Cara Membentengi Anak dari Pengaruh Negatif Lingkungan

Dalam keseharian tentunya kita sering menemui berbagai macam sifat dan karakter anak. Ada yang aktif, ada yang pendiam, pemalu, penurut dan banyak lagi. Bagi sebagian orang tua, memiliki anak yang penurut adalah hal yang sangat membanggakan. Tapi tahukah anda, bahwa kita juga harus waspada dengan anak-anak yang bersifat cenderung penurut?

Anak penurut bisa berarti positif di mana si anak telah paham konsep konsekuensi diri dan lingkungan, sehingga ia bisa mematuhi peraturan. Bisa juga bermakna negatif, karena dia tidak punya keberanian untuk bertindak alias takut. Banyak kejadian tindak kekerasan (bullying) dan tindakan asusila yang menghantui lingkungan pertumbuhan anak-anak jaman sekarang. Di sini anak perlu dibekali dengan kemampuan untuk bersikap dan mengatakan "tidak" untuk menghindari hal-hal negatif.

Anak-anak berusia dini membutuhkan ruang tumbuh yang luas agar dapat terhindar dari dampak negatif lingkungan. Bukan hanya untuk bereksplorasi secara fisik, juga eksplorasi psikis. Terkadang orang di sekitar mereka belum mampu menyediakan waktu dan tenaga untuk menemani anak-anak mengeksplorasi psikisnya. Untuk itulah, orang tua dan pendidik harus waspada dan harus bisa memenuhi hak anak untuk mengeksplorasi psikisnya. Bagaimanakah caranya?

Pertama, kenalkan anak dengan konsep diri. Hal ini meliputi informasi yang tepat tentang siapa pencipta kita, siapa orang tua kita, siapa keluarga kita. Mungkin bisa dibuatkan ilustrasi dengan menggunakan gambar pohon keluarga. Lalu tanamkan sejak dini pada anak bahwa dia adalah mahluk istimewa dengan kemampuan yang istimewa juga. Hal ini akan membuat anak menghargai dirinya sendiri dan meningkatkan rasa percaya diri.

Kedua, kenalkan anak dengan konsep hak milik. Harus sudah mulai ditanamkan pada pikiran anak, mana yang menjadi hak miliknya, mana yang menjadi hak milik bersama, mana yang merupakan hak milik orang lain. Tidak perlu terlalu berat dalam mengajarkan konsep ini. Dalam bentuk permainan, saat makan bersama, saat main bersama, konsep ini dapat mulai ditanamkan.

Ketiga, kenalkan anak dengan konsep tanggungjawab. Ada sebagian orang tua yang bertanya-tanya, masih kecil kok sudah disuruh bertanggungjawab? Tanggungjawab di sini dalam artian anak dikenalkan dengan proses sebab akibat. Beri kesempatan pada anak untuk bisa memilih, dan sebelumnya jelaskan dulu sebab akibat dari masing-masing pilihan tersebut.

Keempat, ajak anak mengenal berbagai lingkungan lain di luar lingkungan rumah seperti ke pantai, ke pasar, ke perkantoran dan lain-lain. Di sini kita bisa memasukkan informasi-informasi kepada anak seputar lingkungan tersebut. Selalu ingatkan dengan konsep diri. Bagaimana kita harus berlaku di tengah lingkungan. Anda bisa memasukkan cerita adab-adab kesopanan. Dan menjelaskan jika terjadi hal yang tidak sesuai adab, segera beritahu orang tua.

Kelima, berikan waktu Anda untuk mendengar cerita dan bermain bersama anak. Pancing agar anak dapat mengemukakan pendapatnya. Jadikan ia pemimpin saat bermain bersama. Hargai saat ia membuat pilihan. Ciptakan komunikasi dua arah dengan anak. Hendaknya orang tua juga fokus kala bermain bersama mereka. Dalam hal ini, selain anak berani mengemukakan pendapat, orang tua dan pendidik harus memberi wadah untuk anak menunjukkan dirinya. Beri anak kesempatan menunjukkan kesukaannya, hobinya, kemampuannya dan beri apresiasi. Anda bisa mengikutsertakan anak pada sebuah pertunjukan pentas seni, pertunjukan olahraga atau bahkan ikut serta dalam perlombaan dengan tujuan sebagai wadah mengapresiasi diri anak.

Keenam, selalu beri label positif pada anak, agar tumbuh rasa percaya dirinya. Enam hal tersebut semoga dapat membantu anak dalam mengeksplorasi psikisnya, sehingga ia dapat menjaga diri dan berani berbicara mengatakan “Ya” atau “Tidak” pada tempatnya. Dengan kemampuan ini setidaknya anak bisa menjaga dirinya sendiri dan dapat terhindar dari bahaya kekerasan yang  menghantui lingkungan sekitar. *

Sumber gambar: https://teen.kapanlagi.com/girls/pubertas/pengaruh-negatif-broken-home-bagi-remaja-564cba.html

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar