Tujuh Kiat agar Anak Bahagia

     Anggunpaud - Setiap orang tua pasti menginginkan anak-anaknya bahagia. Hanya saja, tidak semua orang tua tahu bagaimana caranya membahagiakan buah hatinya. Bahkan, ada satu hal yang sering keliru dipahami oleh orang tua. Yaitu kita kadang merasa telah membahagiakan anak-anak jika telah memenuhi kebutuhan fisik atau lahiriahnya saja. Misalnya telah memberikan pakaian baru nan bagus, rumah untuk berteduh, dan makanan enak yang berlimpah.

     Padahal kebutuhan anak tidak hanya itu. Mereka membutuhkan cinta dan kasih sayang melalui beragam tindakan yang justru tidak ada kaitannya dengan pemenuhan kebutuhan dan kepemilikan suatu benda atau barang. Dr. Ella Yulaelawati dalam buku Menjadi Orangtua Pintar (2014) mengungkapkan paling kurang ada tujuh bentuk cinta dan kasih sayang yang harus diberikan orangtua kepada anak, yaitu :

pertama, senyum tulus. Kita dapat menilai hati seseorang dari wajahnya, terutama senyumnya. Demikian pula kesan anak kepada kedua orangtuanya. Senyum tulus kita akan membuat anak merasa aman dan nyaman karena senyum itu bukti penerimaan keduanya orang tuanya atas kehadirannya.

kedua, penghargaan dan pujian. Tanpa disadari, kita sangat reaktif pada saat anak melakukan kesalahan. Tapi giliran mereka melakukan sesuatu yang benar, kita pelit untuk memberikan pujian, alih-alih penghargaan berupa hadiah. Penghargaan dan pujian akan meningkatkan penghargaan mereka atas diri mereka sendiri. Sehingga akan memunculkan rasa percaya diri, merasa bangga dan terlecut untuk meraih prestasi. Sebaliknya, jika anak lebih banyak mendapat keluhan dan hardikan, ia akan menilai dirinya rendah.

Ketiga, kesediaan mendengarkan. Kesibukan bekerja dan beraktivitas sering kali membuat kita tidak memiliki banyak waktu untuk berbicara bersama anak-anak. Padahal pada saat berbincang, ada saatnya kita mendengarkan mereka bertutur. Anak-anak akan merasa dimengerti jika keduanya orang tuanya bersedia mengajaknya berbicara dan mendengarkan celotehannya. Jika Anda hanya memiliki sedikit waktu untuk itu, manfaatkan saat makan bersama, atau menemani mereka tidur untuk berbicara. Tawarkan kepada mereka, apakah ada sesuatu yang ingin mereka ceritakan di hari itu. Baik tentang apa yang merasa rasakan maupun peristiwa yang terjadi di hari itu.

Keempat, memberi kepercayaan. Memberikan ruang untuk dipercaya akan mencuatkan rasa tanggungjawab sekalian sikap kemandirian. Sifat perfectionis Anda dan belum mampunya anak-anak dalam menyelesaikan suatu pekerjaan sesuai dengan standar yang Anda mauinya jangan sampai membuat Anda tidak pernah satu kali pun mempercayakan suatu tugas atau pekerjaan pada mereka. Mungkin maksud Anda melindungi atau ingin mempercepat waktu, tapi buat anak itu bisa dimaknai Anda tidak mempercayainya.

Kelima, menjadwalkan waktu yang sesuai untuk melayani perbedaan individual. Buat Anda yang memiliki lebih dari satu anak tentu akan menghadapi lebih dari satu sifat dan perilaku yang berbeda. Perbedaan tersebut membawa konsekuensi pada pembedaan perlakuan juga. Ciptakan waktu-waktu khusus untuk tiap buah hati Anda yang berbeda tersebut. Sehingga mereka semua merasa diistimewakan oleh keduaorangtuanya.

Keenam, mengikuti tahap perkembangan yang penting. Sesungguhnya anak-anak tumbuh dengan cepat. Mungkin sekarang ini Anda merasa capai merawat mereka, tapi rasa capai itu akan hilang pada saat mereka sudah memasuki masa-masa remaja. Oleh karena itu, manfaatkan momen-momen penting dalam hidup mereka. Misalnya saat hari pertama mereka masuk sekolah, usahakan dampingi mereka. Jangan sampai Anda di kemudian hari Anda menyesal karena merasa anak kurang diperhatikan.

Ketujuh, menjaga keamanan anak. Sering kita dengar dan baca di media massa, berita tentang penganiayaan anak bahkan pelecehan dan kekerasan. Dan itu terjadi tidak hanya di luar rumah tapi juga di dalam rumah. Artinya tindak kekerasan tersebut justru dilakukan oleh orang-orang terdekat anak (korban). Rasa cinta dan kasih sayang harus mencakup pula perlindungan terhadap anak atas potensi terjadinya pelecehan dan kekerasan kepada mereka. Dari mana harus di mulai? Dari diri dan rumah.*

Ilustrasi gambar dari: http//google.com

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar