Memilih Hukuman Tepat bagi Anak

      AnggunPaud - “Ayo, berangkat sekolah!” Zaka diam saja. Tidak mau bangun dari tempat tidurnya. Sudah dibangunkan berkali-kali. Tetap saja tidak mau. Sampai jam dinding menunjuk pukul 07.00. Zaka pun tidak berangkat sekolah. Alasan yang kemudian dungkapkan masih mengantuk. Kita sebagai orang tua pasti marah dan dan sedih. Inilah yang disebut pelanggaran anak.

     Anak-anak melakukan pelanggaran atas aturan yang sudah ditegakan dalam keluarga. Dan setiap harinya, anak-anak pasti melakukan pelanggaran. Misalnya, bertengkar dengan saudaranya, tidak patuh pada perintah orang tua, membolos sekolah, berbohong, dan tidak tepat waktu. Pertanyaannya, saat anak melakukan pelanggaran apa yang harus orang tua lakukan? Tentu saja, tindakan terbaik terhadap segala pelanggaran adalah hukuman (punishment). Sebab melalui hukuman ini anak-anak akan mengetahui kesalahannya, dan paham untuk tidak mengulangi kesalahannya lagi. Namun, demikian hukuman atas pelanggaran anak harus disesuaikan dengan masa anak-anak dan bagaimana pun tidak boleh dilakukan dengan kekerasan.

    Untuk itu, ada empat jenis hukuman yang harus dipilih orang tua saat mendapatkan kenyataan anaknya melakukan pelanggaran atas aturan di rumah. Keempat hukuman yang tepat dipilih itu adalah sebagai berikut.

Pertama, hukuman ekspresi wajah. Artinya, saat anak-anak kita tindakannya melanggar aturan keluarga, maka segera orang tua menunjukkan ekspresi wajah marah, tidak setuju dengan tindakan anak, atau sedih. Melalui ekspresi wajah ini anak-anak akan tahu bahwa tindakannya salah dan tidak benar sehingga orang tuanya marah, sedih, dan kecewa yang ditunjukkan melalui ekspresi wajah. Melalui ekspresi ini anak akan merasa bersalah dan tidak mau mengulangi perbuatan salahnya.

Kedua, hukuman nasihat. Jika ekspresi wajah tidak cukup, karena anak masih melakukan pelanggaran yang sama, maka hukuman bisa ditambah dengan nasihat. Katakan kekecewaan dan kesedihan kita. Terangkan kenapa perbuatannya salah dan melanggar. Terus katakan dengan intonasi rendah sampai tinggi. Tapi, dalam memberikan nasihat jangan ada kata ancaman. Cukup dengan intonasi marah dan kecewa anak-anak pastikan paham dan merasa bersalah. Anak pun akan minta maaf dan tidak mengulangi perbuatannya lagi.

Ketiga, jangan beri penghargaan. Jika ekspresi dan nasihat telah dilakukan dan anak masih sering melakukan kesalahan yang sama, maka hukuman terbaik adalah jangan beri penghargaan. Anak-anak tidak diberi apresiasi atas sikap-sikapnya hari itu karena kesalahannya belum diakui dan meminta maaf. Pemberian penghargaan yang tidak dilakukan itu seperti pemberian hadiah, pujian, dan selamat. Dari sini anak tidak akan tahan. Anak akan mengakui keslahannya, dan tidak mengulangi lagi. Kelima, beri sanksi sosial. Jalan terakhir atas sikap salah dan melanggar anak adalah sanksi sosial. Artiny, karena anak tetap saja melakukan keslahan dan pelanggaran, maka orang tua sepakat untuk memberikan sanksi sosial yang berupa “tidak mau bicara dengan anak”. Dengan didiamkan saja, anak-anak pasti tidak tahan. Sebabnya, bagaimanapun setiap harinya anak ingin berkomunikasi dengan oran tua. Jika orang tua diam, maka ini akan membuat anak sedih. Anak pun kemudian akan meminta maaf dan tidak melakukan kesalahan lagi.

    Melalui keempat pilihan hukuman bagi anak, maka hukuman atas sikap salah dan pelanggaran anak dapat diperbaiki dengan tidak sampai melakukan kekerasan fisik dan hati. Anak-anak tidak ada yang tersakiti, tetapi anak-anak memhamai kealahannya, sehingga anak-anak akan meminta maaf dan berjanji untuk tidak mengulangi kesalahan dan pelanggaran yang sama.*

*Umi Khomsyatun, Tutor di Sanggar Kegiatan Belajar Purwokerto untuk Pendidikan Anak Usia Dini dan Kejar Paket B dan C

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar