Belajar dari Joni, Belajar dari Alam

     AnggunPaud -  Siapa yang tak trenyuh saat menyaksikan aksi heroik seorang anak kecil di NTT? Banyak sekali orang meneteskan air mata begitu melihat Yohanes Andi Gala alias Joni kecil dengan beraninya menaiki tiang bendera saat terjadi insiden putusnya tali bendera saat momen yang penting itu.

    Saat berlangsungnya upacara HUT ke-73 Kemerdekaan RI di Atambua, tanpa disangka-sangka tali pengibar bendera putus. Dan siapa sangka akan terjadi insiden itu? Dan saya yakin tak seorang pun memikirkan akan terjadi insiden itu sebelumnya.

    Sepertinya malaikat telah mengirim seorang Joni kecil di tengah ratusan bahkan ribuan manusia di tengah lapangan. Siapa sangka si Joni kecil dengan beraninya menaiki tiang bendera yang demikian tinggi. Tentu orang tercengang dan tak percaya akan kenekatan si Joni kecil. Masalahnya tiang bendera cukup tinggi dan tak terjamin kekuatannya. Sehingga tak sekedar dibutuhkan nyali dan keberanian saja, melainkan butuh pula tenaga yang kuat serta teknik yang benar agar dirinya bisa naik hingga ke ujung tiang bendera dengan selamat dari marabahaya. 

    Antara percaya dan tidak, ternyata ia mampu mencapai ujung tiang dengan tenangnya dan mengambil ujung tali hingga berhasil menyelamatkan kegagalan prosesi upacara yang sangat bersejarah buat negerinya. Jadilah ia pahlawan seketika karena sangat pantas ia menjadi pahlawan kecil.

    Apresiasi atas aksi heroik dan keberaniannya pun datang dari berbagai pihak termasuk dari menteri pendidikan dan presiden. Baik yang berbentuk sanjungan, pujian, hingga pemberian hadiah materi yang di luar dugaan pun datang dari mana saja. Sungguh sebuah anugerah yang pantas diterima atas kehebatan yang ia lakukan. Tentu dirinya tak mengira bahwa aksinya akan mendapat respon dan apresiasi dari seluruh bangsa Indonesia.

    Maka ketika Joni kecil kemudian berinisiatif mencoba menaiki dan ternyata berhasil, ini bukan saja bicara masalah keberanian dan nasionalisme. Ada hal yang lebih penting lagi dibicarakan menyangkut dirinya. Bagaimana dia punya teknik memanjat batang bambu atau pipa sebesar itu? Tidak mudah seseorang menaiki batang bambu yang demikian lurus dan lentur serta licin. Perlu teknik khusus untuk menaiki sebatang kayu tanpa ranting. Dan itu tidak akan bisa dilakukan oleh setiap anak.

    Sekarang petanyaannya, dari mana keterampilannya itu ia peroleh? Tentu bukan diajarkan secara teori di sekolah, melainkan ia dapatkan di alam dan lingkungan di luar sekolahnya. Inilah yang kemudian menjadi menarik dibahas dan diketahui para orang tua. Alam takambang jadi guru, begitu istilah orang Sumatera Barat.

     Dari alam manusia sesungguhnya belajar. Sejak manusia dilahirkan maka sejak itu pula dirinya langsung belajar dengan alam. Dan alam bukanlah guru yang akan membunuh manusia. Ia adalah guru, sahabat, dan saudara yang sangat sabar dan mencintai manusia. Ia berikan pelajaran buat manusia sedikit demi sedikit sejak manusia kecil masuk di dalamnya dan bersentuhan dengannya.

     Begitu manusia terlahir kemudian dirinya langsung belajar menyesuaikan diri dengan suhu, cuaca, udara, dan semua yang bersentuhan dengannya itu. Betapa berbedanya suhu di dalam perut seorang ibu dengan suhu di luar. Manusia tetap bisa segera menyesuaikannya.

     Joni dan anak-anak lainnya mulai belajar dengan alam. Berlari di pegunungan, berpanas-panasan mencari belut di sawah, atau memanjat pohon sekadar memetik buah liar atau mencari kayu bakar. Mereka juga berenang menyeberangi sungai dan telaga, atau menyelam sekadar mencari ikan, serta banyak lagi yang mereka lakukan di alam. Semua itu adalah bentuk-bentuk belajar dengan alam. Dan semua itu pula tidak diteorikan dalam kurikulum mana pun.

     Tahapan belajar mereka pun tak ada batasan ruang dan waktu. Mereka tidak pernah berpikir tentang kapan waktunya belajar menyelam di sungai, atau berlari menaiki tanjakan. Yang pasti mereka lakukan sewaktu-waktu tanpa jadwal dan tanpa rencana.

     Mereka juga tak pernah beripikir harus memulai sejak kelas mana, sejak usia berapa. Yang jelas mereka lakukan semaunya tanpa tingkatan, tanpa kelas, dan tanpa ruangan. Itulah belajar bersama alam. Dan ini lebih banyak dimiliki anak-anak yang tinggal di kampung yang biasa bersatu dengan alam. Jika kemudian seorang malaikat kecil Andi Gala alias Joni memiliki kemampuan menaiki tiang bendera yang tingginya berkisar 20 meteran, itu bukan sekadar kebetulan belaka.

      Anak-anak pantai yang berhasil menyelamatkan pelancong yang terhempas ombak, pun sering terjadi. Anak-anak di tepi gunung pun seringkali menjadi penyelamat para pendaki yang tersesat. Dan masih banyak lagi contoh nyata lainya di sekitar kita tentunya. Saya jadi teringat saat saya masih mengajar di sekolah pinggiran yang letaknya di paling ujung dan berbatasan langsung dengan hutan gunung Slamet. Saya harus mengakui kehebatan mereka ketika suatu saat saya berencana mengajak mereka belajar di alam bebas.

    Anak-anak begitu antusias mengajak saya untuk mencari jenis-jenis batuan secara langsung di alam. Tentu kami harus menyusuri sungai yang curam dan semak-semak yang menakutkan. Terus terang saat itu saya akan mengurungkan kegiatan hari itu mengingat risiko yang saya anggap terlalu besar. Saya harus mengawal, melindungi, dan bertanggung jawab terhadap 22 murid saya. Belum sampai separuh perjalanan saya sampaikan kepada mereka bahwa kegiatan dibatalkan mengingat medan yang mengerikan.

    Namun apa yang terjadi? Anak-anak langsung bereaksi kecewa dengan keputusan saya. Saya sampaikan alasan saya bahwa itu berbahaya, dan saya sendiri terus terang merasa takut. Lalu apa yang mereka katakan? “Pak Guru jangan takut! Kami sudah sering ke sana, Pak!” Ya ampun! Mereka tak mau menyerah dengan keputusan saya. Mereka tetap meyakinkan kepada saya bahwa itu tidak berbahaya. Dan mereka sanggup melakukannya. Hal yang lebih memalukan diri saya adalah ketika beberapa anak justru siap menjamin keselamatan saya. “Kalau Pak Guru takut, nanti kami pegangi tangannya,Pak,” katanya.

     Fakta di atas selalu saya ingat karena hari itu akhirnya rencana pun sukses. Dan saya lihat sendiri kelincahan mereka dalam menyusuri hutan dan tebing yang mengerikan meski saya sendiri dalam ketakutan. Itulah contoh anak-anak yang sudah terbiasa belajar dengan alam. Bukan belajar menaklukkan alam. Tetapi mereka belajar bersahabat dengan alam. Sayangnya sepanjang ini banyak orang tua yang keliru dalam mendidik.

Belajar dari Alam

   Anak-anak tidak pernah mendapatkan kebebasan belajar dengan alam. Mereka menganggap belajar adalah berada di kelas, menghadapi buku, dan mendengarkan guru. Lalu suatu waktu ia diuji dan mendapatkan nilai berupa angka-angka yang sempurna 100 dan yang kurang baik tentu yang kurang dari 60. Anak-anak tidak pernah mandapatkan pelajaran dari alam.

   Betapa mereka selalu dilarang untuk bermain lumpur di sawah, atau menghanyutkan diri di atas batang pisang mengikuti aliran air sungai. Mereka juga tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk bermain di telaga seraya belajar menyelam. Mereka juga tak pernah belajar memanjat pohon ataupun melompat dari atas tebing ke dalam lubuk sungai. Sebagian besar pertumbuhan anak-anak di kota sudah dibatasi oleh banyak aturan orang tua. Anak-anak sangat terbatas dalam bermain.

    Jadwal bermain mereka hanya sedikit diantara berjejalnya jadwal les, privat, bimbingan belajar dan sebagainya. Oleh karena itu kesempatan bersentuhan dengan alam pun sangat minim. Mereka juga lebih banyak di larang oleh orang tua ketika hendak bersentuhan dengan alam. “Jangan bermain tanah,Nak! Itu banyak cacingnya loh!”kata mereka. “Jangan manjat-manjat pohon, Nak! Ntar jatuh!” katanya. “Jangan main panas-panasan, nanti kulitmu jadi hitam,Nak!” dan masih banyak sekali larangan-larangan lainnya yang diancamkan kepada anak-anak. Sehingga mengesankan alam adalah musuh mereka.

    Lalu apa efek dari banyaknya larangan itu? Anak-anak akan benar-benar menjadi takut kotor, takut cacing, takut memanjat, takut kulitnya hitam, dan ribuan ketakutan lainnya. Mereka akan menjadi anak-anak yang takut menghadapi permasalahan yang terkait dengan apa yang dilarang orang tua mereka. Celakanya adalah ketika mereka harus berhadapan dengan masalah kondisi alam. Mereka tentu akan menyerah menghadapinya. Ini berbeda dengan kehidupan anak-anak di kampung. Mereka lebih banyak belajar mengatasi masalah dan menghadapi alam nyata. Sehingga wajar ketika anak-anak desa kemudian justru lebih hebat dalam mengatasi alam. 

    Mereka paham bagaimana harus menghadapi ombak di pantai karena ia terbiasa bermain di pantai. Ia mampu mendayung dengan sampan kecil di atas telaga atau danau karena tiap hari ia biasa berenang dan menyelam di dalamnya. Ia tahu bagaimana memanjat pohon karena dia sudah terbiasa main petak umpet di atas pohon. Bahkan sebagian dari mereka sudah banyak yeng terbiasa menyadap nira kelapa setiap hari. Itu semua adalah keterampilan hidup yang mereka pelajari dari alam.

    Dan satu diantara jutaan anak-anak Indonesia yang tinggal di kampung adalah Joni si pemanjat tiang bendera. Bagi Joni itu bukan pekerjaan yang begitu menyulitkan dirinya karena ia tentu sudah memiliki keterampilan memanjat. Tapi bagi orang lain tentu menjadi hal yang luar biasa. Dan memang pantas kita apresiasi karena keterampilan, keberanian, dan inisiatifnya. Maka ketika kembali berbicara tentang Joni, pikiran kita pun kembali tentang proses pembelajaran anak itu bersama alam. Kita harus menyadari bahwa kehebatan Joni adalah hasil proses yang telah berjalan 15 tahunan.

    Selanjutnya orang tua mestinya segera bercermin dari kasus itu. Orang tua mestinya harus merefleksi diri bagaimana harus mendidik anak-anak. Melihat fenomena pendidikan di zaman sekarang ini, banyak sekali anak-anak yang tidak bisa melihat alam secara realita melainkan lebih banyak berhadapan dengan teori semata. Mereka tidak bersentuhan dengan alam secara nyata melainkan lebih banyak melihat alam melalui dunia maya.

    Hal yang mendasar dan harus direnungkan bahwa anak-anak mestinya diberi keleluasaan sepenuhnya untuk belajar apa saja baik di sekolah, di rumah, maupun di alam. Tidaklah sekali-kali orang tua melarang anak-anak utuk mencoba, belajar, sepanjang itu positif. Tugas kita adalah mengawasi, membimbing, dan memfasilitasi kebutuhannya dalam belajar dan berlatih. Semoga ini menginspirasi. *

*Penulis : Riyadi, Pendidik di SDN 1 Kediri Kecamatan Karanglewas, Kab. Banyumas, Pegiat literasi di KOMPAK

sumber gambar : http://lintasterkini.com/

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar