Ajari Anak Mengenali Emosi dan Perasaan Sejak Dini

    AnggunPaud - Anak-anak adalah sosok yang paling ekspresif ketika mereka meluapkan emosi. Tetapi anak-anak tak tahu, emosi bisa menggugurkan atau bahkan mematahkan minat mereka pada belajar. Mereka bukanlah kita yang memiliki pengetahuan cukup bila emosi menghancurkan semuanya. Sebaliknya, perasaan yang tenang, santai, akan memudahkan serta mendorong mereka lebih baik dalam menyerap pelajaran.

    Ibu, atau ayah, adalah sosok pertama yang mengenalkan mereka (anak-anak) bagaimana menjaga emosi serta perasaan mereka. Melalui pelukan, belaian, pujian, hingga pemberian batas-batas, anak belajar tentang bagaimana mengontrol perasaan hingga ritme emosi mereka. Bahkan sejak bayi keluar dari rahim, ibu memberikan stimulus-stimulus serta rangsangan yang terus-menerus agar bayi mengenali, serta mengekspresikan perasaan-perasaan mereka.

    Tertawa, menangis adalah bagian paling awal yang bisa kita kenali dari ekspresi manusia saat memiliki perasaan sedih, atau gembira. Begitu pula saat mereka berusia 6-12 bulan, mereka sudah bisa meluapkan emosi dengan menunjukkan ekspresi geram. Sedangkan saat di sekolah PAUD, guru-gurulah yang mendidik serta membimbing mereka mengontrol perasaan dan emosi mereka.

    Mengapa emosi dan perasaan anak penting untuk dikendalikan?. J.Donald Walters menulis di bukunya berjudul Education For Life (2004) : Anak-anak perlu belajar bagaimana bereaksi secara tepat. Mereka tidak pernah mampu melakukan hal ini jika reaksi mereka berasal dari emosi subjektif. Sedikit sekali sekolah-sekolah kita yang mengajarkan anak-anak kita melakukan brain gym (senam otak) yang mampu mengontrol, menyegarkan kembali fisik, serta menyeimbangkan antara pikiran serta otak kita.

    Pada saat itulah, perasaan-perasaan kita menjadi lebih tenang. Dengan mengendalikan perasaan-perasaan sedih, senang, serta kecewa mereka, anak-anak bisa terlatih mengekspresikan perasaan mereka tak berlebihan. Mereka belajar mengatur, mengontrol, serta menyadari apa yang mereka lakukan secara utuh. Mereka secara tak langsung belajar memahami diri, memahami lingkungan sosial mereka, serta bagaimana ekspresi mereka ketika berhadapan dengan orang lain, serta lingkungan sosialnya.

    Saat di sekolah, kontrol emosi ini membantu anak untuk terus tumbuh dan berkembang secara normal. Emosi yang tak wajar, berlebihan, hanya akan membuat mereka susah menerima pelajaran. Mereka perlu menghindari perasaan minder, tak disukai, hingga tak menyukai gurunya, atau teman-temannya. Disinilah peranan penting mengajarkan emosi dan perasaan-perasaan pada anak-anak kita.

    Perasaan tenang, serta kejernihan pikiran, dapat membantu memaksimalkan daya serap anak terhadap materi ajar. Sebaliknya, bila anak lebih terpancing pada emosi subjektif, maka konsentrasi belajar serta daya serap anak pada materi ajar menjadi kurang maksimal. Selain itu, hal ini juga bermanfaat kelak bagi kehidupannya di masa remaja, hingga dewasa saat ia berhubungan dengan lebih banyak orang dengan berbagai karakter dan sifat yang berbeda.*

Sumber gambar : cosmomom.net

*) Peminat Dunia Pendidikan dan Anak, Penulis Buku Ngrasani!(2016)

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar