Latih Motorik Anak Kita

      AnggunPaud -  Di usia dini, perkembangan motorik anak adalah aspek yang vital. Perkembangan motorik anak di usia dini ikut mempengaruhi perkembangan fisik dan juga perkembangan mentalnya. Bila anak tak sering bergerak, tentu akan berpengaruh pada saraf, juga pada perkembangan fisiknya. Ada fenomena yang cukup memprihatinkan mengenai perkembangan motorik anak-anak kita di masa mendatang.

     Di tengah keadaan atau kondisi rumah yang kian menyempit, anak semakin lama malas untuk bergerak. Mereka menjadi malas gerak salah satu faktornya juga ditinjau dari kemalasan orang tua untuk menemani dan mengawasi anak mereka bermain di luar rumah. Jalanan sekarang jauh berbeda dengan jalanan di masa lalu.

     Dulu, jalanan sepi, sehingga orang tua lebih lapang untuk mengajak anaknya bermain di jalanan. Sekarang, hampir tidak ada jalanan sepi. Sehingga orang tua harus kesana-kemari dan merasa cepat capek untuk meladeni anaknya yang lagi banyak gerak. Di sisi lain, jalanan depan rumah yang sempit, perumahan yang tak luas, membuat anak hanya betah bermain di dalam rumah.

    Serbuan gadget, televisi, hingga play station menggoda anak-anak kita untuk tak banyak gerak. Ini senada dengan penelitian yang dilakukan oleh World Bank di Tahun 2013, sebesar 25 persen anak Indonesia tak bermain di luar, menyanyi, menggambar, atau bermain dengan alat permainan.

    Penelitian ini dilakukan terhadap 6.000 anak Indonesia di berbagai daerah yang berbeda (CNN Indonesia, Juli 2017). Bila kita tilik lebih jauh, mengapa mereka tak melakukan aktifitas seperti kebanyakan anak pada umumnya salah satu faktornya adalah smart phone maupun gawai. Bila orang tua sering menunjukkan di dekat anak bermain gawai atau smart phone, otomatis anak akan teralihkan perhatian dan fokusnya juga pada apa yang kita pegang.

    Saat itulah barangkali anak jadi kepincut dan tertarik untuk memegang sampai bermain dengan gawai kita. Kita pun jadi semakin mahfum saat anak-anak kita menjadi pemegang gawai yang lincah bahkan di usia dini. Banyak barang-barang berbentuk balok, pasir, maupun kayu yang bisa merangsang motorik halus mereka. Kebanyakan orang tua belum sepenuhnya memahami, bahwa alam ikut membentuk perkembangan motorik anak kita.

    Di Jepang, anak-anak PAUD biasa berlari, meloncat, menyentuh, meraba barang-barang di sekitar mereka. Medium belajar mereka diaktifkan untuk menguatkan motorik halus maupun kasar pada anak. Dengan begitu mereka tak hanya belajar mengaktifkan secara menyeluruh fisik mereka, tapi juga indera mereka. Mereka belum mengenali calistung kecuali hanya aspek dasar sekali. Pelajaran pertama sekolah PAUD adalah belajar sensitif mengaktifkan sensibilitas fisik atau tubuh mereka terhadap alam, dan dunia di sekitar mereka. Sehingga mereka memiliki respek cepat terhadap keadaan di sekitarnya serta amat lincah.

    Di Indonesia sendiri, kita memiliki tokoh pendidikan Mohammad Syafei yang mendirikan sekolah INS Kayu Tanam. Meski sekolah itu telah bubar, tapi karyanya akan selalu dikenang oleh pendidik dan murid di Indonesia mengenai konsep pendidikan Arah-Aktif. Artinya, murid-murid perlu dilatih untuk berkriya, berkreasi, dan terbiasa produktif dengan bahan, alat, serta semua yang ada di alam.

    Tanah liat, janur, pasir, kayu, hingga tetumbuhan yang ada di sekitar kita merupakan alat untuk belajar. Di INS Kayu Tanam, anak-anak semenjak dini dibiasakan untuk menyentuh tanah liat, pasir, serta tetumbuhan agar mereka bisa memproduksi sesuatu dari apa yang ada di sekitar mereka.

    Inilah yang kelak menjadi dasar bagi tumbuh dan berkembangnya pendidikan kejuruan atau keterampilan di Indonesia. Anak-anak yang pasif dan lemas, tentu tak akan memproduksi sesuatu, tapi lebih cenderung mengkonsumsi. Dengan terbaisa berproduksi, anak bukan hanya mengaktifkan pikiran dan tenaga mereka, tapi juga melatih keterampilan mereka untuk memasarkan hasil karya mereka.

                                                             Godaan Dan Tantangan

   Semakin ke depan, tantangan dan godaan orang tua untuk melatih motorik anak semakin besar. Selain faktor kebutuhan yang mendesak kedua orang tua harus bekerja, pengawasan dan pendampingan yang kurang mengakibatkan anak tak optimal berkembang secara sempurna. Bila hal ini terjadi, tentu saja anak rentan terkena penyakit syaraf, otot-ototnya tak kuat, serta rentan terkena lumpuh syaraf. Agar anak bisa sempurna pertumbuhan motoriknya, sebenarnya tak begitu sulit.

Pertama, Biasakan anak kita menyentuh benda di sekitar mereka. Melarang mereka untuk memegang apapun di rumah, tentu kurang bijak. Sebagai orang dewasa, tentu kita bisa mengatur apapun benda milik kita yang kira-kira tak layak mereka sentuh atau khawatir akan dirobek atau dirusak anak-anak kita.

Kedua, sering-seringlah ajak anak kita bermain di luar rumah. Mengajak mereka bermain di luar bukan hanya melatih mereka mengenali lingkungan sekitar, tapi juga membuat mereka menjadi berkembang imajinasinya. Menangkap kupu-kupu misalnya, bermain pasar-pasaran, kelereng, atau mainan lainnya menggunakan tanah sebagai medium. Hal ini terbukti akan melatih pikiran mereka terus bergerak seiring fisik mereka.

Ketiga, biarkanlah mereka bermain dengan teman sebayanya. Bila di lingkungan kontrakan atau rumah kita banyak anak sebaya dengan anak kita, sebaiknya anak tak dilarang untuk bermain dengan teman mereka. Secara sosial, mereka akan lebih saling mengenali. Dengan saling menyentuh, saling berkejar-kejaran dan bermain bersama, mereka akan menjadi anak yang aktif. Beda dengan anak yang jarang bertemu dengan teman sebayanya. Mereka akan kesepian, sering menangis dan mudah merengek.

Keempat, Jika terpaksa mereka harus dirumah, ajak mereka berkreasi dengan menggunting, menempel, menulis, mencorat-coret. Latih tangan dan kaki mereka bergerak dan berkreasi. Sediakan pula buku gambar atau buku khusus buat mereka berkarya. Dengan begitu, mereka merasa diberi ruang untuk berkembang lebih jauh. Ketimbang mengajak mereka nonton teve yang membuat mereka jarang bergerak, tentu saja mencoret, menggambar akan lebih bermanfaat bagi motorik mereka.

Kelima, ajak mereka mengenali tumbuhan dan teksturnya di sekitar rumah. Memegangi daun, memegang batang, hingga menyentuhi bunga dan tanaman di sekitar mereka juga membuat motorik mereka semakin terlatih.

Keenam, ajak mereka mendengarkan musik untuk joged. Melatih anak bergerak, berjoged juga melatih badan mereka untuk gerak sepenuhnya. Selain relaksasi, gerakan ini membuat mereka tampil berani. Meniru, pada awalnya, tapi juga melatih mental mereka untuk disaksikan orang, dipuji. Joged juga menguatkan otot-otot mereka lebih kuat.

    Inilah enam cara melatih motorik anak kita. Yang tak kalah penting adalah mengajak anak kita bermain bersama orangtuanya. Selain merasa nyaman dan tenang, anak kita bisa lebih leluasa menggerakkan tubuh mereka.

*) Peminat Dunia Pendidikan Dan Anak, Penulis Buku Ngrasani! (2016)

sumber gambar : https://www.parents.com

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar