Kiat Memilih Mainan untuk Anak

“Ayah, nanti jika pulang kerja, belikan aku mainan, ya?” “Pasti. Mainan apa yang kamu inginkan, Nak?” Anak berpikir kemudian menyebutkan, “Mobil-mobilan!” Apakah kita sebagai orang tua memang harus membelikan mobil-mobilan permintaan anak? Ini yang perlu kita uraikan.

Wajib hukumnya, jika orang tua sudah berjanji, ia harus menepati. Tapi, jika mainan yang diminta itu tidak sesuai dengan kondisi anak, maka kita bisa membelikannya yang sesuai dengan kondisi anak. Misal, jika anak masih berusia di bawah 6 tahun, tetapi mainan yang diminta untuk anak usia enam tahun ke atas, maka kita tak perlu membelikannya. Mainan disesuaikan dengan usia anak, karena agar tak membahayakan anak. 

Di sinilah kita harus bisa mensiasati dalam membelikan mainan untuk anak-anak. Pada prinsipnya, mainan yang akan kita berikan ke anak adalah mainan yang edukatif, yaitu mainan yang mengandung unsur pendidikan, mainan yang jika dijadikan media untuk kegiatan bermain akan menunjang proses belajar anak. Belajar dalam memahami ilmu pengetahuan, logika, sains, matematika, membaca, atau pun berhitung.

Dengan permainan edukatif ini, maka anak-anak akan dibantu dalam mengembangkan kecerdasanya. Untuk itu, dalam memilih mainan edukatif ini, kita juga harus selektif. Artinya, bisa tepat dalam memilih mainan untuk anak. Untuk bisa mewujudkan ini, orang tua harus memperhatikan beberapa hal berikut ini:

Pertama, mainan harus sesuai dengan tingkat usia anak. Biasanya, dalam setiap bungkus mainan, akan tertera peruntukan usia. Misal, jika anak Anda berusia 5 tahun, maka pilihlah mainan yang digunakan untuk rentang usia 3-6 tahun, sehingga mainan itu sesuai dengan kondisi psikologis dan kognitif anak.

Kedua, mainan harus sehat dan tidak berbahaya. Sekalipun mainan itu sudah tepat untuk rentang usianya, tetapi kita sering menjumpai kenyataan bahwa mainan itu tidak sehat, karena terbuat dari bahan-bahan yang tidak sehat. Misalnya, aroma bahan mainan tersebut menyengat yang berbahaya bagi pernafasan anak. Atau mainan terbuat dari bahan kenyal dan beracun, sehingga membahayakan anak. Untuk itu, lebih baik pilihlah mainan yang sehat yang terbuat dari bahan-bahan alami, atau bahan buatan yang berstandar sehat untuk anak.

Ketiga, mainan dipilih karena pertimbangan minat dan hobi anak. Tentu saja, kita tidak bisa membelikan mainan yang tidak sesuai dengan hobi dan minat anak. Sebab jika demikian, pasti anak akan menolak mainan yang kita belikan. Pilihlah mainan yang sesuai dengan minat dan hobi anak, sehingga anak-anak antusias dengan mainan yang kita belikan. Anak-anak akan berterima kasih banyak, sebab mainan yang kita belikan itu yang dinanti anak.

Keempat, mainan harus mengandung kreativitas yang variatif. Artinya, coba anak kita belikan mainan yang standar kreativitasnya rendah, maka saat anak sudah menaklukkanya, dia menjadi jenuh, dan mainan akan dibuang begitu saja. Tapi, jika mainan yang kita belikan memiliki variasi kreativitas yang tinggi, misal, lego atau puzle kreatif, maka anak tidak akan jenuh. Anak akan terus mengembangkan kreasinya dengan baik. Ini yang disukai anak.

Kelima, mainan dapat menunjang belajar untuk mengembangkan kecerdasan anak. Tentu saja kita berharap bahwa yang kita belikan, menunjang proses belajar anak; belajar untuk mengembangkan kecerdasan anak. * 

Heru Kurniawan, Ketua Komite PAUD Wadas Kelir, Purwokerto; dosen Pendidikan Anak Usia Dini di Institut Agama Islam Negeri Purwokerto.

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar