Yuk Mencoba Bermain Kata

Seperti biasanya, setiap sore hari saya mengumpulkan anak-anak untuk mengikuti Sekolah Literasi. Kami duduk melingkar dengan bangku kecil berwarna-warni. Semua anak sudah tidak sabar menantikan kegiatan berpikir apakah yang akan saya sampaikan. “Anak-anak, perhatikan setiap kata nama binatang yang saya sebutkan!, ” kata saya lantang penuh antusias.

Kemudian saya menyebutkan, “Ayam, Rusa, Merpati! Ada yang bisa melanjutkan!” “Saya, Pak Guru!, “ kata Nera. Kemudian Nera menyebutkan satu binatang, “Gajah!” “Yes, benar!,” kata saya dan Nera tersenyum senang. “Bebek!,” kata Tegar. “Yes, salah!” “Ular!,” kata Meli. “Yes, benar!” “Burung!,” kata Malva. “Yes, salah!” …

Semua anak kemudian secara bergiliran memberikan jawabannya. Yang jawabannya benar tersenyum senang, sedangkan yang jawabannya salah kecewa, tetapi mereka terus berpikir memecahkan masalah pola yang saya gunakan dalam permainan tersebut. Anak-anak yang telah berpikir dan mengetahui pola jawabannya menunjukkan ekspresi senang. Sedangkan yang belum terus berpikir keras untuk bisa memecahkannya.

Sebagian mereka kemudian bisa atau tetap tidak bisa menemukannya, lalu meminta bantuan temannya untuk membantu memecahkan persoalan tersebut. “Semua sudah diberi kesempatan menjawab sampai dua kali. Sekarang ada yang bisa tahu pola jawabannya?,” kata saya mengakhiri permainan. Mafi angkat tangan,”Saya, Pak Guru!” “Apa jawabannya?,” kata saya. “Semua kata nama binatang yang ada huruf ‘a’-nya.” “Yes, betul sekali.”

Anak-anak yang selalu salah kecewa dengan dirinya sendiri karena gagal memahami pola pertanyaan, terobati rasa penasarannya. Sedangkan yang berhasil di awal menemukan jawabannya, tersenyum senang. Sedang anak-anak yang tidak mengetahui pola jawabannya, akan tetapi anak ini selalu benar menjawabnya karena kebetulan, maka anak ini tersenyum kecut antara senang dan malu.

Tentu saja, melalui aspek susunan huruf dalam sebuah kata, misalnya, binatang dan buah-buahan, kita bisa membuat pola-pola pertanyaan untuk permainan yang menyenangkan bagi anak-anak. Di sinilah, saya ingin mengatakan bahwa melalui permainan seperti ini, kita bisa mengkondisikan anak-anak untuk melakukan kegiatan yang melatih daya berpikir anak. Berpikir dalam memahami pola informasi untuk menemukan jawaban atas sebuah pertanyaan yang tidak diberikan petunjuknya.

Ini tentu akan berlawanan dengan model pertanyaan di sekolah-sekolah, yang semua petunjuknya sudah diberikan dan disampaikan di awal pelajaran dengan sejelas mungkin. Misal, petunjuk sebutkan nama-nama binatang yang ada huruf ‘a’-nya? Maka anak-anak akan menjawab pertanyaan itu dengan cepat dan tepat. Pertanyaan itu hanya mengadu kecepatan anak dalam menemukan kata nama binatang, bukan mengkondisikan anak berpikir dalam memahami pola informasi. Di sini anak-anak tidak memberdayakan berpikirnya untuk mengamati, memahami, dan menganalisis informasi sebagai proses kemampuan berpikir anak-anak.

Hal ini tentu saja berbeda jika kita mengajukan pertanyaan tanpa petunjuk, misal, “Teruskan dengan menyebutkan tiga kata dari kata-kata yang saya sebutkan: RUMAH – HANTU – UANG – GARAM….” Pertanyaan ini akan membuat anak-anak berpikir induktif, harus memahami data dan informasi dahulu untuk diamati, dipahami, dan dianalisis polanya. Anak-anak pun akan berpikir keras terlebih dahulu dalam memahami pola huruf susunan kata, jika sudah menemukannya, maka anak kemudian akan memikirkan kata sebagai jawaban yang tepat.

Saya meyakini, anak-anak yang memiliki pola berpikir yang bagus akan cepat paham dengan jawaban atas pertanyaan di atas, “Saya paham, kata-kata di atas disebutkan berdasarkan letak huruf terakhir dari kata sebelumnya, maka jawabannya adalah: …MANUSIA – ANGIN – NASI….” Anak selanjutnya, yang awalnya tidak memahami, melalui jawaban temannya yang tepat akan semakin mengumpulkan banyak data dan informasi untuk diolah dalam menemukan pola informasinya. Dan anak berikutnya pasti akan berkata, “Yes, aku tahu jawabannya!” Maka ini pertanda anak telah berhasil berpikir keras dalam memecahkan persoalan permainan ini. “Saya tahu jawabannya: IKAN – NEGARA – API…”

Dan pada akhirnya, semua anak akan bisa memecahkan jawabannya seiring dengan banyaknya data dan informasi dari kata yang disebutkan. Saat semua sudah memecahkan jawaban atas persoalan itu, lihatlah ekspresi anak-anak. Mereka sangat senang dan bahagia. Kenapa? Karena anak-anak telah berpikir keras dalam berusaha mencari dan memecahkan persoalan yang menyenangkan. Bisa memecahkan masalah dan mendapatkan jawabannya adalah sebuah kebanggaan tersendiri. Sebuah kepuasan dan kesenangan yang mengagumkan karena perasaan anak-anak akan berkata, “Saya pintar! Saya hebat! Saya berhasil!”

Di sinilah fondasi dasar yang saya sebut dengan merayakan berpikir dalam bermain. Jika kita sebagai guru mau turun ke bawah, mengumpulkan anak-anak, kemudian membuat kegiatan bermain yang berpikir, misalnya melalui bermain kata-kata dari pola-pola susunan huruf, maka yakinlah anak-anak akan senang.

Tidak hanya senang, tetapi anak-anak juga akan dikondisikan untuk berpikir melalui dua tahap penting: pertama, anak-anak akan berpikir mengerahkan semua pengetahuan dan daya nalarnya dalam memahami pola susunan huruf atas sebuah nama. Kecermatan dalam mengamati, memahami, dan menganalisis akan membuat anak-anak cepat dalam menemukan jawabannya. Di sinilah, kemampuan pengamatan, pemahaman, dan analisis digunakan sebagai dasar berpikir untuk menyelesaikan sebuah persoalan.

Kedua, setelah menemukan pola informasi, anak-anak kemudian akan menggunakan pola informasi itu untuk mencari kata-kata yang susunan hurufnya sama dengan pola tersebut. Saat sudah menemukannya, anak-anak kemudian akan menyusun kata-kata menjadi jawaban yang tepat. Melalui dua rangkaian kegiatan berpikir ini, maka bermain dalam rangka merayakan berpikir ini dilakukan. Dan hasilnya, saya menyaksikan sendiri, anak-anak jadi memiliki kemampuan berpikir dan bernalar dengan baik. Anak-anak memiliki kemampuan memahami dan menganalisis pola-pola bahasa dengan baik.

Di sinilah bermain melalui susunan huruf dalam kata jadi bisa meningkatkan kemampuan berpikir anak-anak. Apakah permainan kata ini bisa diterapkan untuk anak-anak usia dini? Tentu metode ini harus dimodifikasi sedemikian rupa, agar sesuai dengan tahapan kemampuan berpikir anak usia dini. Prinsipnya, bahwa anak-anak usia dini tentulah masih menyukai permainan sebagai permainan, dan karena itu gurulah yang harus kreatif memakai permainan kata ini untuk mengasah kemampuan berpikir anak. Untuk anak usia dini, penerapannya harus berhati-hati dan sedikit demi sedikit. Bentuk dan pirantinya haruslah sangat sederhama dan menggunakan media yang ramah anak dan menarik secara visual. Suasana bermain dan menyenangkan di sini haruslah lebih ditekankan daripada tujuan pengenalan literasi. *

Sumber gambar: https//:/www.parentian.com/2016/03/tipe-komunikasi-pada-anak.html

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar