Anak Perlu Berkawan

     AnggunPaud -  Seorang anak-anak bila memasuki dunia baru, ia cenderung malu. Tuan dan puan bisa membayangkan ketika kecil dulu, saat masih takut menghadapi banyak hal. Saat pertama anak-anak memasuki PAUD atau Taman Bermain, biasanya anak akan malu sekali. Tetapi lama-kelamaan seiring berjalannya waktu, anak menjadi tak malu lagi untuk mengenali teman-teman mereka.

    Di buku Ayamnya Mbah Uti (2018) kumpulan karya anak kelas 1 SD, ada kisah menarik dari Aisya. “Pertama masuk ke sekolah saya masih malu, sedih, dan takut. Karena belum ada satu pun teman serta guru yang kukenal.” Perasaan ini tentu dialami oleh anak-anak lain pula. Akan tetapi seiring dengan berjalannya waktu, anak akhirnya memiliki keinginan untuk berkawan.

   William C.Menninger (1963) menulis di bukunya bertajuk Mentjari dan Memelihara Persahabatan : “Kawan2 kita memainkan peranan jang penting dalam hidup kita. Sebabnja ialah karena kita termasuk machluk sosial. Kita tidak ditjiptakan untuk hidup sendiri di pulau tandus jang terpisah satu sama lain.”

   Bila kita ditanya kawan yang paling berkesan dan teringat terus sampai usia lanjut adalah kawan kita di saat awal kehidupan kita. Saat usia dini atau memasuki taman kanak-kanak itulah biasanya kita mengenang kawan-kawan kita. Mengapa anak-anak kita memerlukan teman?. Motif berteman menjadi beraneka macam ketika kita masih anak-anak. Bisa jadi karena kita saling memiliki satu kesukaan bersama. Kita memiliki minat terhadap suatu permainan yang sama pula. Atau bisa jadi karena unsur suka semata.

   Dalam pertemanan itulah anak-anak belajar sosialisasi. Mereka belajar pengertian, rasa berbagi, dan saling mengerti. Mereka belajar pula bagaimana memilih teman dan mengenali satu sama lain. Biasanya teman yang peduli akan memahami saat teman lainnya sedang kesulitan. Ia lekas membantu dan melakukan apa yang bisa ia lakukan. Perhatian tentu merupakan salah satu ciri seorang teman.

   Saat permainan tradisional makin dijauhi, ikatan pertemanan anak-anak kita pun berubah pula. Dulu, anak-anak kita lebih sering bertemu, berkumpul dan bermain bersama. Mereka menggerakkan tubuh mereka, berlari kesana-kemari. Akrab dengan pohon dan aneka buah di sekitar mereka. Mereka terbiasa berenang di sungai, mendaki gunung, atau berjalan menyusuri jalan setapak. Permainan tradisional bagi anak-anak mempunyai manfaat baik perkembangan fisik maupun mental anak. Menumbuhkan kesabaran, kreatifitas, meningkatkan kemampuan berinteraksi dengan anak yang lain,dan mengembangkan kemampuan motorik.

   Kini, pertemanan pun berubah. Orang menganggap teman akrab dengan teknologi. Desa disatukan dengan televisi, teman sekampung ngumpul saat rekannya ada wifi. Mereka bisa berkumpul bermain game online bersama-sama secara gratis melalui telepon genggamnya.

   Kini, anak-anak itu lebih mengenal telepon pintar dibanding tetangga mereka. Sebab rumah-rumah mereka berdekatan tapi bersekat dinding tebal. Mereka, anak-anak kita bahkan di usia dini sudah mengenali media sosial. Seorang murid saya di SD dulu, bahkan sudah memiliki grup whatssapp, sudah memiliki facebook. Mereka aktif, berswafoto, membagi aktifitas mereka dengan teman mereka, memamerkannya di media sosial.

   Kanak-kanak berteman di dunia maya, tapi tak seakrab dulu. Dulu, pertemanan, berkawan itu berjumpa, merasakan gembira bersama, sakit bersama, sedih pun dibagi bersama. Kini, anak-anak mulai mengalami pergeseran psikologi yang begitu jauh. Mereka tertawa melalui emoticon. Mereka memencet menangis, sudah dianggap bersedih. Tak ada lagi perjumpaan yang intim. Melalui chatting di media sosial, sudah mereka anggap sebagai perjumpaan.

   Kini, tak hanya di kota-kota, di desa pun sekolah sudah mulai mengakrabi teknologi. Tugas-tugas kelompok yang biasa diselesaikan dengan perjumpaan, kini cukup dengan kirim pesan via whatssapp. Padhang rembulan, semilir angin sepoi, serta keriuhan anak-anak di malam hari seperti terbayang di lagu-lagu dulu sudah tak ada. Keramaian mereka berpindah bersama televisi dan layar ponsel mereka. Anak-anak tersenyum sendiri dan terpaku lama saat memegang layar ponsel mereka. Mereka menikmati hubungan dengan medium handphone. Sebenarnya ada masa yang lebih dini, kapan sebenarnya anak-anak kita mengenal pertemanan atau berkawan?.

   Ibu kita biasanya mengenalkan anak pada apa-apa dan segala sesuatu yang ada di dekat mereka. Termasuk saat mengenalkan teman-teman anaknya. Anak-anak mengenali teman-temannya dari ibunya. Tapi juga lebih jauh mengenali apa makna pertemanan dari televisi maupun layar ponsel. Para ibu-ibu bisa lekas membantah dengan apa yang saya utarakan. Tapi kita tak bisa menolak saat melihat anak-anak kita menonton film kartun mereka. Dari film Sopo &Jarwo, Upin dan Ipin, anak-anak kita mengenali pertemanan. William C.Menninger mengatakan : Sering suatu persahabatan jang baik dapat banjak meorbah seorang pemalu dan memberikan padanja kepertjaan diri sendiri. Suatu persahabatan jang gagal mungkin membuat dia merasa lebih sepi lagi dan menambah ketakutannja tidak akan diterima orang lain (Menninger, 1963:39).

   Seorang anak-anak yang biasa diajak untuk dikenalkan kepada orang lain, diajak untuk mengenali banyak temannya, tentu saja akan menemukan pandangan lebih luas. Menemukan banyak pengalaman dalam bersosialisasi. Salah satu penyebab kurangnya rasa percaya diri pada anak, adalah karena anak tidak memiliki ruang untuk berekspresi. Semakin orang dilarang berteman dengan banyak orang. Dibatasi dan dimarahi, anak makin terhimpit pergaulannya. Makin sempit pengalaman berinteraksinya. Sehingga ia memerlukan lingkungan yang bisa menerima dia, bukan belajar untuk menyesuaikan diri terhadap lingkungannya.

   Anak-anak di usia dini, maupun usia dasar memerlukan sekali seorang teman. Mereka berkawan dalam rangka untuk saling memahami, saling menyadari dan mengenali satu sama lain. Mereka juga belajar banyak tentang arti peduli, berbagi dan juga merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain.

   Sebagai orang tua atau guru, tugas kita adalah mendorong mereka untuk lebih jauh lagi memberi ruang kepada mereka untuk bersosialisasi sebanyak mungkin. Anak seringkali mencontoh perilaku dan sikap dari orang tuanya. Oleh karena itu, setiap orang tua wajib menjadi role model yang baik bagi anak-anaknya. Dengan melihat bagaimana orang tua menyapa, berbicara dan bergaul dengan orang lain, hal ini akan membuat anak lebih mudah untuk bersosialisasi dengan teman-temannya.

Bukan sebaliknya membatasi dan memberikan batasan kepada mereka siapa yang layak mereka pilih. Biar mereka belajar sendiri siapa yang patut dan baik bagi mereka. *

* Peminat Dunia Pendidikan Dan Anak, Penulis Buku Ngrasani!, sehimpun esai pendidikan.

Sumber gambar http://www.ofwpinoystar.com/filipinos-giving-people-planet/

Bagikan Artikel Ini

Komentar (1)

  • fatih

    Mereka juga belajar tv indonesia banyak tentang arti peduli, berbagi dan juga merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain

    2018-07-24 10:52:00

Silahkan Login untuk memberi komentar