Kiat Mengatasi Anak Pemalu

Suatu hari Dewi, seroang ibu muda, mengajak Bella, anak tunggalnya yang berusia 3 tahun berekreasi bersama teman-temannya dalam acara Happy Family kantor tempat Dewi bekerja. Dalam acara ini banyak anak lain seusia Bella yang ikut acara ini dan terlihat sedang berkumpul, bermain, dan saling bercanda. Namun tidak dengan Bella, yang tidak mau beranjak menghampiri teman-teman seusianya, apalagi bermain bersama. Bella terus menempel di badan ibunya, meski ibunya sudah menyuruh Bella untuk bergaul dengan teman lain.

Keadaan ini sering Dewi alami saat mengajak Bella bertemu dengan orang lain. Keadaan di sekolahpun demikian. Menurut bu guru, Bella tergolong anak yang sangat pemalu. Bella jarang sekali terlihat bermain dengan teman-teman lain. Bella selalu menarik diri bila diajak bermain oleh teman-temannya. Bella lebih senang bermain sendiri tanpa orang lain. Sebagai seorang ibu, Dewi sering merasa khawatir dengan sikap Bella yang sangat pemalu dan tidak mau bergaul dengan teman-temannya. Dewi bahkan menyalahkan dirinya sebagai ibu rumah tangga yang selama 24 jam selalu bersama Bella.

Sebagai orang tua, kita bisa mencoba kiat di bawah ini untuk mengatasi anak yang pemalu, agar kelak anak-anak kita lebih menikmati hidup.

Pertama, hindari memberi label anak, “Dasar pemalu kamu”, apalagi sampai mengatakannya ke orang-orang, “Anak saya ini sangat pemalu”. “Lihat itu Dik, anak lain nggak ada yang malu, kalau kamu bisanya cuma nempel bunda terus!”. Hindari mengucapkan kata-kata tersebut di depan orang lain, karena hal ini akan membuat anak kita merasa dibanding-bandingkan dengan orang lain, sehingga dia merasa Anda lebih menyukai anak lain dibandingkan dirinya.

Kedua, hati-hati dengan kalimat larangan. Bila anda mengajak Anak anda berjalan-jalan di luar rumah, ke arena permainan anak misalnya, hindari melarang anak dengan perkataan, “Jangan jauh-jauh nak, nanti hilang!”, "Awas jangan dekat-dekat nanti kamu jatuh!” Sebaiknya Anda memberi kesempatan kepada anak saat anak sedang mengamati sekelilingnya, agar tumbuh rasa keberanian pada diri anak dan memupuk rasa percaya diri pada anak.

Ketiga, pahami reaksi yang membuat anak itu malu. Anak yang pemalu cenderung mempunyai perasaan tidak nyaman dengan keadaan yang membuatnya malu. Orang tua hendaknya mampu mengetahui keadaan anak. Orang tua bisa berkomunikasi dengan anak pada saat santai berdua dengan anak, tanyakan apa yang membuatnya malu. Setelah anak mau mengungkapkan apa yang membuatnya malu, orang tua bisa memberikan solusi agar di lain waktu anak dapat mengubah sedikit demi sedikit sifat pemalunya itu.

Keempat, beri pujian kepada anak, baik pada saat sendiri maupun di hadapan orang lain, saat anak sudah berani berinteraksi dengan orang lain dan menghindarkan rasa malunya, agar anak terus percaya diri yang secara tidak langsung sedikit demi sedikit menghilangkan sikap malunya.

Kelima, seringlah anak diajak berkunjung dan bertemu banyak orang. Ajari cara mengucap salam dan bersikap ramah bila bertemu orang, atau bisa juga dengan berjabat tangan. Libatkan juga anak ke dalam berbagai kegiatan bersama teman-temannya baik di rumah maupun di sekolah.

Keenam, terimalah anak Anda apa adanya. Anak dilahirkan dengan kondisi, dan kemampuan yang berbeda-beda. Bisa jadi sikap anak yang pemalu merupakan bawaan anak sejak lahir. Umumnya rasa malu anak usia 3 tahun lambat laun akan berkurang sejalan dengan bertambahnya usia dan pengalaman anak. Jadi sebagai orang tua hendaknya memaklumi sikap anak yang pemalu, tidak perlu khawatir dengan sikap anak yang masih nempel terus dengan Anda. Tetaplah beri semangat kepada anak dengan motivasi dan dorongan serta bimbingan untuk mengubah perilaku anak dari yang pemalu menjadi supel dalam bergaul. *

Siti Munfarijah, pengelola TK Diponegoro 146 Kalibogor; Pegiat Literasi di TBM Mekar Ilmu

Sumber gambar: http://www.al-maghribicendekia.com/2015/12/ciri-ciri-anak-pemalu-yang-harus.html

 

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar