Jangan Panggil Anak dengan Sapaan Negatif

      AnggunPaud - “Bagong, bukakan pintu samping!” perintah seorang ayah kepada Sapto, anak laki-lakinya. “Hei, Gendut! Mandi kau! Jangan makan jajanan terus!” seru seorang ayah kepada anaknya yang bertubuh gendut. “Tuyul, ayo cepetan berangkat, nanti terlambat kamu!” kata seorang lainnya. Panggilan-panggilan terhadap seorang anak dengan nama sapaan semacam itu seringkali kita jumpai di sekitar kita.

     Nama-nama panggilan semacam Bagong, Gendut, Tuyul, Kerempeng, Item, Kriwil, Kuntet, Dekil, Bolot, dan sebagainya tampaknya sudah menjadi kebiasaan yang dianggap lumrah utamanya bagi masyarakat di desa. Padahal nama asli mereka bagus-bagus. Ada Sapto, Edi, Irvan, dan lain-lain.  Meski di tempat-tempat tertentu memang ada sebutan atau panggilan khusus terhadap anak-anak, namun hal itu tetap memiliki makna yang bagus. Di Jawa ada panggilan; Nak, Le, Tole, Nduk, Ngger, dan sebagainya.

    Orang Batak memiliki panggilan kepada anak dengan istilah Butet. Orang Padang memanggil anaknya dengan sebutan Buyung, Orang Sunda memanggil anak-anak dengan sebutan Neng.  Semua itu memiliki makna yang indah, bagus dan menunjukkan ungkapan kasih sayang orang tua terhadap anak. Berbeda dengan panggilan semacam yang telah disebut dalam ilustrasi di atas. Nama-nama semacam, Bagong, Tuyul, Kerdil, dan lainnya, merupakan sapaan atau panggilan yang diberikan kepada anak-anak bukan untuk mengungkapkan kasih sayang kepada anak-anak namun sebaliknya justru memiliki nilai rasa merendahkan.

    Panggilan semacam itu biasanya diberikan untuk anak-anak yang memiliki kondisi seperti yang di sebut. Dipanggi Gendut karena anaknya memang gemuk. Dipanggil Kerempeng karena anaknya memang kurus. Dipanggil Bagong mungkin dia dianggap memiliki wajah kurang tampan atau lucu. Sebagian orang tua memang ada yang merasa telah melakukan keakraban dengan panggilan seperti itu. Namun sadarkah bahwa apa yang dilakukannya sesungguhnya memiliki efek yang kurang baik bagi perkembangan jiwa anak-anak?

    Berikut ini adalah efek yang dapat timbul saat kita menyapa anak dengan nama panggilan yang kurang baik.

Pertama, anak akan menjadi minder. Anak-anak yang biasa mendapat julukan nama yang kurang baik dapat berakibat dirinya minder. Meskipun pada awalnya si anak tak menghiraukan sapaan itu namun seiring perkembangan usianya mereka biasanya akan mulai mempertanyakan pada dirinya.  Maka akan muncullah pada dirinya sifat minder, tak percaya diri yang dapat memengaruhi hubungan sosialnya.

Kedua, anak akan merasa malu. Seperti halnya dibahas di atas, sejalan perkembangan usia, jiwa dan raga mereka pun bertambah pula. Ketika masih anak-anak mungkin soal panggilan nama apa pun tak bermasalah bagi dirinya. Namun ketika dirinya makin dewasa, maka makin mengenalilah dirinya, sekaligus mengenal rasa malu. Anak yang dipanggil dengan sebutan nama yang kurang bagus tentu akan merasa malu. Apalagi jika dirinya disebut di hadapan umum atau di depan teman-temannya.

 Ketiga, anak bisa marah. Ada sebagai anak yang bisa menerima perlakuan orang lain memanggil namanya dengan sebutan aneh. Seorang anak bersikap biasa-biasa saja ketika dirinya dipanggil dengan nama aneh. Namun bagaimana dengan anak yang tak mau diperlakukan seperti iitu? Tentu saja si anak akan marah ketika dipanggilnya bukan dengan nama aslinya. 

 Keempat, dengan memanggil nama panggilan yang aneh anak merasa tak dihargai. Memanggil Bagong, Kerempeng, Jangkung, Kerdil, dan sebagainya, dapat menyakitkan hati karena hal itu bisa dianggap pelecehan atau penghinaan. Anak akan merasa terhina dan tak dihargai dengan sebutan-sebutan itu jika memang tak diinginkannya. Anak yang merasa tak dihargai tentu akan melakukan reaksi dalam bebagai bentuk. Dan biasanya reaksi tersebut bersifat negatif yang dapat merusak hubungan sosial dengan orang lain.

    Oleh karena menghindari sebutan nama yang kurang baik lebih bijak untuk mencegah hal yang tak diinginkan. Demikianlah bahwa penyebutan tarhadap nama anak yang tak sesuai, ternyata bisa berefek negatif bagi seorang anak. Oleh karena itu, kita sebagai orang tua hendaknya menghindarinya.*

*Penulis ;Riyadi, Pendidik di SDN 1 Kediri, UPK Karanglewas, Kab. Banyumas, Pegiat literasi di KOMPK.

sumber gambar : https://rebanas.com/

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar