Anak, Hadiah, dan Rasa

      AnggunPaud - Anak-anak dikenalkan pada hadiah sebagai pemberian di momentum khusus atau istimewa. Hadiah melengkapi peristiwa ulang tahun, lebaran, ingatan pertama sekolah, kenaikan kelas, atau prestasi kecil di keseharian. Hadiah juga menjadi semacam apresiasi kecil untuk memantik sikap baik, menghargai hal-hal sepele, menjaga pemberian, dan mengingat ketulusan. Namun dari banyaknya adegan memberikan hadiah, anak-anak sering mendapati kondisi bahwa hadiah selalu mewujud benda.

      Begitu seringnya melihat benda sebagai hadiah, orang dewasa terkadang luput mengajarkan tentang perasaan atau ekspresi hidup di balik pemberian hadiah. Anak-anak pun tidak merasa kehilangan atau resah saat benda yang sempat mampir sebagai hadiah justru mengalami kerusakan, terabai, atau hilang. Di novel anak apik garapan Sylvia Bishop dengan ilustrasi Ashley King berjudul Gajah Erica (2017), kita bertemu anak perempuan bernama Erica yang mendapatkan hadiah gajah di hari ulang tahun.

     Hadiah ini tentu tampak tidak masuk akal. Hadiah anak ayam, kelinci, kucing, atau anjing masih bisa diterima. Namun, Sylvia Bishop berhasil menampilkan sikap-sikap bertanggung jawab keseharian Erica atas hadiah. Gajah membuat Erica menjadi anak yang lebih mandiri, bertanggung jawab, penyayang, imajinatif. Erica dan gajah saling mencipta humanisme-pertemanan yang saling menjaga. Hadiah tidak semata menjadi kepemilikan material nan egoistik.

     Perasaan lebih terang hadir di cerita puitis Clara Ng yang dihimpun dalam Sejuta Warna Pelangi (2015) berjudul “Melukis Cinta” dengan ilustrasi garapan Maryna Roesdy. Seorang bocah bernama Lulu bertanya kepada ibunya, “Apakah cinta itu?” Ibu pun mengajak Lulu melukis cinta di atas kertas. Ibu mengatakan, “Cinta adalah titik-titik hujan yang jatuh dari langit. Bunga bermekaran dan kupu-kupu menari-nari di sekelilingnya. Pelangi melengkung indah dan kamu berkecipak-kecipuk di tanah basah.” Kertas hanyalah medium menyampaikan ilustrasi peristiwa-peristiwa sehari-hari sebagai penggambaran rasa cinta.

      Lulu mengingat hal paling biasa, tapi sungguh bermakna, “Saat aku gembira dan sedih. Mama memeluk dan menciumku. Mama mengatakan semuanya akan baik-baik saja sehingga aku dapat tidur dengan aman sampai pagi tiba. Cinta adalah hadiah terbesar yang saling diberi dan diterima umat manusia dalam hidupnya. Cinta mewujud dalam tindak yang sering tidak terencana, spontanitas terbit sebagai ekspresi berbagi kebahagiaan kecil di waktu-waktu yang sanggup menghimpun banyak kenangan.

    Apa hadiah terbaik yang tidak habis terberikan? Barangkali seperti yang diceritakan oleh Clara Ng: Cinta. Satu hal tidak harus terkatakan, terwujud dalam tindak, pikir, dan doa. Satu rasa yang penting, tapi rentan lupa saat benda-benda digadang lebih mewakili atau justru melampaui perasaan cinta yang tidak termateri. Kita memang sangat sering butuh benda sebagai jelma hadiah. Perasaan manusialah yang membuat hadiah menjadi sedemikian hidup dan bermakna.

     Hadiah menyampaikan perasaan-perasaan dari lubuk terdalam batin diri. Maka meski tidak ada benda mewujud, hadiah ada sebagai perasaan sayang dan penuh kasih. Kita tidak hanya mengajari anak memilih atau memberi hadiah terbaik, tapi juga mengajari memberikan rasa yang tidak harus didefinisikan dengan nominal.*

Sumber gambar : www.sliptalk.com

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar