Indonesia Peringkat 101 Dunia Tumbuh Kembang Anak

    AnggunPaud  - Indonesia berada di peringkat ke-101 sebagai negara yang memberi kesempatan bagi tumbuh kembang anak versi  lembaga Save The Children dalam laporan Childhood  Index  2017.  Peringkat  tersebut  menyimpulkan  bahwa  tidak  sedikit  anak di Indonesia kehilangan masa anak-anaknya.

   Di kawasan ASEAN, Indonesia berada di belakang Singapura (peringkat 33), Malaysia (peringkat 65) dan Thailand (peringkat 84) namun masih lebih baik daripada Myanmar  (112) , Kamboja (117) dan Laos (130).

   "Peringkat Indonesia tak terlalu  mengejutkan  mengingat  tingkat  jumlah  anak yang  tak melanjutkan pendidikan  di negara ini, terutama pada usia SMP yang merupakan  bagian  dari wajib belajar  Sembilan  tahun," kata Ketua  Pengurus  Yayasan  Sayangi Tunas Cilik Selina, sebagai mitra implementasi  Save the Children di Indonesia.   

    Laporan yang diluncurkan  bertepatan  pada  Hari  Anak  Internasional  itu  menyebutkan  Indonesia terindikasi  memiliki  14,3 persen anak  usia  sekolah  yang  tak  mengakses  pendidikan dasar, dan menengah.

    Data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2015 menyatakan bahwa  angka  partisipasi  sekolah  di Indonesia untuk  tingkat  SD  sebanyak 96,7 persen, SMP  sebanyak 77,82 persen dan  SMA sebanyak 59,71 persen.

    Sementara itu, data UNICEF pada 2016 menyebut sebanyak 2,5 juta anak Indonesia tidak dapat menikmati pendidikan dimana sekitar 600 ribu anak sekolah dasar dan 1,9 juta anak pada tingkat SMP. Menurut Selina rendahnya partisipasi sekolah ini salah satunya karena masalah kemiskinan yang belum dapat dientaskan.

    "Anak menjadi kelompok paling rentan dari kemiskinan, orang tua mengambil keputusan untuk memutus sekolah anaknya ketika keluarga tidak mampu menanggung biaya jenjang pendidikan lanjut," kata Selina.  Selain itu kemiskinan juga membuat anak terpaksa harus bekerja di usia dini untuk membantu keluarga dan juga anak dipaksa menikah pada usia dini.

    Di Indonesia, pada 2016 sebanyak 44,3 anak masih hidup di bawah garis kemiskinan, anak-anak ini lebih cenderung mengalami berbagai bentuk kemiskinan, terekslusi dari fasilitas layanan dasar dan karena itu lebih cenderung tertinggal di belakang.

    "Kesehatan yang buruk, konflik, kekerasan ekstrem, pernikahan anak, awal kehamilan, kurang gizi, tereksklusi dari pendidikan dan menjadi pekerja anak sehinggai masa kanak-kanak mereka berakhir terlalu cepat," tambahnya.

    Laporan tersebut juga membandingkan data dari 172 negara dan menilai di negara mana anak-anak paling banyak dan paling sedikit kehilangan masa kecilnya. Hasilnya Norwegia, Slovenia, Finlandia, Belanda, Swedia, Portugal, Irlandia, Islandia, Italia adalah negara yang berada di peringkat teratas.

    Sementara negara-negara yang menempati urutan 10 terbawah berasal dari benua Afrika, antara lain Guinea, Seirra Leone, Burkina Faso, Sudan Selatan, Chad, Somalia, Republik Afrika Tengah, Mali, Angola dan Nigeria.  Anak-anak yang berada di negara 10 peringkat terbawah memiliki kemungkinan paling kecil untuk sepenuhnya mengalami masa kanak-kanak.* Kur2

sumber gambar : www.esrngofoundation.com

 

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar