Cara Membiasakan Sopan Santun

Kayra yang berumur 4 tahun sedang meniti lorong menuju perosotan pada bangunan permainan di sekolahnya. Tiba-tiba datang 2 orang anak yang lebih besar berteriak, "permisiii...!" Salah satu anak itu langsung duduk di sebelah Kayra yang sudah siap meluncur. Terlihat sedikit takut, Kayra terpaksa mundur untuk menghindari himpitan. Mereka bergantian meluncur mendahului Kayra.

Sekilas tampak tidak ada yang ganjil dari situasi ini, anak-anak itu pun sudah mengucapkan kata permisi. Umumnya, orang tua di rumah dan guru di PAUD sudah mengajarkan kata-kata bernilai sopan santun, bahkan sejak anak belum lancar bicara. Beberapa kata bernilai sopan santun ini seperti maaf, tolong, permisi, dan terima kasih. Kata-kata ini adalah kata istimewa karena mengandung konsep, makna, dan nilai budi pekerti yang menjadi dasar pendidikan karakter anak.

Menurut penelitian yang dilakukan ilmuwan bahasa, Nippold, Leonard dan Anastopoulos, anak-anak sudah mulai bisa memahami bersopan santun melalui penggunaan bahasa sejak umur 3 tahun. Penelitian ini menyimpulkan, perkembangan bentuk bahasa bernilai sopan santun yang digunakan anak erat hubungannya dengan kemampuan memahami perasaan orang lain.

Jadi sangat disayangkan jika tujuan kita mengajarkan kata-kata ini berhenti hanya pada 'agar anak lancar mengucapkannya'. Lancar mengucapkan tetapi tidak diikuti dengan perbuatan yang sesuai. Inilah yang terjadi pada situasi yang dialami Kayra. Dua anak yang menyerobot Kayra di perosotan sudah tahu bahwa mereka harus mengucapkan permisi ketika hendak lewat. Namun makna permisi adalah untuk meminta izin atau berpamitan, bukan untuk menyela antrean.

Begitu pula ketika kita mengajarkan anak berkata maaf. Jangan pernah meminta bahkan memerintah anak untuk buru-buru meminta maaf sebelum ia paham bahwa ia telah melakukan suatu kesalahan yang membuat temannya merasa sedih atau terluka perasaannya. Ajak anak membayangkan jika ia berada di posisi Kayra atau temannya. Kira-kira bagaimana perasaannya? Lalu tanya apa yang ia pikir bisa membuatnya merasa lebih baik jika ia berada di posisi tersebut. Tentu salah satunya adalah permintaan maaf yang tulus. Dengan begitu, kita sudah mengajarkan makna sekaligus rasa empati dan menghormati orang lain.

Menanamkan budi pekerti pada anak bukanlah satu pekerjaan yang bisa dilakukan satu kali saja. Layaknya menanam pohon kebaikan, setelah memberi benih yang berupa mengenalkan anak pada kata-kata bernilai sopan santun, tentu kita harus melanjutkannya dengan pembiasaan serta usaha mengajarkan makna serta perbuatan yang mengiringinya.

Kegiatan sehari-hari di PAUD adalah sarana bagi kita untuk mempraktikkan kesopanan bersama anak setiap hari dengan konsisten. Seperti yang dikatakan Lakoff, profesor ilmu bahasa dari Universitas California Berkeley, dalam teorinya sopan santun adalah komponen dasar dan utama dari kemampuan komunikasi seseorang. Oleh karena itu, kita sebagai orang tua dan guru PAUD mempunyai peran kunci dalam mendidik anak agar terampil berbahasa dan berperilaku santun. *

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar