Tidak Ada Anak Nakal

       Anggunpaud - Siang itu beberapa anak bermain. Jerit dan tawa berseling dengan suara saling berteriak. Tiba-tiba terdengar suara tangis. Satu orang dewasa mendekat ke kerumunan anak-anak, lantas melontarkan komentar : "Hayo, pasti Arya yang nakal." Tidak sekali dua kali, Arya (bukan nama sebenarnya) dilempari kesalahan. Untuk tiap kejadian anak menangis, hampir selalu dia yang dituding sebagai biang keladi.

      Padahal, tidak selamanya demikian. Namanya saja anak-anak, sudah biasa saling mempertahankan ego masing-masing. Lalu, mengapa Arya yang selalu dituduh? Karena orang tua Arya kerap cekcok. Perselisihan yang diucapkan dengan keras sehingga tetangga bisa mengetahui apa-apa yang mereka perdebatkan. Dari orang tua yang kerap ribut, maka persepsi orang akan si anak (produk keluarga tersebut) adalah biang onar juga.

      Tidak jauh beda dari hal tersebut, saya juga pernah mendengar orang mengomentari seorang anak berdasarkan persepsi tentang orang tuanya. Suatu kali seorang anak menangis, dan harus mendapat komentar. Ooo, anak itu emang terlalu sensitif. Persis tuh sama ibunya. Pembunuhan karakter atas diri anak yang dilekatkan pada diri orang tua.

      Memang tidak mungkin kita menjadi manusia yang sempurna. Tidak mungkin pula bagi kita untuk bisa memuaskan hati seluruh tetangga, sekeras apa pun kita berusaha. Namun, setidaknya kita sebagai orang tua memang harus berjuang sekuat tenaga untuk senantiasa memperbaiki diri. Supaya anak-anak kita tak harus menanggung nama atau predikat buruk orang tuanya.

      Seorang anak biasa disebut nakal ketika perilakunya tidak sesuai dengan harapan orang tuanya, atau harapan masyarakat di sekelilingnya. Padahal, apa pun yang diucapkan oleh anak, apa pun perilaku anak, sebenarnya hanya meniru contoh-contoh di sekelilingnya. Maka, tugas kita sebagai orang tua adalah memperhatikan darimana perilaku yang tidak sesuai dengan harapan itu ditiru oleh anak. Jika sumber berasal dari lingkungan (orang-orang dewasa) atau teman-teman main di sekeliling rumah, maka usahakan anak-anak lebih banyak berada di rumah (paling tidak untuk sementara).

     Lebih baik dia mengajak teman-temannya datang dan main ke rumah kita, ketimbang membiarkan anak kita main tanpa pengawasan, dengan risiko terkena pengaruh buruk. Bila hal tersebut sulit, maka biarkan anak bermain lalu segera netralisir setiap pengaruh buruk yang dibawa pulang. Jangan enggan dan bosan untuk memberikan penjelasan yang benar. Untuk kata-kata buruk yang ditirukan anak, metode tangkap buang cukup efektif diterapkan.

     Caranya: saat anak mengucapkan sebuah kata yang kasar/kotor, nasihatkan padanya bahwa itu bukan kata yang pantas diucapkan. Bila anak mengulangi (biasanya ketika anak kesal, dan dia sengaja mengucapkan kata tersebut untuk memancing kemarahan orang tuanya), gunakan metode tadi. Tangan Anda seolah menangkap kata yang keluar dari mulutnya (dan ucapkan tangkap) lalu anda menggerakkan tangan seolah membuangnya jauh (sambil mengucapkan buang).

     Bila anak masih mengulangi, Anda pun terus mengucapkan tangkap dan buang. Sampai anak berhenti. Jangan lupa, anda harus serius, tidak tampak seperti sedang bercanda atau main-main. Jika perilaku dan kata-kata yang kurang baik berasal dari televisi, maka segeralah mengambil sikap tegas, mana yang boleh ditonton mana yang tidak. Usahakan tetap mendampingi anak selama menonton.

     Bagus juga jika kebiasaan nonton TV diganti dengan menonton VCD edukatif. Dan jika hal-hal yang nampak nakal pada diri anak ternyata justru berasal dari orang tuanya, berbesar hatilah untuk memperbaiki diri selekasnya. Jika Anda ingin perilaku anak Anda berubah, maka ubahlah perlakuan anda kepadanya, begitu saran seorang pakar parenting. 

     Nah, perilaku itu lalu ditiru anak untuk membentak adik atau temannya. Terkadang membentak diikuti dengan tindakan agresif semisal mendorong atau memukul. Mendorong atau memukul barangkali hasil peniruan anak dari menonton televisi atau perilaku temannya. Jadi, perilaku anak yang terkategori nakal kadang-kadang merupakan paduan dari meniru lingkungan, teman dan orang tuanya. Tidak ada anak yang nakal. Tidak ada anak yang susah diatur. Tidak ada anak yang bandel. Yang ada, anak-anak itu hanya meniru. Mereka belum memahami konsep baik dan buruk.

    Tugas kita sebagai orangtuanya yang harus menyampaikan nilai-nilai kebaikan dan keburukan dengan bijak. Selain menyampaikan, tak kalah penting, dan justru ini yang paling harus diupayakan, adalah meneladankan perilaku-perilaku yang kita harapkan dari anak.

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar