Membangun Karakater Anak ala Nenek Moyang

    AnggunPaud -  Ketika bicara tentang pamali, pantangan, ora ilok, dan sejenisnya, di saat sekarang, barangkali ada sebagian dari kita yang nyinyir mendengarnya. Serasa ada zaman yang diputar kembali ke budaya lama yang kolot dan telah usang. Mereka menganggap ajaran pamali, ora ilok merupakan ajaran kuno yang tidak logis bahkan sebagai mitos yang hanya dipercayai oleh orang-orang bodoh di zaman dahulu.

    Ada benarnya memang, tapi tidak sadarkah bahwa sebagian dari kita yang kini menjadi orang tua sesungguhnya adalah hasil asuh dari mereka yang dianggap kolot? Kalau kita mau jujur mengakui, sebagian karakter kita sesungguhnya dibangun dengan pola pengasuhan tradisi lama dan kepercayaan yang kini dianggap mitos dan bodoh. Kita boleh saja mencemoohnya, namun tidak ada salahnya jika mau bercermin kembali kepada zaman lama yang dianggap telah usang.

    Tidak bermaksud mengajak kembali kepada kemunduran berpikir, namun saya tulis ini dengan maksud menengok kembali bagaimana sesungguhnya nenek moyang kita telah berhasil menerapkan pola asuh tradisional yang konon masih didasari kebodohan dan mitos itu. Sebagaimana diketahui bersama, di tengah masyarakat Jawa khususnya dahulu tumbuh kepercayaan tentang pantangan-pantangan tertentu bagi seseorang untuk dilakukan.

   Berbagai pantangan tersebut sangat dikenal dengan istilah ora ilok. Banyak orang mengartikan ungkapan ora ilok itu dengan versinya masing-masing. Namun secara sederhana pengertian ora ilok bisa dimaknai sebagai tindakan tidak baik jika dilakukan. Tidak sampai di situ saja, ternyata ungkapan tersebut mengandung sanksi yang cukup ditakuti. Karena siapa pun yang melanggarnya maka ia akan menemui akibatnya kelak di kemudian waktu.

    Meski selama itu akibat tersebut tidak pernah terbukti secara logika, namun aturan itu cukup memiliki kharisma untuk dihindarinya. Sebagai misal, anak-anak tidak boleh duduk di atas bantal. Adapun akibat bagi yang melanggaranya, mereka akan mengerita bisulan. Entah benar atau tidak hal itu, yang pasti dengan ungkapan itu anak-anak benar-benar ketakutan untuk melanggarnya. Mereka takut akan bisulan jika sampai duduk di atas bantal. Demikian pula anak-anak yang memakan pantat ayam atau unggas, itu pun masuk dalam ungkapan tersebut. Adapun sanksi atau akibat jika mereka melanggarnya maka kelak akan mengalami penyesalan.

     Cerita di atas tentu sangat tidak logis diterima akal manusia modern semacam sekarang. Namun ungkapan tersebut masih memiliki fungsi untuk membentuk karakter baik dan mengendalikan karakter buruk sesorang. Jangan duduk di atas bantal, jangan memakan pantat ayam atau unggas, jangan duduk di depan pintu, jangan bersiul di dalam rumah, dan berbagai larangan lainnya ternyata di zaman dulu dapat mengendalikan perilaku yang kurang baik, menumbuhkan kesopanan dan etika, bahkan kesehatan manusia.

     Betapa tidak, ketika kita cermati apa maksud sesungguhnya nenek moyang kita menganjurkan untuk tidak melakukan melalui ungkapan ora ilok, ternyata memang memiliki fungsi dan maksud yang baik. Hanya saja kekurangan mereka adalah tidak memberikan secara jelas alasan yang logis kepada anak-anak sehingga banyak diantara kita yang menganggap ora ilok adalah tipu muslihat yang diciptakan nenek moyang kita agar bangsa kita tidak maju.

    Saya kurang setuju dengan hal itu, mengingat secara logika tidak ada orang tua yang berniat untuk menjahati anak cucu mereka demi kepentingan sendiri. Itu bukan naluri dan sifat orang tua. Orang tua selalu berusaha sebaik-baiknya untuk membina dan mendidik anak-anak mereka dengan penuh kasih sayang. Mereka rela berkorban demi anak-anaknya. Jadi bagaimana mungkin orang tua berniat jahat kepada anak-anaknya melalui tipu daya ora ilok?

    Faktanya, hingga sekarang kita masih saja mempertahankan ora ilok tidak akan buang angin saat tengah makan karena ketika itu terjadi maka harus mencuci tangan kita kembali sebagai penebus sanksinya. Kita juga harus menghabiskan makanan kita saat makan karena jika tidak menghabiskannya akibatnya ayam peliharaan kita akan mati.

    Itu semua menunjukkan betapa orang tua memberikan pendidikan karakter yang baik melalui ungkapan tersebut. Secara logika, buang angin saat makan jelas merupakan perbuatan yang sangat tidak sopan. Selain terasa tidak sopan, hal itu juga akan membuat selera makan kita hilang sama sekali. Saat makan kita juga harus menghabiskannya.

    Ini mengandung nilai ajaran hemat, menghargai perjuangan mencari rizki, menghindari kemubaziran, serta mencegah orang berlaku boros. Meski hanya dengan alasan menyebabkan kematian ayam, namun lebih dari itu nenek moyang kita mengajarkan beberapa poin karakter sebagaimana dimaksud di atas. Banyak sekali larangan atau ora ilok yang tumbuh berkembang di masyarakat Jawa.

     Jika kita perhatikan, kita analisa ternyata ungkapan-ungkapan tersebut memiliki maksud dan ajaran yang baik sekali dalam membentuk nilai-nilai karakter yang bagus kepada anak-anak. Lepas dari masalah logis atau tidak, itu mitos atau bukan, maka patut diperhatikan kembali bahwa cara asuh tersebut ternyata cukup manjur dalam membentuk berbagai nilai karakter anak yang baik.

    Dengan ungkapan tersebut ternyata mampu menciptakan anak-anak yang penurut, sopan, beretika, hormat kepada orang tua, hemat, bersahaja, dan banyak karakter lainnya. Jika ini dapat kita sebut sebagai pendidikan karakter yang dianggap kuno yang diajarkan nenek moyang kita, kemudian pertanyaannya, pendidikan modern mana lagi yang dianggap mampu membentuk karakter anak-anak kita di zaman sekarang ini?

    Kita merasa malu dan tertinggal jika mengatakan ora ilok, sementara kita tak mampu memberikan pendidikan karakter dengan pola modern yang lebih jitu. Jika mau jujur sesungguhnya kita harus mengakui bahwa nenek moyang kita sangat berhasil dalam melakukan pendidikan karakter kepada anak cucu mereka. Mereka mampu menjadikan anak-anak yang yang baik dan berbudi luhur, berperilaku, dan beretika yang mulia. Dan kini kita pun harus rela mengakui bahwa kita banyak melakukan kegagalan dalam mengasuh anak-anak.

    Ini bukan omong kosong karena fenomena rusaknya mental dan karakter anak-anak kita ternyata sudah memasuki ambang darurat. Sehingga pemerintah sendiri tampaknya tengah melakukan berbagai upaya keras untuk menemukan kembali karakter bangsa ini melalui pendidikan. Salah satu upaya tersebut diantaranya dengan disusunnya kurikulum 2013 yang didalamnya lebih mengedepankan pendidikan karakter.

    Oleh karena itu mari kita bercermin kembali kepada nenek moyang kita bagaimana cara mereka berhasil mengasuh anak-anak dengan membentuk karakter dan perilaku anak-anak mereka. Tidak bermaksud mengajak kita kembali ke masa primitif, namun lain dari itu, perlunya kita mempelajari ampuhnya metode dan teknik mereka dalam mendidik. Selama ini kita lebih berorientasi kepada para pakar pendidikan barat. Kita begitu kagum terhadap tokoh-tokoh pendidikan barat hingga hampir semua teori mendidik diadopsi dari barat.

    Sementara kita telah melupakan nenek moyang kita yang sesungguhnya telah berhasil menjalankan tugas mendidiknya sepanjang zaman. Itulah perlunya kita tengok kembali bagaimana nenek moyang kita berhasil menjalankan pendidikan untuk anak-anaknya.*

*Riyadi, Pendidik di SDN 1 Kediri UPK Karanglewas, Banyumas, Pegiat literasi di KOMPAK.

sumber gambar : https://www.wikihow.com

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar