Menumbuhkan Cinta Tanah Air di bulan Kemerdekaan

   AnggunPaud - Semua warga Negara Indonesia pasti pernah merasakan kegembiraan, keseruan, dan kebanggaan saat terlibat baik aktif maupun pasif sebagai penonton dalam berbagai perayaan hari ulang tahun Kemerdekaan RI di lingkungan sekolah, tempat tinggal, dimana saja kemeriahan 17 Agustus diselenggarakan.

   Saat masih anak-anak keseruan yang dinanti-nantikan adalah menunggu tibanya waktu perlombaan dan karnaval yang diadakan baik di sekolah maupun lingkungan tempat tinggal . Bagaimana tidak seru karena bakal bertemu dengan teman sebaya, tertawa, bercanda ria dalam berbagai lomba yang digelar, mulai balap karung, lomba makan kerupuk, lomba mengambil koin dari buah semangka yang telah diberi jelaga, memindahkan ikan belut dari dalam ember ke ember lainnya dan berbagai lomba lain yang tidak kalah serunya.

   Setelah menikmati keseruan lomba dan karnaval selanjutnya adalah menunggu waktu pengumuman lomba yang biasa diadakan bersamaan dengan acara syukuran peringatan HUT Kemerdekaan yang digelar di tingkat rukun tetangga/desa, rukun warga/dusun atau kelurahan. Nah, bagian pengumuman pemenang lomba yang biasa paling ditunggu-tunggu oleh anak-anak. Sambutan demi sambutan yang biasanya mengawali acara syukuran hanya diabaikan karena saat anak-anak lebih memilih bermain dan berkejaran dengan teman-teman tetapi ketika pembawa acara bersiap mengumumkan pemenang lomba biasanya kegaduhan langsung berhenti dan karena anak-anak tidak sabar mendengar namanya disebut untuk tampil ke atas panggung.

    Perayaan HUT Kemerdekaan pada masa kanak-kanak masih sekadar selebrasi dan anak-anak belum mampu mampu mencerna makna dibalik berbagai perayaan tersebut. Setelah remaja biasanya keinginan untuk ikut lomba-lomba layaknya saat masih anak-anak dahulu mulai ditinggalkan karena perasaan malu untuk mengikuti lomba berbau kekanak-kanakan sehingga lebih memilih lomba yang lebih menantang, seperti lomba lari, tarik tambang, peragaan busana ala pejuang kemerdekaan, lomba bakiak, atau memilih menjadi panitia kegiatan HUT di lingkungan tempat tinggalnya. Di sekolah biasanya, para remaja memilih mengikuti lomba bari berbaris, gerak jalan indah.

    Tentu saja keseruan-keseruan mengikuti lomba di saat remaja tidak berbeda dengan masa kanak-kanak namun makna perayaan dan peringatan HUT Kemerdekaan mulai dapat dimaknai para remaja, misalnya saat ikut menjadi peserta upacara pengibaran Sang Saka Merah Putih, saat berlatih kedisiplinan untuk baris berbaris, saat lomba lari yang diibaratkan sebagai napak tilas para pejuang.

   Saat beranjak dewasa dan mulai memasuki usia lanjut, perlombaan-perlombaan untuk memeriahkan peringatan hari kemerdekaan tidak lengkang di makan usia. Bahkan banyak ibu-ibu, bapak-bapak dan kakek nenek ikut ambil bagian dalam kegiatan seperti renungan malam, lomba memasak nasi goreng hingga lomba untuk lucu-lucuan semata, seperti sepakbola dengan pakaian perempuan, lomba pukul guling di atas sungai serta kegiatan lain yang dilaksanakan sebagai wujud rasa syukur atas kemerdekaan Tanah Air tercinta.

   Kegembiraan pesta kemerdekaan, bagi orang dewasa dan lanjut usia menjadi lebih istimewa karena dari pengalaman hidup yang dilalui telah menempa mereka untuk mampu menghargai arti kemerdekaan yang sesungguhnya. Kemerdekaan yang telah diraih berkat perjuang para pahlawan melawan penjajahan bangsa Jepang dan Belanda kala itu hingga akhirnya merebut kembali kemerdekaan dari tangan penjajah pada 17 Agustus 1945.

Estafet

   Rasa cinta dan syukur atas kemerdekaan Indonesia harus selalu melekat dalam hati warga Negara Indonesia tidak terkecuali anak-anak. Biarkan anak-anak pada usianya memaknai arti kemerdekaan dengan cara dan pemahamannya sendiri. Namun demikian, menjadi kewajiban orang tua, orang dewasa di sekitar anak termasuk para guru untuk mengajarkan tentang rasa syukur dan rasa bangga terhadap kemerdekaan Indonesia.

   Berbagai cara dapat dilakukan untuk menyerahkan estafet rasa cinta Tanah Air. Menanamkan rasa cinta Tanah Air dapat dimulai sejak dini karena secara teori usia tersebut merupakan usia emas (golden age), dimana anak-anak dengan mudah menyerap dan mengingat pengetahuan yang diperolehnya secara mudah. Rasa cinta Tanah Air bisa diawali dengan hal-hal sederhana dengan mengajarkan tentang cinta terhadap lingkungan sekitar, yakni keluarga, teman-teman di sekolah dengan tidak mengejek, menghargai perbedaan baik karena suku dan agamanya, termasuk menumbuhkan rasa cinta terhadap hewan dan tanaman di sekitar.

   Namun demikian, menumbuhkan karakter menghargai, menghormati dan saling menyayangi dalam perjalanan waktu kerap menghadapai tantangan akibat kemajuan zaman. Seiring dengan kemajuan zaman, anak-anak tidak luput dari pengaruh perkembangan teknologi yang begitu pesat dan telah membawa dampak positif dan negatif terhadap anak-anak dan remaja kita.

    Kehadiran teknologi canggih, seperti gawai atau smartphone terbukti telah membawa dampak pada perubahan gaya hidup generasi muda termasuk anak-anak, tidak hanya di kota tetapi hingga masuk ke pelosok desa. Penggunaan gawai bagaikan virus yang lebih banyak menularkan dampak negatif ketimbang positifnya karena pemahaman yang terbatas akan manfaatnya sehingga mereka masuk dalam pusaran arus informasi yang belum terjamin kebenarannya atau sering disebut sebagai hoaks atas berita bohong.

   Patut disayangkan, justru berita hoaks dalam bentuk ujaran kebencian, sikap diskriminasi terhadap suku dan agama yang berbeda kerap dilakukan dan dicontohkan oleh orang-orang dewasa di sekeliling anak-anak dan generasi muda. Mereka menelan mentah-mentah informasi dan ikut membagikan melalui media sosial layaknya facebook, instagram, wesel tanpa rasa bersalah semata-mata karena minimnya bekal pengetahuan generasi muda akan etika bermedsos.

   Ketika mendengar dan melihat beberapa waktu lalu ramai di media sosial tersebar foto sejumlah remaja yang berpose seenaknya di atas kepala patung pahlawan di tugu Letda Anumerta Sudjono, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. Ada pula remaja yang naik ke atas gapura atau plengkung Keraton Yogyakarta sebagai tempat yang dianggap sakral oleh penduduk setempat.

   Tindakan remaja tersebut hanya salah satu contoh dari perilaku kebablasan generasi muda sebagai produk pengasuhan “zaman now” yang mulai meninggalkan tata krama dan kesopanan, potret memudarnya pendidikan karakter dan budi pekerti yang dahulu melekat dalam sistem pendidikan di lingkungan keluarga dan sekolah.

   Hari Kemerdekaan yang dirayakan sepanjang bulan Agustus di banyak tempat di Tanah Air dengan berbagai kegiatan, apalagi perayaan HUT ke 73 Kemerdekaan RI bersamaan dengan ajang pesta olahraga Asian Games ke-18 dimana Indonesia menjadi tuan rumah kegiatan tersebut.

   Banyak agenda dan topik yang dapat diceritakan kepada anak-anak kita terutama di tingkat PAUD dan sekolah dasar (SD). Jangan biarkan anak-anak memahami dengan cara yang kurang tepat tentang makna Kemerdekaan, perkenalkan anak-anak mulai dari hal-hal yang sederhana : mengapa kita harus memasang Bendera Merah Putih, mengapa kita harus mengikuti upacara bendera, mengapa diadakan renungan malam pada 16 Agustus, mengapa menjelang perayaan banyak lagu-lagu perjuangan diputar di mana-mana, mengapa anggota Paskibaraka dipilih dari berbagai propinsi di Tanah Air.

  Kisah tentang makna dibalik peringatan hari Kemerdekaan tidak akan pernah ada habis-habis bila orang tua, guru dan orang-orang dewasa mau peduli terhadap pentingnya meneruskan tongkat estafet kecintaan terhadap Negera Republik Indonesia (NKRI) sebagai sebuah harga mati. Momen perayaan hari ulang tahun kemerdekaan boleh pudar seiring dengan bergantinya hari. Penjor-penjor, umbul-umbul, Bendera Merah Putih boleh saja diturunkan, gapura penghias gerbang boleh dirobohkan tetapi tongkat estafet perjuangan para pahlawan harus diteruskan dari generas ke generasi yang tentu saja perlu disesuaikan dengan zamannya.

  "Jangan sekali-kali melupakan sejarah". Itulah judul pidato Presiden Soekarno saat peringatan Hari Proklamasi pada 17 Agustus 1966 yang kemudian sering disingkat menjadi Jas Merah. Pada saat itu Bung Karno mengatakan kepada rakyat Indonesia bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang mau menghargai jasa pahlawannya. Kita tidak ingin anak-anak generasi penerus menjadi anak-anak Indonesia yang mudah lupa, lupa akan sejarah, lupa akan perjuangan para pahlawan bangsa yang telah merebut kemerdekaan dari bangsa penjajah.

  Jadikan peringatan HUT kemerdekaan sebagai ritual tahunan untuk menanam dan menumbuhkan karakter tangguh dan biarkan waktu membuktikan lahirnya generasi cinta Tanah Air yang melekat hingga anak-anak beranjak dewasa. *

*Wiwiet Sundhari, pemerhati masalah pendidikan

sumber gambar : https://www.ngopibareng.id

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar