Menjadi Guru Disegani

Anggunpaud -  Andai tidak keberatan, mari sama-sama kita melihat ke belakang. Saat di mana sang guru begitu disegani (bukan ditakuti) oleh murid-muridnya. Bahkan sekadar untuk berpapasan saja—baik di sekolah maupun di luar sekolah—, sang murid “terpaksa” membungkuk dan menundukkan kepala sambil mengucapkan salam, “assalamualaikum, pak...” atau assalamualaikum buk...”

Tapi itu dulu. Jika di ceritakan pada saat ini, itu hanya tinggal nostalgia belaka. Karena nuansa itu seakan telah pupus ditelan zaman. Tapi mungkinkah nostalgia itu bisa terulang kembali menjadi sebuah kemasan cerita yang lebih menarik sepuluh atau dua puluh tahun yang akan datang? Tentu saja bisa. Yaitu dengan memberikan teladan yang baik kepada sang murid pada saat ini.

 Teladan yang baik, bukan sekedar menampilkan sikap yang anggun, ulet, gigih, berwibawa dan kharismatik saat di sekolah. Bahkan lebih dari itu semua, teladan yang baik seharusnya menjadi sikap dan tindak tanduk sang guru ketika di rumah, terminal, jalan raya, kebun, ladang, mesjid, bahkan di pasar sekali pun. Kenapa? Karena terdapat ratusan bahkan ribuan pasang mata sang murid yang akan melihat dan mencontoh apa yang sedang dan sering dilakukan oleh sang gurunya di luar sana.

Begitulah pentingnya teladan dari sang guru. Jika yang diteladankan sebuah sikap yang kurang baik, maka sang murid akan berbuat yang lebih tidak baik lagi dari itu. Oleh karena itu, tidak salah jika pepatah tetua itu mengatakan bahwa "Guru kencing berdiri...murid kencing berlari”.  Salah satu teladan yang harus ditunjukkan kepada murid adalah kegiatan membaca, baik di waktu sempit apalagi di waktu senggang. Baik di luar apalagi di lingkungan sekolah. Tapi agaknya teladan inilah yang mengalami krisis di tengah-tengah kehidupan sang guru dan lingkungan pendidikan kita. Sehingga suasana akademis dan pengembangan ilmu pengetahuan terlihat begitu kaku dan minim kreatifitas.

Momentum tahun ajaran baru merupakan suatu kesempatan emas untuk memulai teladan ini. Hal demikian jika selama ini sang guru belum pernah menberikan teladan, apa seharusnya yang dilakukan oleh seorang murid. Jika sudah, percayalah sang murid akan mengikuti jejak langkah setapak dua tapak apa yang telah dilakukan oleh sang gurunya.

Untuk itu, jangan pernah mengatakan bahwa murid-murid sekarang malas membaca. Atau mengatakan bahwa murid-murid sekarang miskin ide dan gagasan karena tidak pernah membaca. Akan tetapi sang gurulah yang pertama sekali memberikan teladan baik dengan banyak membaca di hadapan atau di belakang murid. Demikian dengan sendirinya, nostalgia guru yang disegani akan terulang kembali. Bukan karena sang guru itu kaya harta benda atau garang dalam belajar. Akan tetapi di segani karena luas wawasannya, tajam pola pikirnya, banyak ilmunya tersebab sang guru selalu memberikan teladan dengan banyak membaca kepada murid-muridnya.*

*Abd.Muluk, Penulis Buku Sang Metamorfosa (201), pemerhati masalah pendidikan, Ketua Yayasan Pendidikan Fiolosofia, Rokan Hilir-Riau 

 

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar