Berkenalan dengan Anak-anak Pembaca Buku

Di dalam buku-buku, misal novel, ada sejumlah anak yang bisa dijadikan teladan sebagai pembaca buku . Kisah dan kata-kata mereka bisa ikut menumbuhkan kecintaan anak pada kegiatan membaca buku. Sejak belia, kita diperkenalkan pada tokoh-tokoh di buku yang berbuat kebaikan, mencintai lingkungan, dan patriotis. Jika kebiasaan ini dilengkapi dengan pengenalan pada tokoh-tokoh pembaca buku tentu akan sangat positif. 

Novel legendaris A Little Princess (2015) yang terbit pertama pada 1904 oleh Frances Hodgson Burnett, menahbiskan seorang bocah bernama Sara sebagai penggandrung cerita. Saat-saat bersama cerita menjadi saat lebur dalam jalinan kata. Sara mengatakan, “Kisah-kisah itu tampak seperti hanya karangan belaka. Mereka lebih nyata dari kalian—bahkan lebih nyata dari ruang kelas. Aku merasa seolah-olah aku adalah orang-orang yang ada dalam kisah itu—satu demi satu. Aneh.”

Cerita tidak hanya membuat Sara bahagia, tapi melejitkan kemampuan berbahasanya sejak belia. Di Kanada, ada Anne Shirley tokoh cilik dalam Anne of Green Gables (2017) garapan Lucy Maud Montgomery yang pertama ditulis pada 1908. Anne adalah tipikal bocah yang amat ekspresif menerjemahkan sekitar dengan kata-kata puitis. Ia seorang yatim piatu, tapi memiliki imajinasi yang kuat untuk menolong diri dari kesulitan dan kesedihan hidup. Kata-kata canggih dari mulutnya berasal dari buku dan terutama juga berkat kecintaannya pada alam; pohon, bunga-bunga, musim, ranting.

Apa yang dirasa dan dibaca memang menentukan kualitas gizi bahasa seseorang. Penulis Jerman Cornelia Funke pun menampilkan Meggie dalam Tintenherz (2009) sebagai anak dari bapak buku. Sejak 3 tahun, Meggie sudah mendapat asupan kisah. Semakin bertambah umur, dia menjadi amat akrab dengan buku. “Buku-buku itu menggoda Meggie di meja makan saat sarapan dengan halaman-halamannya yang terbuka, mengusir kebosanan jauh-jauh, dan kadang membuat orang jatuh tersandung.”

Di rumah Meggie, tersedia buku-buku Pippi Si Kaus Kaki Panjang, Alice in Wonderland, Winnie the Pooh, The Jungle Book, Peter Pan, Petualangan Tom Sawyer. Pada usia sekitar 10 tahun, Meggie sudah merasa bahwa buku bagian dari hidupnya. “Buku-buku itulah yang membuat Meggie tetap merasa seperti di rumah ketika berada di tempat yang asing. Buku-bukunya adalah suara yang dikenalnya, teman-teman yang tidak pernah bertengkar dengannya, teman-teman yang kuat, berani. Bersama mereka Meggie mengenal dunia, mengunjungi berbagai tempat jauh, mengalami petualangan. Buku-buku menghiburnya ketika sedih, mengusir kejenuhannya ketika Mo menggunting kulit dan kain atau menjilid kembali halaman-halaman buku tua yang begitu rapuh karena usia dan tangan tak terhitung yang pernah membukanya.”

Tokoh-tokoh di dunia nyata yang membaca buku, tokoh pembaca dalam novel, dan para penulis menjadi teman yang membentuk biografi (bahasa) seseorang. Novel juga banyak yang menjadi rumah kata yang menghimpun istilah-istilah baru dalam alur cerita dan mengenalkan kata-kata yang sungguh amat baru sekaligus mengejutkan. Maka, mencintai buku, menemukan aneka bahasa, dan bereksperimen pada kata-kata bisa tercipta lewat teman-teman literer di halaman buku. Mereka teman-teman imajiner pembaca buku. *

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar