Mengembangkan Rasa Percaya Pada Anak

Di awal kehidupan anak harus terbentuk basic trust. Kehangatan dan kasih saying yang didapat anak merupakan bekal di masa mendatang untuk bisa berbagi, mudah bersosialisasi dan gampang berteman. Walaupun setiap anak memiliki kepribadian yang berbeda, namun persepsi terhadap hubungan sosial akan lebih bagus bila sejak bayi sudah terbentuk basic trust. Bila pada usia 0-1 tahun tak terbentuk basic trust, setelah dewasa dikhawatirkan anak takkan percaya pada orang lain, mudah curiga dan tidak bisa beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya. Peran Ibu Umumnya,basic trust terbentuk berawal dari ibu sebagai pengasuh utama. Hal ini dapat dilakukan ibu sejak ibu mengandung dengan cara berbicara dengan anak sambil mengelus perut dengan penuh rasa kasih sayang. Kemudian setelah anak lahir, diperkuat dengan pemberian ASI. Hal ini dapat dilakukan ibu dengan cara menatap anak dan mengajak anak untuk berkomunikasi. Peran Ayah Ayah juga memiliki peran yang besar dalam menumbuhkan rasa aman dan percaya pada anak. Ikatan emosi ini dapat dilakukan ayah sejak anak masih dalam kandungan, dengan membelai perut ibu dan berbicara dengan anak. Kasih sayang dan perhatian ayah terhadap ibu pun juga dapat membantu anak merasa aman dan terlindungi karena sosok ayah dilihat sebagai pelindung dalam keluarga. Ayah dan ibu juga dapat melakukan permainan atau saling berbagi cerita dengan anak sehingga keterikatan emosi yang hangat dan penuh kasih sayang dapat terus terjalin. Hal ini dapat dilakukan dimanapun dan pada saat kapan pun, misalnya ketika dalam perjalanan ataupun saat makan bersama. Hindari Konflik Ayah dan ibu harus bisa bekerja sama dan saling mengisi karena kedua orang tua adalah mitra dalam merawat, mengasuh dan mendidik anak. Ayah dan ibu sebaiknya saling mengkomunikasikan kebutuhan dan pandangannya baik sebagai pribadi, pasangan maupun sebagai orangtua agar terjalin kerjasama yang baik.Jangan sampai ada pertentangan antara ayah dan ibu karena anak akan bingung menampilan perilaku mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Jika konfliknya seringkali terjadi bahkan bahkan sampai menjadi perang dingin antara ayah dan ibu, anak akan menyadari akan adanya perubahan tersebut dan membuatnya bertanya-tanya, seperti “Kok kita mainnya berdua ayah saja, ibu kemana?” “kita kok udah ngga pernah jalan sama sama lagi?” “ayah sama ibu kok udah jarang ajak aku menggambar bareng lagi sih?” pertanyaan seperti itu akan anak tanyakan jika konflik antara ayah dan ibunya kerap berlangsung sesering mungkin. Hal ini jangan dianggap remeh karena akan mempengaruhi rasa aman dan tingkat kepercayaan anak terhadap kedua orangtuanya. Jika ada perbedaan pendapat dalam mengasuh anak sebaiknya ibu dan ayahnya mendiskusikannya terlebih dahulu dan membuat kesepakatan yang akan dijalankan bersama.

Hanna F, Nurfadilah

gambar diambil dari google.com

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar