Cara Menangani Amuk Anak

Saya baru saja mengalami kisah nyata. Pada suatu ajang lomba fashion show batik bagi siswa Sekolah Dasar, Jasmin, siswa kelas 3, salah satu peserta acara dari sebuah sekolah, berulah. Siapa sangka jika keikutsertaannya dalam ajang itu berakhir dengan tangis yang membuat semua orang menjadi bingung. Pasalnya ia marah dan mengamuk ketika panitia mengumumkan para juara dan kebetulan dia tak menjadi juara. Ini sebuah kekecewaan yang berat baginya.

Ia menangis dan marah besar, hingga tak seorangpun yang sanggup meluluhkan hatinya, membujuk untuk tenang dan menerima kenyataan. Setiap orang yang membujuknya akan dibentak dan dianggap sebagai pembohong. Sambil menangis dan berteriak-teriak dia menghindar dari setiap orang yang coba membujuknya. Bahkan dia berlari sambil berteriak mengatakan ingin bunuh diri saat ada orang mendekatinya. Tentu saja semua orang kebingungan. Ketika berputus asa, mereka memutuskan untuk menangkapnya dengan jalan sedikit kekerasan. Itu pun atas seijin ibunya yang saat itu ikut mendampinginya. Ibunya saat itu sangat marah karena dia mengamuk dan tak mau diajak pulang. Padahal guru yang mendampingi dan menjemputnya pun sudah kelelahan dan ingin segera pulang.

Dalam keadaan genting seperti itu justru terjadi pertengkaran antara Jasmin dan ibunya. Jasmin mengungkap segala isi hatinya tentang orang tuanya, di mana ia mengungkapkan sikap ibunya saat di rumah, bahkan ia mengaku sering dipukuli dengan sapu. Tentu saja si ibu semakin emosional, karena ia merasa telah ditelanjangi oleh anaknya di depan umum. Saat semua orang emosional dan berputus asa, akhirnya ia pun dikejar dari segala penjuru untuk ditangkap secara paksa dan dibawa mobil untuk pulang. Bukannya si Jasmin menyerah. Ia malah berlari lebih jauh lagi dari kompleks tempat lomba.

Di saat orang-orang marah dan berputus asa, saya mencoba masuk untuk menjadi pelindung. Saya mencoba bujuk Jasmin untuk mendekat dan berlindung kepada saya. Dan benar-benar di luar dugaan, dia mau berlindung kepada saya, meski sejak tadi dia tak mau saya bujuk. Saya dekap dia yang masih menangis. Saya tampung semua curahan hatinya tentang ibunya. Saya bela dia, agar dia merasa nyaman di dekapan saya. Demi menenangkan anak itu, terpaksa saya suruh ibu dan semua guru menjauhinya. Bahkan saat dia masih menangis, saya minta mereka pulang meninggalkan Jasmin dengan jaminan akan saya antarkan si Jasmin ke rumah jika suasananya sudah memungkinkan.

Beruntung, semua guru mengenal saya sehingga ibunya mempercayai saya. Sepeninggal mereka, saya ajak Jasmin untuk beristirahat. Meski masih terisak-isak menangis, namun dia sudah dapat diajak berkompromi dan berkomunikasi. Saya tampung semua cerita dan curhatnya demi menghilangkan perasaan kecewanya kepada ibu dan para gurunya. Dan sikap saya yang seakan membela dia, tampaknya sangat ampuh untuk memberikan kepercayaan kepadanya, sehingga dia banyak bercerita tentang masalahnya di rumah dan di sekolah.

Dari situlah saya banyak mendapatkan informasi tentang kondisi dia di rumah. Jasmin adalah anak nomor dua dari tiga bersaudara dan satu-satunya perempuan di rumahnya. Kata Jasmin, si ibu sering berlaku kasar kepadanya. Konon si Jasmin sering mendapat amarah bahkan acap kali mendapat pukulan dengan gagang sapu hingga patah. Ayahnya seorang karyawan perusahaan yang sering pergi ke luar kota. Menurut Jasmin, ayahnya baik tapi ketika dia bercerita tentang kelakuan ibunya, si ayah tak percaya. Itulah makanya keluhan disampaikan ke saya.

Dari kasus itu saya mendapat pelajaran yang sangat berharga tentang cara  mengatasi anak yang tengah mengamuk. Setidaknya ada lima langkah yang bisa dilakukan.

Pertama, memberikan kepercayaan kepada si anak bahwa saya bukanlah orang yang ikut memusuhinya. Dengan memberikan kepercayaan demikian, anak akan merasa bahwa masih ada orang yang tidak memusuhinya.

Kedua, memberikan perlindungan kepadanya. Ketika semua orang mengejar dan hendak menangkapnya, tentu dia merasa sangat takut. Secara fisik dia merasa sangat terancam oleh orang-orang dewasa yang berusaha menangkapnya. Nah di saat-saat genting seperti itu, anak akan merasa sangat membutuhkan pelindung. Maka siapa pun yang sedikit memberikan kesejukan dan tempat perlindungan, ia akan segera berlari ke tempat di mana ia akan mendapatkan perlindungan itu. Oleh karena itu perlu sekali ada orang yang rela menjadi pelindung.

Ketiga, tampung seluruh keluhan, curahan hati, dan berikan dia pembelaan. Di kala semua orang tengah emosional, tentu sudah tak ada lagi yang berpikir akan membelanya. Padahal di saat seperti itu, anak sangat membutuhkan pembela. Dalam hal ini, sikap pembela hanya bersifat semu dan sementara. Jangan tunjukkan Anda sebagai musuh, tapi jadilah pembela baginya. Apa pun yang dikatakannya, berusahalah membelanya. Dengan begitu anak merasa tak sendiri. Ia akan merasa Anda sebagai pahlawan. Maka Anda akan dia pilih untuk menjadi apa saja bagi dia.

Keempat, ajak dia bernegosiasi untuk menyelesaikan masalah. Jika tadi permasalahan diawali oleh kekecewaan, maka ajaklah bernegosiasi. Apa yang diinginkan sebenarnya dan bagaimana kita harus berbuat. Dengan negosiasi tersebut tidaklah mungkin anak akan menuntut sesuai dengan keinginan semula. Jika masalah awalnya ia ingin menjadi juara, maka percayalah bahwa setelah terjadi insiden itu si anak tak akan bertahan mengharap menjadi juara. Keinginannya dan emosinya tentu bersifat sementara.

Kelima, ajaklah dia berkompromi dalam mengatasi masalah. Kompromi di sini bersifat mendamaikan hati. Ini dibutuhkan nasehat bijak dari seorang dewasa yang mampu menyelami kejiwaaan si anak, agar dia dapat diajak berkompromi. Perlu kesabaran untuk mencapai titik temu yang bisa dia terima sekaligus dapat kita penuhi. Anak-anak umumnya lebih mudah berkompromi jika diberi perhatian. Selain itu sering juga anak mau berkompromi dengan cara meminta persyaratan tertentu. Ada yang minta dibelikan mainan, makanan, atau benda lain yang menjadi kesukaannnya. Jika hal itu terjadi, maka dapat saja kita memenuhi sepanjang permintaannya wajar.

Nah, itulah yang saya lakukan dalam menangani anak tersebut. Dengan cara seperti itulah saya benar-benar mampu menenangani emosi si Jasmin. Menjelang sore hari  anak tersebut saya antarkan ke rumah dan diterima ibunya dengan suasan hati yang  lebih baik. Bahkan akhirnya ia mau berdamai dengan ibunya begitu sampai ke rumah. Ia bersalaman dan mencium tangan ibunya begitu masuk ke rumahnya. Itu memang saya nasehatkan kepadanya setelah terjadi kompromi dengan saya sebelum saya antar ke rumah. Tentu saja ibunya sulit mempercayai ketika si anak pulang dengan kondisi tenang. Namun demikian kepada si ibu, saya berpesan agar  memperlakukan Jasmin dengan lebih bijak dan mendidiknya dengan baik. Nasehat itu pun diterimanya dengan lapang dada dan ia bahkan mengakui kekeliruannya selama ini. Bersyukur hingga sekarang kami senantiasa berkomunikasi dan seringkali dia mengabarkan kegiatan Jasmin baik di sekolah maupun di rumah. *

sumber gambar : https://www.kinderling.com.au/

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar