Menerapkan Ajaran Agama dalam Aktivitas Sehari-hari Anak

      Anggunpaud -  Agama tanpa limu, buta. Ilmu tanpa agama, lumpuh. Demikian ungkap penemu teori relativisme energi, Albert Einstein. Nasihat tersebut memberikan pemahaman kepada kita betapa pun ilmu penting, tetap harus dibimbing oleh moralitas agama, agar ilmu tersebut menjadi berguna bagi pengembangan kehidupan.

      Kesadaran tentang pentingnya peran agama dalam kehidupan itu juga harus disapakan kepada anak-anak kita sejak dini. Selain melalui pelajaran yang bersifat ibadah ritual dan doa, juga bisa melalui aktivitas-aktivitas sehari. Sehingga agama tidak hanya berhenti pada pelaksanaan ibadah ritual dan doa tapi ajarannya diterapkan. Pertanyaan pentingnya adalah, bagaimana caranya menerapkan prinsip-prinsip moralitas agama dalam aktivitas sehari-hari anak?

       Ada banyak cara yang bisa kita tempuh. Beberapa diantaranya,

pertama, biasakan anak-anak saat bergaul dengan teman-temannya baik saat di rumah maupun di sekolah untuk selalu membantu teman, saudara dan tetangga yang memerlukan bantuan. Sederhana saja, misalnya pada saat ada teman yang jatuh, dibantu untuk bangun. Atau ada teman yang kehilangan rautan, tanpa menunggu diminta, membantu mencarinya.

Kedua, anak-anak tidak memanggil nama temannya dengan panggilan yang buruk. Misalnya dengan sebutan Ambon karena kulitnya hitam, Tong karena tubuhnya gendut, atau Dodol karena kurang cepat memahami pelajaran. Sebaliknya panggilah dengan nama panggilan atau sapaan yang paling disukai oleh temannya. Mungkin terdengar kurang lazim, tapi tidak mengapa juga anak kita bertanya kepada temannya: “Panggilan apa yang paling kau sukai?”

Ketiga, mengajak anak-anak menjenguk temannya pada saat sakit dan mendoakannya agar lekas sembuh. Saat menjenguk ini sekaligus bisa diajarkan dan dipraktikkan langsung bagaimana adab menjenguk orang sakit misalnya menurut tuntutan agama Islam. Seperti tidak duduk berlama-lama di kamar si sakit kecuali dimintanya. Menghiburnya dengan cerita yang mampu membuat si teman semangat untuk sembuh dan berangkat sekolah lagi. Bukan sebaliknya malah menakut-nakuti.

Keempat, ikut merasakan senang dan bahagia saat teman mendapatkan kebahagiaan. Sifat anak-anak biasanya gampang kepengin jika temannya memiliki barang baru—mainan misalnya. Jangan sampai rasa ingin memiliki mainan mengakibatkan mereka menjadi sedih, marah, atau malah mengejek teman yang memiliki barang baru tersebut. Berilah pengertian kepadanya bahwa ketika temannya memiliki mainan baru, itu artinya kesempatan untuk bisa sama-sama bermain dan bergembira bersama memainkan mainan baru tersebut.

Kelima, jika ada temannya yang sedang bersedih, anak-anak jangan ikut larut dalam kesedihan. Tapi hiburlah agar kesedihan temannya berkurang. Bukan mengolok-olok teman yang menangis karena kesedihan tersebut.

Keenam, mengenalkan adab menggunakan jalan umum. Bagaimana agama mengajarkan kita dalam menggunakan jalan umum? Tidak menghalangi orang yang akan melintas. Berjalan di sebelah kiri. Saat menyeberang jika di jalan raya lewatlah melalui jembatan penyeberangan. Mematuhi rambu-rambu lalu lintas, mengucapkan salam saat berpapasan di jalan, mendahlukan orang yang sudah tua untuk melintas atau berjalan lebih dahulu.

Ketujuh, taat dan sayang kepada orang tua juga termasuk ke dalam ajaran agama. Caranya dengan menuruti nasihat yang diberikan orang tua, melaksanakan sebaik mungkin perintahnya, dan mendoakannya. Guru bisa mewajibkan anak-anak sebelum berangkat sekolah agar pamitan kepada kedua orang tuanya, dengan mencium tangannya serta mohon doa agar diberi kemudahan ketika belajar di sekolah.*

Ilustrasi gambar dari: http://google.com

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar