihafal, isinya pun cukup memiliki pesan moral yang baik buat anak-anak khususnya. Pesan yang berkaitan dengan etika berlalu lintas di jalan yang harus diketahui dan ditanamkan kepada anak-anak. Menanamkan etika berlalu lintas di jalan raya sangat penting diajarkan kepada anak-anak sejak dini. Mengapa demikian? 

   Karena anak-anak dipastikan suatu saat akan menjadi pelaku dan pengguna jalan raya. Mereka akan menjadi bagian dari pengguna jalan raya baik saat mereka berkendara sendiri maupun naik kendaraan umum. Fenomena yang ada sekarang, para pengguna jalan banyak sekali yang tidak memiliki etika dalam berkendaraan. Mereka menggunakan kendaraannya dengan cara ugal-ugalan dan mengabaikan aturan lalu lintas.

   Padahal hal itu dapat mengancam keselamatan diri-sendiri maupun orang lain. Maka sebelum anak-anak tumbuh dewasa dan menjadi pengguna jalan raya, perlu sekali mereka diberi pendidikan etika berlalu lintas. Ada momen yang cukup efektif untuk mendidik anak-anak dalam beretika berlalu lintas.

   Manfaatkan momen berpesiar atau bertamasya untuk mendidik mereka. Ini sangat efektif karena pada saat seperti itu anak dalam suasana yang senang dan mereka mengalami hal yang nyata secara langsung. Lalu apa yang harus diajarkan perihal etika berlalu lintas kepada anak-anak saat bertamasya? Inilah beberapa hal penting yang perlu diajarkan kepada anak-anak.

Pertama, ajarkan anak tentang rambu-rambu jalan. Anak-anak sangat penting diajarkan tentang rambu-rambu jalan. Seringkali kita mengajak anak-anak berputar kota menyusuri jalan-jalan baik dalam perjalanan penting maupun sekadar jalan-jalan biasa. Tentu sepanjang jalan kita akan menjumpai banyak sekali rambu-rambu. Hanya sayang kita jarang memanfaatkan rambu-rambu tersebut untuk sarana pendidikan anak dalam berlalu lintas.

Pada umumnya kita hanya menjelaskan kepada anak saat kita berhenti di lampu merah. Anak-anak sering menanyakan atau kita menguji anak-anak dengan pertanyaan kenapa kita berhenti. Ada banyak sekali rambu-rambu lain yang kita temui namun jarang kita ajarkan kepada anak-anak. Ada tanda perintah, dan ada pula tanda larangan. Perintah parkir, perintah jalan searah, perintah berhenti, perintah berhati-hati, perintah mengatur batas kecepatan, dan banyak lagi kelompok rambu perintah baik yang berupa simbol gambar maupun tulisan.

Demikian pula ada larangan yang sering dipasang di sepanjang jalan. Larangan melewati, larangan berhenti, larangan berbelok arah, larangan membunyikan klakson, larangan berkecepatan tinggi, dan berbagai larangan lainnya. Sayangnya jarang kita memberikan penjelasan kepada anak-anak tentang simbol-simbol tersebut. Padahal itu sangat penting untuk pengetahuan mereka.

Kedua, ajari anak tentang contoh pelanggaran. Hampir setiap kita berkendaraan di jalan raya,kita akan melihat atau menjumpai berbagai pelanggaran yang dilakukan oleh para pengendara. Ada yang menerobos lampu merah, ada yang tak memakai helm, sabuk pengaman, dan sebagainya. Suatu saat saya mengajak anak saya berjalan-jalan berkendara sepeda motor. Sampai di sebuah perlintasan kereta api kami terpaksa harus berhenti menunggu karena kebetulan saat itu ada kereta yang akan lewat. Namun saat itu terlihat pemandangan yang sangat tidak mendidik. Banyak sekali pengendara motor yang menerobos palang pintu. Padahal kereta api jelas-jelas sudah tampak dan hampir melewati perlintasan tersebut. Dan saat itulah anak saya menyaksikan sendiri tentang pelanggaran tersebut. Apa komentar anak saya? “Uh, nekat sekali ya, Pak!” katanya kepada saya. Komentar anak saya itu menjadi momen yang sangat penting buat saya untuk memberikan penjelasan yang demikian lengkap. Dari mulai menanyakan apa kira-kira akibatnya, hingga berbagai pertanyaan sekitar pelanggaran tersebut. Dari situ pula saya dapat menanyakan sikap anak saya terhadap pelanggaran yang dilakukan orang lain sekali gus saya tanyakan apa hal yang seharusnya dilakukan di saat-saat seperti itu. Semua terjawab dengan berbagai cerita dan alasan yang saya anggap benar dan tepat. Pada kesempatan lain, anak saya pun pernah menyaksikan sendiri bagaimana seorang pemuda menerobos lampu merah dengan motornya. Nah, kebetulan saat itu kami saksikan sendiri. Karena saat itu kami sedang berhenti menunggu lampu hijau. Maka jelas-jelas anak saya tahu bahwa si pemuda itu telah melanggar aturan berlalu lintas. Di sinilah saya berkesempatan sangat baik untuk memberi penguatan akan konsep pelanggaran yang sudah dimiliki. Di samping itu saya juga dapat mengetahui sikap anak saya terhadap kasus pelanggaran itu.

Ketiga, ajari anak tentang kesopanan di jalan. Kesopanan tidak saja hanya berlaku di rumah atau di sekolah. Di jalan raya pun tetap berlaku kesopanan. Bahkan kesopanan di jalanan itu sangat penting. Orang-orang yang sopan dalam memanfaatkan jalan raya akan menjadikan tertib dan teraturnya lalu lintas di jalan. Demikian pula sebaliknya. Oleh karena itu sopan santun di jalan saat berlalu lintas perlu sekali diajarkan kepada anak-anak. Hal ini dimaksudkan agar anak-anak mengerti betapa pentingnya saling menghormati dalam menggunakan jalan. Sebagai contoh: kita harus menghentikan atau memperlambat laju kendaraan saat ada penyeberang jalan yang hendak melintas. Kita juga perlu menepi dan memperlambat kendaraan saat mobil ambulans atau mobil polisi bersirine hendak melewati atau mendahului kita. Begitu pula saat kendaraan di depan kita minta prioritas jalan yang ditunjukkan dengan lampu dim. Itu semua akan dapat ditemui saat kita mengajak anak-anak untuk melakukan perjalanan di jalan raya. Nah, saat itulah kita harus menjelaskan tentang apa saja yang harus dilakukan seorang pengendara dengan adanya kode maupun tanda-tanda lalu lintas tersebut. Jelaskan apa maksud kode atau simbol itu dan jelaskan pula apa yang harus kita lakukan. Penjelasan itu harus kita lakukan meskipun anak-anak tidak menanyakan. Dengan begitu anak-anak akan mendapatkan pengetahuan dengan benar. Harapannya mereka akan dapat mengaplikasikannya saat kelak berkendaraan sendiri.

  Masih banyak hal yang dapat diajarkan tentang etika berlalu lintas di jalan untuk anak-anak kita. Orangtua perlu melakukan dengan benar dan tidak menyia-nyiakan setiap perjalanan dengan anak-anak. Dengan mengenalkan dan mengajari anak untuk beretika di jalanan diharapakan akan tercipta ketertiban berlalu lintas dan mengurangi angka kecelakaan di jalan sehingga dapat menyelamatkan diri sendiri dan orang lain.*

*Riyadi, Pendidik di SDN 1 Kediri Kec. Karanglewas, Kab. Banyumas, Pegiat literasi di KOMPAK.

sumber gambar : https://www.melissaanddoug.com/blogpost?

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar