Mengenalkan Keragaman Budaya pada Anak Usia Dini

    Anggunpaud - Kita memiliki lebih dari tujuh belas ribu pulau, tak kurang ada 1.128 suku, dan 750 bahasa daerah. Jumlah penduduk kita separuh dari negara-negara di kawasan ASEAN. Kalau kita bayangkan peta Indonesia, dari Aceh sampai Papua dan kita sama-sama pergi ke Frankfurt, peta Eropa itu akan tertutup peta Indonesia. Sebab, besarnya Indonesia itu merentang dari London Sampai Moskow.

    Kita satu negara, mereka puluhan negara. Perbandingan di atas cukup untuk menggambarkan betapa bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar. Memiliki wilayah yang luas serta kaya beragam suku dan bahasa, maka kita harus bersyukur atas kesadaran yang dimiliki oleh para pendiri bangsa. Generasi terdahulu bersepakat bahwa Indonesia tidak bisa didirikan atas dasar kesamaan suku, bahasa, tapi harus ditopang oleh kesamaan ide/visi mewujudkan kemerdekaan, keadilan dan kesejahteraan.

   Di dunia ini hanya ada tiga negara yang didirikan berdasarkan ide atau gagasan. Ketiga negara gagasan tersebut adalah Amerika Serikat, Uni Soviet dan Indonesia. Di luar itu dibentuk berdasarkan kesamaan agama, suku dan golongan. Amerika berhasil mentransformasikan ide besarnya bahwa semua orang bisa mewujudkan impiannya di Amerika—yang kita kenal dengan istilah American Dream—ke dalam sendi kehidupan masyarakatnya sehingga berhasil membuat negera tersebut bersatu dan kuat. Uni Soviet gagal menginternalisasi nilai-nilai gagasannya ke masyarakat yang berakibat kepada kehancuran dan bubarnya negara tersebut.

    Bagaimana dengan Indonesia? Kita berada di persimpangan jalan. Bubar tidak, bersatu sekali juga belum. Konflik sektarian kerap berlangsung. Entah dipicu oleh persoalan agama, kepercayaan, suku maupun golongan (kekuasaan politik). Bahkan konflik tersebut sampai terartikulasi dalam bentuk tindakan yang paling absurd—terutama di social media dan televisi—sebagai sesama anak bangsa: saling nyinyir, bully, dan beragam sak wasangka lainnya. Kita butuh Indonesia yang kembali satu.

    Tentu saja, jika kenyataan di atas sering menghampiri kehidupan anak-anak melalui tontonan (televisi) atau bahkan dalam kehidupan sehari-sehari mereka, akan turut membentuk persepsi atau cara pandang anak-anak pada lingkungan. Akibatnya bisa muncul benih-benih sikap tidak toleran, mengklaim dirinya paling benar, dan memilih jalan pintas yang dekat dengan unsur kekerasan (radikalisme) untuk menyelesaikan persoalan. Kita tidak ingin itu terjadi. Oleh karenanya anak-anak sejak dini harus diperkenalkan dengan perbedaan. Dipahamkan bahwa mereka akan hidup dan beinteraksi dengan berbagai macam orang yang memiliki latar belakang keyakinan, suku, agama dan budaya yang berbeda. Lantas bagaimana caranya?

Pertama, membacakan buku tentang budaya Indonesia. Banyak sekali buku yang berisi tentang adat istiadat di Indonesia. Mulai dari sisi pakaian tradisional, bahasa daerah, lagu, cerita rakyat, makanan khas, hingga tempat-tempat wisatanya. Pengetahuan tentang keragaman yang anak-anak peroleh dari bacaan tersebut menjadi modal awal bagi ingatan mereka bahwa Indonesia itu terdiri atas beragam adat istiadat dan budaya tapi semua menyatu dalam satu bangsa yaitu Indonesia.

Kedua, anak-anak diajak menyaksikan gelaran seni tradisi. Budaya nasional adalah puncak dari seni-seni tradisi. Tiap daerah memiliki seni tradisi yang mengandung makna filosofi, fungsi sosial dan kegunaan praktis yang berbeda-beda. Saat mengajak anak-anak menyaksikan seni tradisi, misalnya wayang orang (Jawa Tengah) , lain waktu ludruk (Jawa Timur), dalam kesempatan yang berbeda menyaksikan tari Saman (Aceh). Dari situ Anda bisa menjelaskan bahwa bahwa tiap daerah memiliki seni tradisi yang berbeda. Baik dari pakaian maupun gerakan.

Ketiga, diajak berkunjung ke rumah teman yang berbeda suku dan agamanya. Ketika berkunjung tersebut, biarkan anak-anak berkenalan dan berinteraksi dengan anak-anak teman Anda. Dari situ harapannya akan muncul interaksi yang akrab dan menyenangkan. Sehingga terjalin pertemanan yang wajar tanpa harus melihat terlebih dahulu agama dan sukunya.

Keempat, dalam acara-acara tertentu misalnya saat perayaan agustusan (HUT Proklamasi RI), ketika karnaval anak-anak diminta memakai beragam baju adat yang berbeda-beda. Atau saat tampil di acara panggung seni mereka menyanyikan beberapa lagu daerah yang sebelumnya telah diajarkan oleh para bundanya di sekolah. *

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar