Religiositas Buku Pertama bagi Anak

Anggunpaud - Pengalaman mengenal buku pertama kali bagi seorang anak manusia, selalu menjadi pembelajaran yang sangat penting. Secara fisik, buku adalah simbol pengetahuan, pencerahan, kedamaian, sakralitas ilmu—dan terkadang kemakmuran hidup.

Begitulah yang diajarkan oleh seorang emak pada anaknya. Pada pagi hari sekali, dia sudah berada di dapur, membuat makanan yang khusus. Menjelang sore, sang emak mengajak anaknya untuk memangkas rambutnya. Lalu, saat menyeberangi sungai, sang Emak memandikan si anak. Menjelang malam, barulah si emak mengajarkan buku pertama untuk si anak. Keluarga itu berkumpul di rumah. “Beberapa bulan lagi umurnya genap empat tahun. Bapak dan emak kira sudah saatnya kau mulai belajar membaca Quran. Daoed bukan anak kecil lagi sekarang...” kata si Emak pada anaknya.

Perlahan-lahan, si anak diminta untuk mengikuti ucapan pembacaan si emak. “Bacalah! Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu...” Si anak diajak memasuki usia menjelang dewasa dengan satu buku pertamanya. Kita kemudian mengenal si anak sebagai Daoed JOESOEF, penulis buku Emak Penuntunku dari Kampung Darat sampai Sorbonne (2010) yang pernah menjadi menteri pendidikan dan kebudayaan.

Tentu saja, pengalaman ini bukanlah khas Islam, tapi hampir semua agama mempunyai semacam inisiasi pendewasaan berbasis buku bagi tiap pemeluknya. Ada kesadaran bersama yang dianut oleh tiap agama agar anak-anak mempunyai pengalaman religius bersama buku, meski barangkali pada saat kecil mereka tidak begitu menyadarinya. Ketidaksadaran ini barangkali akibat dari pola pengasuhan berbuku dari lembaga pendidikan formal.

Di sekolah, kita memang kurang begitu akrab menganggap buku pelajaran sebagai benda sakral. Apalagi, jarang sekali kita kemudian menganggap bahwa buku pertama kita di sekolah dasar adalah buku yang paling pantas kita kenang. Pengajaran berpengalaman bersama buku pertama sebagai sesuatu yang begitu menggugah jiwa keilmuan anak-anak masih sangat minim, kalau tidak hendak dikatakan absen dan diabaikan.

Guru di sekolah biasanya jarang mengajarkan makna buku dan berbuku sejak awal masuk sekolah bagi anak-anak. Begitu juga, guru jarang mengajarkan makna eksistensi buku sebagai pengalaman yang begitu menggugah kesadaran manusia bagi para muridnya. Dan itulah alasan kenapa kita tidak pernah mempunyai pengalaman berbuku yang fantatis selama di sekolah untuk kita kenang sampai kita meninggalkan sekolah sampai kita mempunyai anak.

Eksistensi buku terlalu dianggap sebagai sesuatu yang biasa, tanpa mempunyai roh simbolik keilmuan, pencerahan, atau bahkan kemakmuran. Eksistensi buku menjadi barang banal dan tak menyentuh otak dan jiwa para murid. Maka, buku-buku pelajaran biasanya segera menjadi buku wajib segera dilupakan para murid. Bahkan, dalam banyak kasus, ilmu dalam buku-buku akan segera dianggap usang, tidak berarti, tidak berfaedah bagi perjalanan berilmu selanjutnya.

Buku-buku sekolah itu bukan saja menjadi barang bekas, tapi sudah diperlakukan sebagai sampah di rumah. Tak ada sejarah personal berilmu yang bertaut dengan buku dalam kehidupan berilmu kita. Apakah kita bisa mengangankan suatu kemajuan berilmu dengan perlakuan seperti itu terhadap buku, bagi seorang anak-didik atau bahkan bagi suatu bangsa? Maka, pikirkan dan perhatikan cara kita mengajarkan berbuku pada anak-didik kita sejak di rumah dan di sekolah. *

*M. Fauzi Sukri, Penulis Buku Guru dan Berguru (2015)

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar