Tiga Kata Ajaib Pengganti "Jangan"

      AnggunPaud - Semua kata-kata yang diterima anak sejak kecil akan sangat terekam di otak anak sampai anak itu beranjak menjadi dewasa. Terutama periode umur 2 sampai 5  tahun. Mengapa? Karena pada fase inilah adalah masa eksplorasi bagi anak. Pada fase ini anak seperti seorang penjelajah yang memaksa anak untuk ingin tahu banyak hal sehingga anak pada fase ini menjadi fase anak menjadi sosok aktif.

     Oleh karena itu, pada fase ini menjadi fase yang sangat baik bagi anak untuk merangsang pengetahuannya. Seperti dalam teori yang diutarakan oleh Erik Erikson mengenai perkembangan psikososial anak bahwa pada masa ini adalah adalah masa penting membangun sikap kemandirian untuk mengekspresikan pikiran dan tindakan (autonomy) anak, serta membangun sikap penuh inisiatif dan kreatifnya.

   Semuanya ini adalah pondasi penting untuk memupuk rasa percaya diri anak. Namun sayangnya banyak orang tua yang tidak memahami bahwa pada fase ini anak sedang berperan sebagai penjelajah yang ingin serba tahu. Sehingga banyak orang tua yang melarang anak untuk melakukan sesuatu. Dengan mengatakan kata “Jangan!” pada anak. Akibatnya anak pun menjadi tidak jadi melakukan hal yang ingin anak perbuat. Tentu hal ini akan berdampak negatif pada perkembakan psikososial pada anak.

    Anak dapat menjadi sosok penakut, tidak mau mencoba melakukan hal-hal baru, tidak mau berpendapat, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, sebagai orang tua tentu tidak mau mendapati anaknya menjadi sosok yang penakut, tidak mau mencoba melakukan hal-hal baru, tidak mau berpendapat, bukan? Nah, berikut ini ada beberapa kata ajaib yang bisa dilakukan orang tua untuk tidak mengatakan “Jangan!” kepada anak.

Pertama, “Ayo.” Kata “Ayo” menjadi pilihan kata yang lebih baik dari pada kata jangan. Orang tua dapat mengganti kata “Jangan” kepada anak dengan kata “Ayo.” Misal, anak sedang bermain bola di ruangan yang banyak benda-benda kaca. Orang tua bisa melarang si anak bermain dengan menggunakan kata Ayo, “Ayo main bolanya di halaman ya! Biar bolanya bisa melaju kencang.”

Kedua, “Kalau.” Kata “Kalau” dapat dipilih orang tua mengganti kata jangan. Misal sebagai contoh, si anak mencoret-coret tembok rumah dengan crayon. Sehingga rumah nampak tidak rapi. Sebagai orang tua tentu ingin melarang si anak melakukan kegiatan tersebut. Nah, orang tua bisa mengatakan ini kepada anak, “Kalau mau coret-coret di kertas ya! Pasti gambarnya akan lebih bagus!”

Ketiga, “Mau pilih yang mana?”. Kalimat ini menjadi kalimat agar anak dapat menentukan pilihan atas perbuatan yang dilakukan. Di sini peran orang tua adalah menentukan beberapa kata pilihan untuk anak. Sebaga contoh, si anak menangis karena menginginkan sesuatu. Tentu ketika melihat anaknya menangis orang tua ingin segera anaknya berhenti menangis. Nah, untuk mengatasi keadaan demikian, orang tua dapat menggunakan kata “Mau pilih yang mana?” sebagai penganti jangan. Misalnya, “Diam ya, nanti ibu berikan sesuatu. Mau es krim atau mau permen?”.

Ketiga kata ajaib di atasa dapat digunakan orang tua sebagai penganti mengatakan “Jangan” pada anak. Yang mana ketiga kata tersebut tentu akan lebih baik digunakan.

sumber gambar : https://www.rd.com/advice/parenting/worst-parenting-tips/

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar