Pendidikan Bertumpu pada Keluarga

       Anggunpaud - Kita sering mendengar bahwa usia 0 - 6 tahun disebut juga usia emas atau golden age. Informasi terkait paling banyak dan sering ditampilkan oleh produk yang mendukung tumbuh kembang anak. Seperti iklan susu, multi vitamin, makanan, permainan, dan sebagainya. Hal inilah yang menjadikan setiap orang tua tergiur memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya di usia itu.  Namun menjadi dilematis saat orang tua sibuk bekerja dan merasa kerepotan untuk mendidik anak-anaknya sejak usia dini.

     Dalam rangka memenuhi kebutuhan pendidikan anak usia dini, pemerintah dan yayasan swasta berlomba-lomba mendirikan TK/PAUD. Hampir di setiap wilayah telah menyediakan yayasan TK/PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini). Dengan harapan dapat mengenalkan anak lebih awal pada lingkungan sekolah. Bahkan, beberapa yayasan menerapkan sistem full day. Sistem yang menerapkan pembelajaran selama sehari penuh. Mirip jam kerja seorang karyawan. Sehari enam sampai dengan delapan jam belajar di lingkungan sekolah.

      Orang tua yang notabene bekerja dengan rentang waktu yang sama, tentu sangat terbantu dengan program full day ini. Beranggapan bahwa pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya berjalan lancar, di sisi lain hak anak untuk mengenyam pendidikan tidak terabaikan. Sehingga pagi anak bisa sekalian diantar saat berangkat kerja. Sorenya ketika pulang kerja juga bisa mampir, menjemput anak dari sekolah.

      Kemudahan dan kenyamanan itulah yang banyak dimanfaatkan oleh masyarakat  terutama mereka yang berasal dari golongan ekonomi menengah ke atas. Karena biaya masuk ke sekolah yang menerapkan sistem full day tidaklah kecil. Kemudahan-kemudahan yang di dapat tidak berhenti di situ. Orang tua bisa dengan mudah mengontrol anak. Dengan adanya kemajuan teknologi, orang tua tidak perlu terlalu sering ke sekolah jika hanya sekedar melunasi biaya sekolah dan melihat perkembangan anaknya. Mereka cukup telepon untuk menanyakan perkembangan anaknya, bahkan dalam waktu yang bersamaan bisa langsung konsultasi. Untuk masalah pembayaran, bisa bekerja sama dengan bank kemudian melakukan transaksi e-banking atau via telepon. Seakan pendidikan anak menjadi tanggung jawab sekolah.

     Sedangkan orang tua cukup bekerja, dan meluangkan sedikit waktu untuk mendampingi anaknya di malam hari. Mereka menyerahkan sepenuhnya pendidikan anak itu di sekolah. Padahal titik berat mendidik seorang anak adalah di dalam lingkungan keluarga. Sekolah hanya sekadar memfasilitasi dan membantu. Ditambah lagi dengan adanya guru privat di rumah yang seharusnya menjadi tugas orang tua untuk mendampingi anak saat belajar di rumah. Kita perlu berkaca pada keluarga Haji Agus Salim (1884-1954). Dalam buku Haji Agus Salim (1985), beliau tidak bersedia mengirim anak-anaknya ke sekolah. Agus Salim lebih memilih pendidikan sendiri dengan bertumpu pada keluarga dan itu berpusat pada istrinya (ibu).

     Di sinilah benar-benar diterapkan bahwa pendidikan anak menjadi tanggung jawab orang tua. Mereka membaca buku dan menyediakan banyak buku bagi anak-anaknya. Buku dan orang tua menjadi pengetahuan pertama seorang anak sebelum mereka menerima pengetahuan dari dunia luar. Bermain Anak-anak yang berada di sekolah hampir sehari penuh, menjadikan mereka kehilangan banyak waktu untuk memenuhi naluriah mereka: bermain bersama teman-temannya di alam. Walaupun di TK/PAUD ada aktivitas bermain bersama, namun berbeda konteksnya. Anak-anak disibukkkan untuk memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut (UU No. 20 tahun 2003 Sistem Pendidikan Nasional pasal 1 butir 14 tentang tujuan pendidikan anak usia dini).

   Padahal Huizinga, yang terkenal dengan lewat bukunya Homo Ludens (1995), mengatakan bahwa manusia bersifat homo ludens berarti manusia yang bermain. Ia membuat kesimpulan bahwa "bermain" harus diutamakan karena ia sudah ada sebelum adanya "kebudayaan".  Hal ini terbukti saat kita melihat aktivitas anak-anak dengan segala gerak-geriknya. Sikap, kesedihan, kesenangan yang dilakukan justru tampak saat ia melakukan berbagai permainan.

   Selama seorang anak tidak tidur, mereka akan terus bermain. Biasanya kalau sudah bosan dengan satu permainan, baru ia akan mengganti dengan permainan lain secara spontan. Begitu seterusnya. Sehingga sifat naluriah untuk bermain inilah yang harus terus dijaga. Konsep Ki Hadjar Dewantara Konsep TK/PAUD yang senada dengan naluriah anak (bermain) sudah digagas oleh KI Hadjar Dewantara (KHD) dalam buku Taman – Indrya: Kindergarten (1959) di terbitkan oleh Madjelis Luhur Persatuan Taman Siswa Jogjakarta. KHD mendirikan sekolah bagi anak-anak di bawah umur 7 tahun dengan nama Taman Siswa: Taman Indrya pada tanggal 3 Juli 1922.  

   Sekolah ini menerapkan metode “Sari-swara”, yaitu menggabungkan “peladjaran-peladjaran lagu, sastera, dan tjeritera”. Tiga metode ini dipilih karena di dalamnya tergabung pendidikan rasa, pikiran, dan budi pekerti. Disitu anak-anak belum belum boleh mendapat pelajaran bahasa (mengasah pikiran). Karena jiwa anak-anak masih bersifat utuh bulat dan belum nampak differensiasi “tri sakti” manusia: fikiran, rasa, dan kemauan. Sehingga tidak boleh dipaksakan dalam proses pembelajarannya. Pendidikan yang di bolehkan yaitu pendidikan panca indera (menggunakan bermatjam-matjam latihan pantjaindera). Seperti bermain, menggambar, bercerita, kerajinan tangan, berkebun, berjalan-jalan, dan kegiatan panca indera lainnya. Baru setelah semua kegiatan itu terlaksana, murid dikenalkan dengan persiapan membaca dan berhitung.

     Dengan sistem seperti ini, harapannya anak-anak akan tumbuh  “kekuatan jang ada di dalam djiwanya”, pertumbuhan yang sempurna lahir dan batin. *

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar