MENYONGSONG INDONESIA EMAS 2045 TANPA GIZI BURUK

     AnggunPaud - Presiden Joko Widodo tidak ingin ada anak Indonesia menderita gizi buruk  sebab kondisi tersebut  akan berdampak pada kegagalan anak dalam mencapai  tinggi badan normal atau biasa dikenal dengan istilah stunting .

     Stunting  adalah  kondisi  gagal  tumbuh  pada  anak  balita  akibat  kekurangan gizi  kronis sehingga berakibat  anak  tersebut  terlalu  pendek  untuk  seusianya.

    Presiden bertekad  untuk menempatkan masalah gizi buruk pada prioritas untuk  segera  ditangani secara berkelanjutan . "Pemerintah secara konsisten melakukan intervensi untuk mengurangi dampak kekurangan gizi kronis yang berakibat pada kegagalan dalam mencapai tinggi badan yang normal pada bayi atau stunting,"  kata  Presiden dalam suatu kesempatan.

   Saat ini, Indonesia berada sebagai negara dengan pendapatan menengah dan menurut Presiden seharusnya kasus gizi buruk adalah masa lalu bangsa Indonesia.

   Presiden  ingin agar anak-anak disiapkan untuk menghadapi Indonesia Emas 2045. Gilang-gemilangnya Indonesia pada masa depan itu bisa dijamin bila kualitas anak-anak Indonesia sekarang dijaga. Bila bisa konsisten, pada 2045 Indonesia akan berada pada posisi lima besar negara dengan ekonomi terbesar di dunia.

   Problem kesehatan , seperti  angka kematian ibu dan anak, angka kurang gizi, dan penyakit yang masih ada yang terjadi  dalam  beberapa  waktu terakhir  harus dituntaskan agar mulus menuju  Indonesia Emas 2045.

   Intervensi  yang  sudah dilakukan,  antara lain melalui Kartu Indonesia Sehat  dimana masyarakat miskin bisa mendapat pelayanan kesehatan hingga makanan bergizi bagi anak untuk mencegah stunting. Hal ini, mengingat seribu hari pertama kehidupan akan sangat mempengaruhi tumbuh kembang anak, terkait dengan kemampuan emosional, sosial dan fisik, serta kesiapan untuk belajar, berinovasi  dan berkompetisi.

   Sebagai upaya mengatasi kurang gizi, pemerintah berencana meningkatkan program gizi seimbang serta menyiapkan total anggaran sekitar Rp60 triliun untuk 12 kementerian/lembaga yang terlibat penanganan stunting. Saat ini tengah dirumuskan mengenai konsep gizi seimbang yang sederhana dengan mempertimbangkan makanan lokal yang ada di setiap wilayah Indonesia untuk mengupayakan pemenuhan gizi pada anak.

  Menko PMK Puan Maharani menjelaskan kerangka penanganan stunting terbagi menjadi dua, yaitu intervensi gizi spesifik dan intervensi gizi sensitif. Kedua hal ini membutuhkan kerja sama pemerintah pusat dengan peran pemda dalam bentuk edukasi dan sosialisasi, makanan tambahan, suplemen, imunisasi, infrastruktur air bersih, infrastruktur sanitasi, dan bantuan keluarga miskin.

   Pemerintah telah mengusulkan lokasi intervensi gizi terintegrasi di 100 kabupaten/kota yang telah teridentifikasi. Kriteria lokasi merupakan komposit dari indikator prevalensi stunting tinggi, jumlah anak balita banyak, dan tingkat kemiskinan tinggi.

   Data pemantauan status gizi pada 2016 menunjukkan jumlah balita stunting mencapai 27,5 persen. Rinciannya, sangat pendek 8,5 persen dan pendek 19 persen. Sedangkan target Badan Kesehatan Dunia (WHO) adalah di bawah 20 persen.

    Kasus balita stunting ditemukan di sebagian wilayah Indonesia, terutama di wilayah Nusa Tenggara, Sulawesi, Kalimantan, dan Papua. Padahal di wilayah-wilayah tersebut  protein hewani dari ikan mudah didapatkan.  Masalah stunting merupakan masalah serius . Perlu kemauan dari masyarakat untuk berubah dan memikirkan nasib generasi mendatang.* KUR2

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar