Mewaspadai Perilaku Agresif Anak

    AnggunPaud - Beberapa waktu lalu, sebuah situs berita nasional memuat berita cukup mengejutkan, yakni menyebutkan, bahwa mengidolakan superhero bikin anak agresif. Laporan tersebut diambil dari sebuah penelitian di Amerika Serikat yang dilakukan dua kali terhadap 240 anak pra sekolah dan TK di empat lokasi di seluruh Amerika Serikat bagian barat yang menghasilkan bahwa anak yang mengidolakan superhero lebih berpeluang berada pada jenis fisik dan relasional.

    Lebih ironis lagi para orang tua lebih cenderung menyetujui dan mendukung rasa cinta anak terhadap superhero, dengan alasan praktis yaitu diharapkan anak bisa belajar untuk membantu orang lain. Nampaknya penyebab perilaku agresif anak semakin meningkat, belum lagi penyebab yang bersumber dari yang lain. Jika hal ini dibiarkan bukan tidak mungkin, perilaku agresif anak akan semakin meningkat dan akan banyak memakan korban.

    Potret kejadian di atas harus dijadikan refleksi kritis bagi keluarga terhadap perilaku anak, perkembangan anak dan pendidikan anak untuk tidak memberi ruang potensi melakukan perilaku agresif. Jangan sampai anak usia dini yang sedang mengalami golden age period mengalami gangguan perkembangan dan pendidikan anak. Keluarga sebagai wahana belajar saat di rumah harus senantiasa peka terhadap tayangan di TV, apakah tayangan tersebut memberikan dampak positif untuk anak atau sebaliknya menjadi bumerang bagi anak.

    Hal ini semestinya sudah tercium bagi keluarga tentang aroma bahaya pada tayangan yang memupuk perilaku agresi anak itu (superhero). Sebenarnya, superhero adalah tayangan yang membahayakan bagi perkembangan anak. Sebab, tayangan ini akan menumbuhkan perilaku agresif anak. Sementara perilaku agresif anak ini lah yang selama ini menjadi masalah besar bagi para guru karena dapat mengganggu pendidikan anak. Sebab perilaku agresif ini akan menurunkan tingkat konsentrasi belajar anak usia dini.

    Oleh karena itu, salah satu upaya konkret untuk mengatasi perilaku agresif anak yaitu peran keluarga dalam hal ini wahana belajar yang paling potensial bagi pendidikan anak perlu diperkuat. penguatan peran keluarga yang ditafsirkan sebagai rem untuk mengendalikan perilaku agresif anak. Tidak kalah penting, sekolah juga harus ikut berperan dalam mengatasi masalah ini, karena sekolah memiliki otoritas dan tanggung jawab penuh untuk pada saat anak dalam lingkungan sekolah. *

*Muchammad Arif Muchlisin - Guru di TKIT Sunan Averroes Sleman Yogyakarta

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar