Ibu dan Sains

Dalam kehidupan sehari-hari di rumah, ibu bisa berperan ibarat ensiklopedia. Ibu bisa menjadi ladang penampung pertanyaan dan sumber segala jawaban. Ketika anak memasuki masa penasaran dan pengenalan pada sekitar, anak memproduksi banyak pertanyaan dan seringkali tidak terduga. Pertanyaan, ini apa?, itu apa?, kenapa bisa?, atau bagaimana caranya? secara alami muncul dari anak sebagai ekspresi alamiah, tanggapan indera, dan rangsangan pikiran untuk memahami gejala alam sekitar.

Anak membutuhkan penjelasan untuk semua pertanyaan tersebut, karena itu ibu membutuhkan kecerdasan untuk menanggapi, paling tidak memberikan jawaban, dan bukannya malah menakut-nakuti, atau mendatangkan mitos dan hantu untuk menutupi ketidak-tahuan orang tua, sehingga si anak kapok bertanya. Seperti dalam fenomena gerhana bulan, cerita raksasa mencaplok bulan sering menjadi model pengalihan komunikasi ilmiah.

Di buku Emak (2005), kita bisa menelusuri bahwa pembentukan pengetahuan dan pekerti Daoed Joesoef tidak bisa lepas dari emak. Suatu hari, acara piknik ke pantai Daoed dan keluarga malah menjadi perngalaman mempelajari sains. Saat itu, emak mengatakan bahwa bumi itu bulat. Meski anak sebaya Daoed sudah mengetahui bahwa bumi itu bulat, namun toh mereka tidak pernah mencari pembuktian.

Emak Daoed adalah model ibu yang tidak hanya mengajarkan moral dan agama, Daoed pun mendapat penjelasan logis atas fenomena sains dari emak. Menjadi lumrah ketika Daoed mengatakan bahwa ilmu pengetahuan harus benar-benar dikaji dan dikembangkan. Manusia harus menggunakan akal (nalar) dan daya pikir untuk membuat sains itu bergerak.

Daoed Joesoef yang pernah menjabat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tahun 1978-1983 ini, akhirnya bisa merasakan kesempatan berkeliling dunia pada tahun 1967 dari Ford Foundation. Daoed bisa merasakan pergerakan bumi, dan bekal ini telah disiapkan oleh emak sejak Daoed masih berumur enam tahun.

Buku-buku sains ada di kehidupan sehari-hari kita dan mau tidak mau, ibu menjadi orang yang paling dekat saat anak berhadapan dengan sains sehari-hari. Anak bisa saja menyaksikan saat air mendidih, air mengalir, air membeku, awan bergerak, hujan turun, bunga mekar, daun gugur, matahari terbit, embun di pagi hari, kaki kesemutan, cegukan, atau gigi tumbuh.

Sebelum sains diajarkan di sekolah, ibu adalah guru pertama sains di rumah. Secara alamiah, anak itu dekat dengan ibu. Ini menjadi kesempatan ibu untuk membuat anak terbiasa berpikir logis, cerdas, dan ilmiah. Ibu juga mengajari anak cara bertanya. Ibu tidak sekadar memberi tahu anak tentang nama benda. Lebih jauh dan penting adalah penjelasan atas sistem kerja. Anak tidak sekadar bertanya ini “apa”, tapi juga “kenapa” atau “bagaimana”. Model pembelajaran sains harus memuat pejelajahan, artinya anak tidak berhenti mencari dan tidak cepat puas mengetahui jawaban.

Kita bisa mendapati kisah menakjubkan dari Richard Feynman, seorang genius dan nobelis fisika. Feynman mulai bergelut dengan sains sejak masih kanak-kanak. Memang bukan ibu yang menjadi peletak kecintaan Feynman akan sains, tapi ayah. Sejak kecil, Feynman selalu mendapatkan penjelasan dan cerita atas fenomena keseharian. Ayah Feynman menunjukkan pola-pola dengan permainan ubin sebagai dasar matematika, mengenalkan ensiklopedia atau buku-buku, pergi ke gunung, dan menjelajah hutan.

Di buku Feynman, Genius Fisika Paling Cool Sedunia (2006), Feynman mengatakan, “ayah sudah dari dini mengajariku tentang dunia dan betapa menariknya dunia ini.” Tentang ibu, Feynman mengatakan, “Aku belajar dari ibu bahwa bentuk tertinggi dari pengertian yang bisa kita raih adalah tertawa dan saling mengasihi sesama manusia.” Orang tua berhasil mengantarkan Feynman menjadi ilmuwan cerdas dan juga penjelajah alam yang sering takjub.

Hari ini, buku-buku sains populer telah banyak bermunculan. Pelbagai model buku entah berwujud uraian, komik, atau cerita bergambar menjadi loncatan progresif untuk mengerti sains. Kelengkapan ilustrasi pun menggerakkan imajinasi. Kita bisa menyebut buku-buku sains kehidupan sehari-hari garapan Robert L. Wolke, Kalo Einstein Lagi Cukuran, Ngobrolin Apa Ya?; Kalo Einstein Jadi Koki, atau Einstein Aja Nggak Tau!

Ada juga buku-buku garapan David Feldman, Apa Gajah Bisa Lompat?, atau Mengapa Jarum Jam Bergerak ke Kanan? Buku-buku ini bisa menjawab apa dan kenapa dari anak-anak. Setiap waktu selama bertahun-tahun, ibu dipastikan memiliki otoritas menjadi teman belajar anak sejak belia dan melakukan pelbagai kegiatan bersama anak; memberikan bekal berharga dan kecintaan terhadap sains. *

Ilustrasi gambar dari: http://google.com

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar