Kebahagiaan Pendidikan

      Anggunpaud - Pendidikan tidak selalu berurusan dengan gedung, anggaran, kurikulum, kelulusan, nilai akademis, motif pekerjaan, dan internasionalisasi. Apalagi anak-anak PAUD, baginya bersekolah adalah berbahagia. Berpendidikan sama artinya dengan berbahagia. Tujuan pendidikan yang sudah lama tidak kita dengar. Siswa jarang bahagia saat berangkat sekolah, menjalani kegiatan pembelajaran, hingga pulang sekolah.

     Terkadang guru membosankan, ruang kelas kaku, teman nakal, tugas dan PR (pekerjaan rumah) menumpuk. Sekolah tidak lagi identik dengan kebahagiaan. S. Mangunsarkoro dalam Dasar Sosiologi dan dan Kebudajaan untuk Pendidikan Indonesia Merdeka (1953) mengajak pembaca mengingat kembali tujuan utama pendidikan: kemadjuan ke arah masjarakat jang bahagia. Kebahagiaan dalam pendidikan diperlukan untuk: mewudjudkan perikemanusiaan jang setinggi-tingginja. Buku ini ternyata laris. Di tahun 1953 sudah mengalami cetakan ke-4. Kita tentu takjub dengan manusia yang hidup di masa itu, memiliki gairah menyelami pendidikan. Mereka adalah perorangan yang radikal.

 Radikal dalam arti memiliki kebebasan berpikir. Bebas dari tradisi yang dalam tiga setengah abad dijajah. Bebas dari kungkungan jiwa yang bersifat minderwaargheids-complexen (terlalu rendah diri), bebas dari pengaruh alam pikiran feodal. Ternyata selama ini kita sering salah memahami radikal. Radikal sering identik dengan kekerasan, perlawanan, anarki, perusakan, pengeboman dan semena-mena. Radikal diperlukan untuk kepentingan pendidikan anak. Pendidikan mutakhir sering mengajak publik mengunggulkan sekolah bertaraf internasional.

   Internasional sering membawa imaji publik pada gedung mewah, sarana dan prasaran modern, alat peraga canggih, kegiatan belajar mengajar dengan bahasa asing. Anak dididik agar bisa go internasional, bisa melanjutkan sekolah ke luar negeri. Namun tujuan ini tidak sejalan dengan pendidikan (bahagia) ala S. Mangunsarkoro. "Kita sebagai bangsa merdeka tidak boleh selalu berdjalan dibelakang bangsa-bangsa lain jang merdeka di dunia ini. Meskipun itu djalan jang paling mudah". Namun apalah daya, kita terlanjur tidak percaya diri mengindar dari bayang-bayang bertjorak dan berbau feodal. Kebahagiaan akan dicapai saat mengembalikan pendidikan pada ikatan adat, kekeluargaan, dan agama.

     Corak pendidikan ini terus berjalan bahkan di masa penjajahan. Di abad XX, tepatnya di tahun 1922 baru berdirilah Perguruan nasional bernama Taman Siswa yang membawa corak dan ideologi pendidikan kemasyarakatan dan pembaharuan. Di masa akhir penjajahan Belanda Taman Siswa berhasil mendirikan Sekolah-sekolah menengah tinggi dan perguruan tinggi merdeka (Taman Ilmu). Setelah masa kemerdekaan, pendidikan beralih menggunakan dasar Pancasila dan UUD’45. Yang mana pendidikan harus dijalankan untuk pembentukan perikemanusiaan yang setinggi-tingginya.

     Pendidikan ideal pernah diusulkan oleh Mangunsarkoro. Bahwa upaya dalam pendidikan seharusnya bersumber dari ”djiwa pendidikan dan pengajaran”. Jiwa pendidikan harus berupa satu rangkaian pandangan hidup yang merupakan dasar filsafi pendidikan dan pengajaran.  Dari sejarah panjang pendidikan itu sebenarnya bangsa ini telah memiliki “ketjerdasan kekuatan ilham (intuisi)”. Maka bangsa ini layak disebut bangsa berkebudayaan ilham.

    Kebudayaan ilham mulai ditinggalkan sejak hadirnya penjajah. Masyarakat mulai berhasrat menukarnya dengan kebudayaan barat (Belanda). Mereka mendewa-dewakannya sebagai bangsa elite. Hingga menganggap bangsa sendiri kurang berharga.  Di sini terjadi kontradiksi yang jelas. Pendidikan asli di masa itu menggunakan kebudayaan ilham yang bersifat keagamaan dan kesenian. Sedangkan pendidikan Barat (Belanda) bersifat teknik dan ekonomi. Secara naluriah (nafsu) manusia ingin menguasai kenikmatan kebendaan. Pada akhinya meninggalkan kebudayaan Ilham yang bersifat meninggalkan soal-soal keduniawiaan.

    Padahal puncak dari kebudayaan dunia terjadi saat manusia menghargai kerja Ilham. Yang mana manusia mengembangkan ”kebudajaan berdasarkan pikiran dan ilham”. Aliran pendidikan di seluruh dunia menganut empat aliran: pramatisme, activisme, personalisme, humanisme. S. Mangunsarkoro lebih memberikan penekanan pada aliran pendidikan Humanisme sebagai pendidikan yang ideal. Bahwa pendidikan bergantung pada kesanggupan seseorang mempertinggi derajat kemanusiaan bercorak keagamaan. Di sini anak tidak dipandang sebagai objek namun sebagai jiwa manusia.

    Mangunsarkoro memberikan sepuluh konsep pendidikan ideal.  Pertama, anak diberikan kemerdekaan belajar sebanyak-banyak agar pribadinya berkembang. Kedua, anak yang harus aktif dalam proses pembelajaran bukan guru. Ketiga, ruang sekolah disifati layaknya rumah biasa. Keempat, gerakan tangan yang berirama (tari) dan kerajinan tangan dimasukkan dalam pelajaran. Kelima, anak-anak tidak lagi dibagi menjadi kelas-kelas, melainkan menjadi beberapa golongan yang berkepentingan sama. Keenam, anak disiapkan untuk kepentingan masyarakat. Ketujuh, orang tua murid berhak untuk turut mengatur keadaan perguruan. Kedelapan, dalam proses pembelajaran guru-guru berhubungan secara keluarga. Sembilan,?pembagian murid tidak didasarkan pada pulisi, tetapi secara saudara yang lebih tua. Sepuluh, anak-anak dibiasakan tolong-menolong dan kerja sama Inilah konsep pendidikan ideal Mangunsarkoro yang diharapkan mampu menumbuhkan ”bahagia” dalam pendidikan.

  Pengambil kebijakan dan siapapun yang berkepentingan dengan pendidikan, perlu membaca kembali tulisan S. Mangunsarkoro agar pendidikan di masa mendatang membawa kebahagiaan. 

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar