Lindungi Anak Kita dari Kejahatan Siber

  AnggunPaud  –  Baru-baru ini, Poli Jiwa RSUD dr Koesnadi Bondowoso, Jawa Timur merawat dua siswa yang kecanduan penggunaan gawai dan laptop. Dua siswa itu pun sampai mengalami guncangan jiwa. Tingkat kecanduan kedua anak itu sudah tergolong parah. Bahkan salah satunya membentur-benturkan kepalanya ke tembok ketika sangat ingin menggunakan gawai, namun tidak diizinkan oleh orang tuanya.

  Keterikatan anak-anak dan remaja pada gawai sudah menjadi fenomena yang terjadi hampir di seluruh dunia. Di Indonesia penggunaan gawai sudah menyerbu hingga pelosok desa. Namun sayangnya, pemanfaatan  gawai masih sebatas untuk kepentingan hiburan mulai bermain game hingga bermedsos tanpa pemahaman yang cukup tentang literasi berinternet.

  Data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), pengguna internet di Indonesia tahun 2016 berjumlah 132 juta orang. Dari jumlah tersebut, hanya sekitar 30 persen pengguna yang telah menggunakan untuk kegiatan produktif. Kondisi yang lebih memrihatinkan terkait pemakaian gawai oleh anak-anak sejak usia dini karena ketidakpahaman orang tua dan orang dewasa akan bahaya membiarkan anak-anak memainkan gawai tanpa bimbingan.

   Orang dewasa yang membiarkan anak-anak bermain gawai tanpa pengawasan sama saja  telah membuka peluang ancaman yang lebih serius, tidak lagi sebatas anak kecanduan bermain gawai tetapi anak-anak menjadi sasaran kejahatan siber. Kejahatan siber merupakan isu yang penting saat ini sebab keluguan anak-anak kita sudah menjadi incaran pelaku kejahatan dalam bentuk eksploitasi dan pelecehan seksual terhadap anak-anak.     

  Kejahatan siber terjadi karena tanpa kita sadari anak-anak kita sudah sangat terpapar teknologi informasi di sekolah, di rumah  maupun di tempat lain. Para pelaku kekerasan seksual berasal dari negara-negara lain dan sering kali korbannya adalah anak-anak di negara berkembang karena ketidaktahuan dan juga kebutuhan ekonomi. Anak-anak  hanya diiming-imingi uang atau mainan dengan mudah tergoda untuk dieksploitasi.

   Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat kejahatan pornografi dan kejahatan siber terhadap anak meningkat dalam periode tiga tahun ke belakang. Komisioner KPAI Bidang Pornografi dan Cyber Crime Maria Advianti mengatakan, pada 2014 hingga 2016, setidaknya ada 1.249 laporan masuk. "Jumlah ini meningkat jika dibandingkan dengan data 2011-2013 yang hanya mencapai 610 laporan," ujar Maria.

    Peningkatan laporan pornografi dan kejahatan di dunia maya beriringan dengan besarnya jumlah anak yang menggunakan internet. Hasil riset UNICEF serta Kementerian Komunikasi dan Informatika yang dipublikasikan pada 2014, 30 juta anak dan remaja Indonesia intensif menggunakan internet. "Mereka secara intens lima jam sehari menggunakan internet," kata Maria.

    Kejahatan siber telah mengincar anak-anak sehingga menjadi keprihatinan tersendiri bagi Presiden Joko Widodo.  Presiden meminta agar anak-anak yang belum berusia 13 tahun tidak memiliki akun media sosial. Sebab hal itu demi menghindarkan pengaruh negatif. Apalagi, saat ini banyak bertebaran informasi-informasi yang mengandung konten negatif, sehingga dikhawatirkan dapat memengaruhi pola pikir anak-anak.

   Pemerintah telah mewacanakan pembatasan penggunaan gawai pada anak khususnya saat anak-anak berada  sekolah. Gawai hanya bisa digunakan atas seizin guru sekolah. Seperti untuk mencari bahan atau materi pembelajaran dari internet.  Selain itu, imbauan juga akan disampaikan kepada orang tua untuk ikut mendukung pembatasan pemakaian gawai saat anak sudah berada di luar lingkungan sekolah.*Kur2

sumber gambar :https://k12teacherstaffdevelopment.com

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar