Merindu Buku Anak

      Anggunpaud - Abad mutakhir anak semakin kehilangan hubungannya dengan buku. Jari-jarinya telah begitu terampil menggunakan “telepon pintar” yang dipenuhi aplikasi bermain dan jejaring sosial. Padahal para tetua kita sering berkata: khazanah orang melayu adalah tukang cerita. Saat seorang anak dalam buaian, ibu akan menemaninya dengan kisah kemuliaan hidup. Mereka tidak selalu orang yang bisa baca-tulis.

Kemampuan berkisah ia dapatkan secara lisan dari tetua sebelumnya. Kala itu, saat belum ada radio, televisi, dan layar lebar, mendengar cerita merupakan satu-satunya hiburan bagi orang kampung. Bila matahari sudah tenggelam dan orang sudah makan malam serta mulai istirahat, beraksilah si tukang cerita di bale-bale.  Ia bercerita dengan nada yang merata seolah-olah membaca dari sebuah kitab. Cerita itu berlanjut sampai jauh malam. Kalau tidak selesai, akan disambung lagi esok malamnya. Biarpun tukang cerita tidak bisa membaca dan menulis, ia tidak pernah membuat kesalahan dalam bercerita.

Sebab, ia sudah mendengar cerita-cerita ini sejak kecil dari ayah dan datuknya yang juga adalah tukang cerita. Mereka inilah yang dinamai sahibul hikayat. Dan dengan berceritalah mereka dikenal dari satu kampung ke kampung yang lain. Kedatangan mereka tidak pernah ditolak dan selalu mendapat sambutan hangat dari warga setempat.  Kita bisa mengerti jika dikemudian hari membuat buku bacaan anak di masa lalu relatif berkembang cukup baik. Pengakuan ini diakui oleh Christiowati dalam buku Bacaan Anak Tempo Doeloe: Kajian Pendahuluan Periode 1908 – 1945. Buku ini mengkaji cukup lengkap perkembangan buku dan bacaan anak periode itu setidaknya dalam 7 bahasa yaitu Melayu, Jawa, Sunda, Madura, Batak, Bali, dan Kaili.

Periode awal dibuka oleh Percetakan Negara di masa pemerintah penjajahan Belanda (paruh ke-2 abad XIX) melalui Landsdrukkerij. Mereka menerbitkan sejumlah bacaan anak dalam bahasa Jawa dan Sunda yang digali dari khazanah sastra rakyat Jawa dan Sunda serta khazanah sastra Arab dan India.  Selanjutnya Penerbitan Missionaris mulai aktif pada perempat awal abad XIX. Selain menerbitkan buku bertemakan ajaran gerejawi mereka juga menerbitkan buku bacaan anak berbahasa Melayu. Disusul penerbitan China peranakan yang juga menerbitkan sejumlah bacaan anak dalam ragam bahasa yang dikenal sebagai bahasa Melayu rendah (Melayu-Tionghoa). Buku yang diterbitkan meliputi karya asli para penulis China peranakan yang bersifat hiburan, pendidikan budi pekerti dan pengenalan terhadap kebudayaan China, juga terlihat terjemahan karya Barat dan khazanah sastra Arab.

Di awal abad ke XX kalangan pribumi mulai memasuki usaha percetakan. Saat itu jenis buku ?yang diterbitkan menyesuaikan wilayah tempat percetakan itu berada. Penerbit yang berlokasi di ?Sumatra menerbitkan bacaan ana berbahasa Melayu sedangkan yang di tanah Jawa menerbitkan ?bacaan anak berhasa Jawa. Perhatian khusus diberikan penulis pada buku-buku terbitan Komisi ?Bacaan Rakyat (1908-1917) dan buku terbitan Balai Poestaka (1917-1945).

Untuk buku terbitan Komisi Bacaan Rakyat (KBR) hingga awal 1917 tercatat 72 judul ?bacaan anak dalam 5 bahasa (Melayu, Jawa, Sunda, Madura, dan Batak) yang didominasi bacaan ?anak berbahasa Jawa. Setumpuk pesan moral disisipkan di dalamnya: budi pekerti, nasihat untuk menyayangi binatang, pengetahuan kesehatan, pengikisan kepercayaan bersifat takhayul yang kala itu dianggap serius. Balai Poestaka (BP) sendiri hadir mengembangkan KBR. Ia hadir untuk menunjukkan kesungguhan pemerintah Belanda dalam menangani bacaan rakyat. Dalam tema sastra rakyat tradisional diterbitkan buku bersumber dari terjamahan buku-buku bahasa Belanda, sastra rakyat pribumi yang dikumpulkan oleh pemerintah Belanda, buku yang ditulis kembali oleh penulis pribumi.

Karya penulis pribumi yang unggul di masa itu diantaranya Si Djamin dan Si Djohan (1918) karya Merari Siregar mengalami cetak ulang ke-11, Pemandangan dalam Doenaia Kanak-Kanak(1924) yang kemudian diubang judulnya menjadi Si Samin pada tahun 1977 mengalami cetak ?ulang ke-8, Si Doen Anak Betawi (1936) yang kemudian diubah judulnya menjadi Si Dul Anak Jakarta Karya Aman mengalami cetak ulang ke-15.

Dunia perbukuan di masa penajajahan Belanda beralih ke masa pendudukan Jepang (1942-??1945). Balai Pustaka tetap dibuka namun beralih dengan nama Kokumin Tosyukyoku. Buku-?buku anak di masa ini diterbitkan khusus untuk mendukung kebijakan politik Jepang dalam ?upaya tercapainya “Kemenangan Asia Timur Raya”. Maka wajar jika buku-buku yang hadir di ?masa itu bernuansa bela negara (tanah air) dan nilai kerja keras.?

Di abad mutakhir kita akan kesulitan menemukan buku bacaan anak yang berkualitas dengan ragam yang memadai. Di toko buku kita justru banyak menemukan buku terjemahan dan buku impor. Kita berbahagia 2015 kemarin pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengadakan “Lomba Penulisan Cerita Rakyat”. Kita berharap cerita rakyat itu segera hadir di toko buku tentu orang tua harus berjuang keras menjadi juru kisah disela?kesibukannya.

Walau kita sering menganggap remeh perihal berkisah. Namun tidak bagi McClelland. Baginya memberikan anak asupan kisah adalah salah satu The Need fot Achievement (n-Ach) “kebutuhan berprestasi” bagi anak (Kreatif menulis cerita anak, Titik Ws).  Dalam artikelnya McClelland mempertanyakan mengapa ada bangsa-bangsa tertentu yang ?rajyatnya bekerja keras untuk maju. Dia memperbandingkan bangsa Inggris dan Spanyol, yang pada abad ke-16 merupakan dua negara raksa yang kaya raya. Namun, sejak itu Inggris terus ?berkembang menjadi makin besar, sedangkan Spanyol menurun menjadi negara yang lemah.

Mengapa hal itu terjadi? Apa penyebabnya.? Setelah berbagai data dan informasi diperiksa ia tidak menemukan jawaban. Ia pun mulai memperhatikan hal lain: cerita dan dongeng anak-anak yang terdapat di dua negeri itu. Tampaknya dongeng dan cerita anak-anak di Inggris pada awal abad ke-16 mengandung semacam ‘virus’ yang menyebabkan pendengar atau pembacanya terjangkiti penyakit ‘butuh berprestasi (n-Ach)’. Sementara cerita anak dan dongeng yang ada di Spanyol justru menina-bobokkan, tidak mengandung virus tersebut.

McClelland juga mengumpukan 1300 cerita anak dari banyak negara dari tahun 1925 dan 1950. Kesimpulannya bahwa cerita anak-anak yang mengandung n-Ach tinggi pada suatu negeri, selalu diikuti dengan adanya pertumbuhan yang tinggi di negeri itu dalam kurun waktu 25 tahun kemudian. Mengapa orang Minang suka merantau? Mengapa orang Batak mendirikan tugu pada ?kuburan orang tua mereka? Mengapa ada kelompok-kelompok suku di Indonesia yang seolah-olah ketinggalsn perkembangannya? Jika kita menggunakan kacamata McClelland, kita bisa menjawab mungkin dipengaruhi cerita-cerita yang berkembang di masyarakat suku tersebut. Lantas bagaimana nasib negeri ini di masa depan, 25 tahun yang akan datang? Mungkin McClelland akan menjawab: lihatlah seberapa banyak nilai yang mampu kau titipkan dalam setiap kisah dan setiap buku anak. ***

Ilustrasi gambar dari: http://google.com

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar