PAUD Butuh Peran Ayah

Banyak orang hanya berfikir kalau PAUD itu hanya urusan ibu-ibu saja, dan itu salah besar. harusnya lebih banyak lagi ayah-ayah yang masuk. Hal tersebut disampaikan Direktur Pembinaan PAUD, R. Ella Yulaelawati R., M.A. Ph.D pada kegiatan “Seminar Sosialisasi dan Pelatihan Kurikulum 2013 PAUD” yang dilaksanakan Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI) DKI Jakarta  (Jakarta, 29/08/2018).

Menurut Ella Yulaelawati, karena dengan hanya menitipkan kepada ibu-ibu, terjadi feminisasi dalam PAUD. Terlalu masuk budaya perempuan. Budaya perempuan itu permisif. Budaya perempuan itu memanjakan anak laki-laki. Selain itu, ibu-ibu kadang kurang memperbaiki atau memperhatikan permainan luar ruang. Prosotan, ayunan, dan lain seterusnya kadang dibiarkan berkarat. Kalau saya ke PAUD pertama kali saya lihat prosotannya yang dari besi ada berkaratnya dan itu bisa melukai anak, bisa tetanus karena karatnya.

Lalu kadang anak laki-laki itu senang berdebat, senang ribut, senang berantam, senang guling-guling. Tetapi di PAUD yang sempit arealnya  dan tidak ada ruang untuk anak laki-laki banyak kursi dan bangku. Anak laki-laki itu sesuai kodratnya lebih lambat perkembangan sel-sel otaknya, untuk itu otaknya yang harus dilatih. Kalau anak perempuan memang otaknya cepat berkembang, kalau diberi calistung (baca, tulis, berhitung) bisa terima. Kalau anak laki-laki batinnya berontak tidak betah karena terlalalu feminim pembelajaran, terang Ella Yulaelawati.

Selanjutnya menurut Ella Yulaelawati, karena terlalu kebanyakan perempuan, seragam selalu biasanya warnanya merah, sudah pink warnanya pink muda pulai. Kemudian ada pembalajaran bermain peran kerumahtanggaan, tamu-tamuan, tapi tidak ada alat perkakas. Ada doker-dokteran alatnya kecil. Paling yang ada seragam polisi, tentara,  tetapi hanya itu saja ruang untuk laki-laki. Ruang untuk laki-laki hanya prosotan, ayunan, baju profesi tentara, lalu pemadam kebakaran, selebihnya semaunya  didominasi perempuan.

Main peran jangan terlalu feminim. Tolong alat pertukangan lebih banyak lagi, karena saat ini terlalu banyak anak laki-laki deman bekerja di salon. Bukan karena anak perempuan diinvasi. Terus terang kalau saya dirias kadang lebih percaya diri kalau dirias anak lak-laki. Bukan karena pekerjaan perempuan terinvasi, tapi jangan-jangan karena PAUDnya terlalu feminim, ujar Ella Yulaelawati.

 

Kemudian Ella Yulaelawati mengatakan menurut Heckman, bahwa anak perempuan lebih bertahan di PAUD yang berkualitas rendah, tetapi anak laki-laki dapat tersakiti. Jadi mohon bapak-bapak yang ada disini ajak lebih banyak lagi bapak-bapak, selamatkanlah anak laki-laki ini, untuk memperoleh PAUD berkualitas.

ini bukan berbicara gender, ini berbicara strategi pembangunan, karena memang banyak hal lebih banyak pemimpin laki-laki, maka dunia laki-laki pendidikan sejak dini harus lebih berkualitas. Jadi gender itu adalah issu laki-laki sekarang, bukan issu perempuan. Perempuan itu sudah berdaya, hanya diberdayakan oleh laki-laki yang kurang berpendidikan, jelas Ella Yulaelawati. (adrianto)

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar