Membekali Anak dengan Pengetahuan Bencana

   AnggunPaud - “Dik, mainan airnya udahan dulu ya! Ini ibu sedang membersihkan sisa lumpur setelah kebanjiran kemarin”, seru seorang ibu sembari mengepel lantai yang masih belum bersih. Pernahkah melihatanak-anak justru bersenang-senang dengan bencana alam yang ada di sekitar?

   Bahkan, saat mereka harus hidup di pengungsian justru membuat mereka bertambah senang karena berkumpul dengan teman-teman. Sebaliknya, ada pula anak-anak yang justru malah takut, panik dan malah trauma terhadap bencana. Apapun efek bencana yang dialami anak, kita sebagai orang yang lebih dewasa perlu mengenalkan apa itu bencana alam dan bagaimana mengatasinya.

  Bencana alam bisa saja terjadi di sekitar kita.  Musim hujan yang terjadi di bulan-bulan awal tahun telah menyebabkan curah hujan makin meningkat dan makin banyak pula bencana-bencana alam seperti banjir, longsor dan tanah bergerak. Belum lagi bencana bencana lain seperti kebakaran, tsunami, gempa, meletusnya gunung berapi.

    Terkait dengan bencana ini, anak-anak perlu dikenalkan sejak dini. Apalagi dalam kurikulum PAUD sudah tercantum bahwa anak usia dini harus mengenal tentang gejala alam, seperti angin, hujan, cuaca, siang-malam, mendung, siklus air, bencana alam dan sebab akibat bencana alam bisa terjadi. Seperti bencana alam banjir atau tanah longsor maka kenalkan terlebih dahulu kepada anak-anak apa itu air, siapa penciptaNya, kemudian asal air, sifat air, guna air serta bahaya air.

   Karena bagaimanapun,  air, api, dan udara bila dalam situasi normal menjadi kawan tapi jika jumlahnya banyak atau besar maka akan menjadi lawan.  Jika air menjadi kawan maka air bisa berguna untuk banyak hal seperti untuk minum, mencuci baju-piring-kendaraan, mandi, dan lainnya. Jika air menjadi lawan, maka air dalam jumlahnya besar sehingga bisa mengakibatkan banjir, tanah longsor.

   Kemudian berdasarkan kurikulum PAUD, maka guru dapat menjelaskan bagaimana banjir dan longsor itu bisa terjadi, penyebabnya apa saja kemudian apa yang harus kita lakukan? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu sebisa mungkin dilontarkan guru atau guru dapat memancing agar anak bertanya seperti tersebut di atas. Inilah yang disebut dengan proses bertanya ataupun mengumpulkan informasi dalam proses saintifik.

   Pada kegiatan saintifik selanjutnya, yaitu menalar atau mengasosiasikan penyebab banjir atau tanah longsor. Ketika anak sudah mengetahui penyebabnya maka buat kesepakatan bersama agar mulai dari sekarang menjaga lingkungan agar tidak terjadi banjir atau longsor. Pada proses terakhir saintifik yaitu mengkomunikasikan, maka perlu sekali menyajikan berbagai karya yang berhubungan dengan lingkungan alam (hewan, tanaman, cuaca, tanah, air, batu-batuan, dll.) dalam bentuk gambar, bercerita, bernyanyi, maupun dan gerak tubuh.

   Sehingga, bencana alampun bisa menjadi pengetahuan baru bagi anak-anak dan harapannya akan menumbuhkan karakter positif dalam memelihara lingkungan alam dan sepatutnya menjadikan pelajaran bagi anak-anak usia dini bagaimana menjadikan alam sebagai kawan akan terhindar dari musibah .

sumber gambar : https://www.unicef.org.hk/

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar