Kebiasaan Corat-Coret dan Imajinasi Kreatif Anak

     Anggunpaud -  Ketika anak sudah memasuki usia dua sampai lima tahun, terkadang banyak orang tua yang merasa dibuat pusing oleh anak-anaknya. Karena rentang usia tersebut memang memaksa anak untuk aktif bergerak dalam rangka melatih motorik mereka, baik motorik halus maupun kasar serta melatih indra dan otot mereka.

      Berlari, melompat, memegang, berteriak dan sebagainya merupakan aktivitas kesehariannya. Orang tua yang kurang memahami fase ini terkadang merasa jengkel karena merasa anaknya tidak anteng dan lebih cenderung pada nakal. Anak-anak mengambil spidol, bolpoin, crayon ataupun pensil warna dengan raut bahagia dan sumringahnya.

      Mereka begitu ingin menunjukkan kemampuan yang mereka miliki pada orang tuanya, sayangnya anak-anak belum tahu tempat yang tepat saat mencorat-coret, akhirnya dinding dan lemari menjadi sasarannya untuk berkreasi, sayangnya orang tuanya marah-marah bahkan sampai mengatai anak-anaknya dengan hal-hal yang negatif, misalnya “Kamu bodoh!!, gak tahu ini tembok masih di corat-coret”.

       Seketika anak merasa dirinya tidak lagi dihargai oleh orang tuanya, akhirnya anak-anak takut untuk bermain corat-coret dengan pensil-pensil warnanya. Kejadian tersebut pastilah merupakan tindakan yang tidak baik apabila orang tua memarahi anak-anaknya yang sedang mengeksplorasi dunia warna di depannya.

      Apabila mengalami kejadian yang demikian, sebaiknya orang tua menenangkan diri dan berpikir positif bahwa hal ini wajar terjadi pada anak pada masa anak senang bereksplorasi dunia baru. Orang tua tidak seharusnya marah. Tetapi berilah apresisasi kepada anak, misalnya “Wah, adek hebat ya, adek sedang menggambar apa? ayo coba ceritakan gambar yang adek buat kepada ibu.”

      Dengan kata-kata seperti ini pastilah raut wajahnya akan sumringah dan matanya berbinar, dan dengan semangat anak akan menceritakan gambar yang telah ia buat meskipun bentuk gambarnya masih sembarangan. Setelah orang tua memberikan apresiasi, berikan pengertian kepada anak, apabila mau mencorat-coret anak bisa melakukannya di kertas.

       Berikan contoh pada anak “Ini namanya kertas, adek bisa menggambar di sini dan bukan menggambar di dinding lagi, kalau menggambar di dinding nanti dindingnya kotor dan kasihan ibu susah membersihkannya”. Berikan pengertian di saat yang tepat dengan bahasa yang santai.

       Sebenarnya, kegiatan corat-coret pada anak ini merupakan kegiatan yang wajar yang terjadi pada fase anak. Kegiatan corat-coret ini merupakan kegiatan yang bisa megembangkan imajinasi anak. Anak akan mampu membayangkan berbagai hal dan merealisasikannya dalam bentuk gambar menurut dirinya. Kegiatan ini akan mengaktifkan imajinasi anak-anak dan tentu membuat anak akan semakin kreatif dan percaya diri dalam mengeksplor berbagai hal baru dalam dunianya. *

*Feny Nida Fitriyani (Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prodi Pendidikan Islam Anak Usia Dini).

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar