Cara Mendorong Anak Membaca Buku

Setiap kali pulang ke rumah setelah bekerja, saya selalu menyalami anak-anak saya. Selesai bersalaman, salah satu pertanyaan yang saya ajukan adalah, “Sudah baca berapa buku hari ini?” Serentak anak-anak saya akan menjawab bergantian, “Mafi, lima cerita, yah!” Adiknya melanjutkan, “Nera, dua yah!”, dan tidak mau ketinggalan, “Zaka, satu yah. Tapi belum kelar!”

Jika sudah menjawab demikian, saya selalu memeluk mereka, dan berbisik, “Jika sudah dua puluh buku yang dibaca, maka ayah akan membelikan hadiah!” Serentak ketiga anak saya akan berteriak kompak, “Asyik! Hadiah!” Kemudian mereka kembali melanjutkan aktivitasnya masing-masing.

Ya, pertanyaannya kemudian adalah apa perlunya kita menanyakan pada anak soal apakah hari ini mereka sudah membaca buku? Atau berapa buku yang sudah dibaca hari ini? Bagi saya perlu, bahkan sangat perlu. Sebab pertanyaan kita pada anak soal itu memiliki tiga makna penting.

Pertama, pertanyaan itu menunjukan perihal membaca sebagai dunia yang disukai oleh orang tua. Jika orang tua suka dengan sesuatu, anak-anak pun memahami bahwa dirinya akan dituntut untuk menyukai seperti apa yang disukai orang-tuanya. Ini hal naluriah yang niscaya terbentuk dalam keluarga. Sama halnya dengan jika orang tua tidak menyukai sesuatu, maka anak-anak kita dituntut untuk tidak menyukai itu. Jika anak-anak melakukan itu, maka orang tua akan melarangnya. Sehingga, anak-anak paham tentang dunia yang tidak disukai orang-tuanya. Begitu juga dengan membaca. Semakin sering ditanya soal membaca, anak-anak semakin memahami bahwa dunia orang-tuanya adalah membaca. Anak-anak dengan sendirinya akan mengikuti orang-tuanya. Akan terbentuk kesadaran bahwa membaca adalah kebiasaan dalam keluarga yang harus dibina. Ini akan membangkitkan minat baca pada anak yang kuat.

Kedua, pertanyaan ini menunjukkan satu peringatan. Ya, pasti kita menyadari bahwa sekalipun membaca adalah hal yang mudah, tetapi godaan untuk tidak membaca pasti banyak dan berat. Mulai dari rasa malas atau banyak kegiatan. Inilah keadaan yang membuat semangat membaca perlahan-lahan hilang, tidak terkecuali pada anak-anak. Dunia bermainnya yang selalu menyenangkan sering membuat lupa pada kegiatan membaca buku. Untuk itu, pertanyaan soal membaca dari orang tua akan mengingatkan anak-anak untuk tidak terlena dengan kegiatan lain. Maka, saat orang tua bertanya, “Sudah membaca hari ini?” atau “Hari ini baca berapa buku?” Anak yang belum membaca akan tersenyum bingung dan malu. Dan anak-anak biasanya akan tersadar untuk membaca buku.

Ketiga, pertanyaan ini menunjukkan perhatian dan rasa sayang orang tua pada dunia pengetahuan anak-anak. Kasih sayang orang tua tak mesti harus diungkapkan dengan hadiah atau kata pujian. Tapi, pertanyaan juga menunjukkan suatu kasih sayang. Saat orang tua sayang dengan anaknya, pasti orang tua akan selalu bertanya, “Sudah makan belum?” atau “Sudah mandi belum?” Itu karena orang tua ingin anak-anaknya sehat dan bersih.

Di sinilah, kita tahu bahwa tidak ada alasan untuk tidak sering bertanya setiap hari pada anak soal: sudah membaca belum? atau sudah baca buku apa hari ini? Sebab melalui pertanyaan-pertanyaan itulah, kita sedang menyiapkan anak-anak menjadi generasi pembaca yang cerdas dan pintar. Kita sudah tidak punya alasan untuk tidak bertanya, “Nak, sudah membaca hari ini?” dengan nada lembut penuh perhatian, sebab dari pertanyaan itu anak-anak kita akan tahu bahwa membaca itu penting. *

Heru Kurniawan, pendiri Rumah Kreatif Wadas Kelir.

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar