Cara Mendampingi Anak Menghadapi Suatu Masalah

Anak saya yang pertama duduk di bangku kelas 4 sekolah dasar. Suatu ketika, saat pulang sekolah, dia duduk dengan wajah murung. Saya mendekati dan duduk di sebelahnya. Saya bertanya, “Ada apa, Fi?”. Dia hanya diam dan menggelengkan kepala. “Apa kamu ada masalah?,” kata saya. Anak saya menjawab, “Tidak ada, Yah.” Kemudian dia masuk kamar, mengunci pintu, dan tinggal di dalam kamar selama berjam-jam.

Saya yakin dia pasti mempunyai masalah di sekolah yang membuatnya gelisah. Di sinilah saya harus berperan aktif untuk mengetahui dan ikut memberikan solusi atas persoalan yang membuat sedih anak saya. Dan yang saya lakukan ternyata efektif. Saya melakukan tiga langkah berikut:

Pertama, saya mengajak anak melakukan kegiatan yang disukainya. Saya menunggu anak saya keluar dari kamar. Saat anak saya keluar, saya langsung mengajaknya menonton film di bioskop, karena anak saya suka menonton film, dan kebetulan ada film animasi yang menarik. Kami pun berdua menonton film. Kami tidak membahas permasalahan yang sedang dihadapi anak saya. Tapi dengan kesenangan yang didapat anak saya saat menonton film sudah membuat saya senang. Anak saya sudah melupakan persoalan yang membuatnya sedih. Di sini terjadi pengalihan persoalan. Saat proses pengalihan persoalan sedang terjadi, kita sebagai orang tua jangan mengingatkan anak dengan persoalan yang dihadapi. Biarkan anak menikmati kesenangannya.

Kedua, saya melakukan pendekatan persuasif. Setelah kegiatan menonton film selesai, saya mengajak anak menikmati makanan kesukaannya, yaitu es krim. Saya mengajak anak saya ke tempat es krim kesukaannya. Saat sedang makan makan es krim, sambil berbincang santai, saya kemudian menanyakan persoalan yang membuatnya sedih. Anak saya pun menceritakan semua persoalan. Ternyata dia sedang merasa bersalah dengan temannya, karena lupa mengembalikan buku. Saya mendengarkan dengan saksama seluruh persoalan yang meresahkan hatinya. Saya berempati atas hal yang sedang dialaminya. Di sinilah saya melakukan pendekatan persuasif.

Ketiga, saya memberikan solusi yang bijak. Saat semua kegelisahan dan persoalan yang dialami anak sudah dicurahkan, saya pun memberikan solusi yang bijak. Saya mengajak anak untuk menemani dia menemui temannya dan meminta maaf atas kesalahannya. Anak saya setuju dan senang. Sampai akhirnya persoalan yang membuatnya sedih dapat diatasi.

Dengan ketiga cara ini, anak akan meyakini bahwa orang tua akan selalu ada dan membantu saat anak mengalami persoalan yang membuatnya sedih, sehingga anak pun semakin yakin bahwa orang-tuanya sangat meyayanginya, dan selalu siap membantu saat anak sedang mengalami persoalan yang menyedihkan hatinya. *

 

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar