Menanamkan Karakter Butuh Proses

     AnggunPaud -  Dalam pendidikan berlaku efek tunda (delay effect), yaitu semacam jarak/interval antara sebuah pengetahuan yang dipelajari dengan efek positif yang disebabkan oleh pengetahuan tersebut. Artinya, segala sesuatu yang kita ajarkan kepada anak, baik berupa ilmu pengetahuan atau nilai-nilai hidup, belum tentu akan langsung berimplikasi saat itu juga. Bisa jadi effect dari apa yang kita ajarkan memerlukan proses yang tidak sebentar.

    Hal ini harus dipahami oleh para pendidik, baik orang tua ataupun guru. Sebab, seringkali kita mendengar keluhan seorang guru yang merasa lelah dalam membimbing muridnya lantaran sang murid “tidak mau” untuk diarahkan. Padahal yang sesungguhnya terjadi adalah bukan sang murid yang tidak mau diarahkan, tapi dia hanya butuh proses untuk dapat benar-benar memahami arahan dari guru tersebut.

    Pendidikan adalah sebuah proses. Karakter dan kepribadian seorang anak tidak mungkin terbentuk secara tiba-tiba. Perlu waktu panjang untuk membentuknya. Dalam agama, kita diperintahkan untuk mengajarkan salat kepada anak-anak kita pada usia 7 tahun. Kemudian, kita diperintah untuk memberikan teguran jika anak belum mau melaksanakan salat pada usia anak 10 tahun. Apa artinya? Artinya, ada interval waktu sekitar tiga tahun dari proses mengajarkan sampai memberi teguran. Interval waktu itulah yang disebut sebagai proses.

    Mendidik tidak bisa sekali jadi. Mendidik memerlukan kesabaran, keikhlasan, dan konsistensi. Inti dari pendidikan adalah membentuk karakter positif pada anak. Pendidikan karakter tidak bisa dimulai dari teori / pengetahuan tentang karakter itu sendiri, tapi justru harus dimulai dari memberikan teladan. Bukankah setiap anak cenderung lebih mudah meniru dari apa yang dilihat daripada apa yang didengar?. Setidaknya ada lima langkah yang harus ditempuh secara sistematis oleh seorang pendidik dalam mengajarkan karakter kepada anak.

Pertama, memberikan teladan dengan contoh pada perilaku nyata sehari-hari. Sebab, orang yang tidak memiliki apapun tidak bisa memberikan apapun. Untuk dapat mengajarkan karakter, seorang pendidik juga harus berkarakter. Misalnya dalam mengajarkan anak untuk taat melaksanakan salat lima waktu. Dalam hal ini, orang tua harus sering terlihat oleh anak ketika sedang melaksanakan salat. Meskipun sang anak tampak seperti tidak begitu memperhatikan, sebenarnya Ia sedang merekam apa yang Ia lihat di dalam memori bawah sadarnya.

Kedua, pembiasaan. Tahap ini mungkin memerlukan waktu yang cukup lama. Sebab, membiasakan berarti mengulang-ulang sebuah pengalaman sehingga seorang anak menjadi terbiasa melakukannya.

Ketiga, mengajarkan pengetahuan. Dalam hal disiplin salat, ketika anak sudah mulai terbiasa melakukannya dalam kehidupan sehari-hari, maka pada saat itulah orang tua atau pendidik perlu mengajarkan pengetahuan tentang mengapa kita harus melaksanakan salat lima waktu. Jadi, pengetahuan justru berada pada urutan ketiga setelah memberi teladan dan membiasakan.

Keempat, melakukan kontrol. Setelah anak mengetahui alasan mengapa sesuatu harus dilakukan, maka orang tua harus melakukan controling. Lagi-lagi, proses controling ini juga tidak sebentar. Dalam contoh mengajarkan salat, proses controling diberi waktu sekitar tiga tahun.

Kelima, memberi sanksi. Jadi, pemberian sanksi ketika seorang anak melakukan sebuah kesalahan dilakukan pada bagian akhir setelah pendidik melakukan empat langkah sebelumnya. Dan akhirnya, membangun karakter anak adalah jalan panjang yang harus dilalui oleh setiap pendidik. *

*Fahri Hidayat. Penulis adalah dosen pada Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) IAIN Purwokerto

sumber gambar: www.youtube.com

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar