Kegembiraan Bersekolah melalui Lagu Anak

       Anggunpaud - Pendidikan itu berwatak melodius mengingat ada lagu-lagu mewakili. Anak-anak menjelajah ruang dan waktu dalam irama bunyi-bunyian. Lagu anak pernah memiliki riwayat kegembiraan dan kegirangan menjalani peristiwa bersekolah, pamit orangtua, bertemu guru, berteman, bermain, belajar, membuka buku-buku, dan meniti masa depan.

       Angan-angan Indonesia yang senang belajar pun hadir di mata anak-anak yang lugu dan riang. Kita mengingat tokoh penggubah lagu anak-anak, Bintang Soedibjo atau Ibu Sud. Di buku Sumbangshiku bagi Pertiwi susunan Lasmidjah Hardi (1982), Ibu Sud mengatakan, “Sesunggunya lewat lagu anak-anak dapat belajar apa saja. Belajar mengenal keindahan alam, sekolah, orang tua, hewan kesayangan, bunga atau lainnya. Kesadaran untuk mencintai alam, Tuhan, orang tua, nusa dan bangsa, dapat diajarkan lewat nyanyian.”

       Tahun 1928, V.O.R.O (Vereniging voor Oosterse Radio Omroep) memutar lagu-lagu ciptaan Ibu Sud. Salah satu lagu berjudul “Bila Sekolah Usai” sangat disukai anak-anak. Lagu ini menjadi penghayatan anak atas pengalaman dan kehidupan di sekolah. Rasa lelah di sekolah terobati oleh lonceng tanda pulang. Ada narasi kerapian sejak kecil dengan menyimpan alat tulis agar tidak tercecer. “ Jikalau sekolah sudah hampir selesai/ Segera lonceng berbunyi tandanya usai/ Guru kami berseru, berdiri dekat bangku/ Kami simpan segala perkakas sekolah/ Mana perlu tentu kami bawa ke rumah/ Riuh rendah bunyinya, bukan main senangnya/…” Petuah Kita juga bisa menemukan himpunan lagu-lagu Ibu Sud di buku Ketilang, Kumpulan Lagu Kanak-kanak (1982).

      Pelbagai tema ditampilkan oleh Ibu Sud sebagai pembelajaran bagi anak. Ada lagu begitu populer sampai sekarang berjudul “Pergi Belajar” . Lagu mengandung imperasi pergi belajar berbekal restu dan petuah dari orang tua.“O, ibu dan ayah selamat pagi/ Kupergi belajar sampaikan nanti/ Selamat belajar nak penuh semangat/ Rajinlah selalu tentu kau dapat/ Hormati gurumu sayangi teman/ Itulah tandanya kau murid budiman.” Penggunaan kata budiman melampaui kebiasaan menggunakan kata pandai atau bodoh. Pergi belajar bukan saja soal nilai, kecepatan berhitung, ketelitian membaca soal, atau menjawab pertanyaan. Budiman merujuk pada akal dan budi pekerti. Pertemuan dengan teman, guru, atau bahkan tetangga di prosesi belajar.

       Lagu-lagu Ibu Sud memang bisa dikatakan turut dalam pengentaskan kesedihan karena kekerasan perang. Zaman terlalu militeris buat anak-anak dan mereka harus disembuhkan dengan semangat berlagu. Di lagu “Taman Kanak-Kanak” (Pustaka Nada, 2008) A.T. Mahmud memberi pengenalan ruang pendidikan. Taman Kanak-kanak sebagai ruang bermain, belajar, dan bersosial. Kita cerap, Taman yang paling indah hanya taman kami/ Taman yang paling indah hanya taman kami/ Tempat bermain berteman banyak/ Itulah taman kami/ Taman Kanak-Kanak. Taman tidak cukup berdiri secara fisik, tapi terkenang di jiwa kanak karena penitipan emosionalitas.

      A.T. Mahmud mewakili anak-anak untuk memiliki ruang imajinasi bagi mereka bergerak. Taman bermain dan belajar yang benar-benar dititipi peristiwa bersama orang lain. Guru menyampaikan lagu-lagu kanak untuk menyelamatkan imajinasi dari lagu-lagu atau tepuk anti toleransi karena justru mengunggulkan superioritas agama. Lagu anak juga sudah terdesak oleh lagu-lagu pop dewasa atau dangdut yang mengakrabi hampir setiap ruang; rumah, kantor, warung makan, warnet, dan juga kebun binatang. Sebelum anak-anak berlagu dengan nuansa lebih militeristis atau berirama dengan lagu iklan, lagu-lagu bersekolah bisa semarak sejak belia dari mulut guru dan orang tua.

*Setyaningsih, Penulis Melulu Buku (2015), di email langit_abjad@yahoo.com atau amarilisetya@gmail.com (085647037115).

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar