SAAT PEREMPUAN MENJALANKAN PERAN GANDA

Anggunpaud - Momentum Hari Ibu setiap 22 Desember merupakan perayaan semangat perempuan Indonesia di mana kaum ibu pada waktu itu sudah memikirkan bangsanya melalui gerakan perempuan nasional dalam Kongres Perempuan ke-1 pada 22-25 Desember 1928.

Semangat perempuan Indonesia terus diwariskan hingga kini yang direfleksikan melalui  peran ganda kaum perempuan. Pergeseran zaman telah memunculkan peran ganda perempuan baik dalam keluarga maupun ruang publik.

Peran perempuan dalam keluarga atau sering disebut peran dalam sektor domestik adalah melaksanakan fungsi pengasuhan dan pendidikan bagi anak-anak. Keluarga juga mempunyai tujuan yang sama yaitu untuk mencapai kesejahteraan seluruh anggota keluarga. Perempuan dalam hal ini mempunyai posisi yang strategis. Sudah menjadi kodrat bahwa perempuanlah yang mengandung, melahirkan, dan menyusui anak-anaknya. Oleh karena itu, tidak heran apabila perempuan mempunyai perhatian dan perasaan lebih besar terhadap anak-anaknya.

Sementara peran perempuan di ruang publik, sering dikaitkan dengan tuntutan perempuan harus bekerja. Kondisi tersebut terjadi seiring dengan perubahan kondisi sosial masyarakat akibat adanya tuntutan pemenuhan kesejahteraan keluarga, maka terjadi peningkatan yang cukup signifikan pada prosentase perempuan yang bekerja.

Ibu yang bekerja berpotensi mengalami konflik peran ganda, dimana kondisi menempatkan mereka pada kesulitan dalam mengatur waktu dan dirinya dalam pelaksanaan tugas sebagai ibu rumah tangga yang sekaligus sebagai ibu bekerja, akhirnya perkembangan anak terabaikan.

Menurut beberapa kajian yang telah dilakukan, baik di Indonesia maupun di luar negeri, ternyata dampak negatif yang diakibatkan oleh ibu bekerja adalah kurangnya waktu kebersamaan antara orangtua dan anak.

Salah satu cara yang dapat kita lakukan untuk mengatasi dampak negatif tersebut adalah melibatkan peran ayah dalam pengasuhan anak.  Karena ternyata kelekatan hubungan emosional serta ketersediaan sumber daya yang diberikan oleh ayah dapat berpengaruh pada perkembangan kognitif dan kompetensi sosial anak (Hernandez & Brown dalam Farida dkk, 2011).

Anak yang memiliki perkembangan kognitif yang baik akan cenderung memiliki prestasi akademik yang baik, dan demikian sebaliknya. Selain itu, dalam hal perkembangan sosial, anak yang memiliki kelekatan hubungan emosional dengan ayah cenderung tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri.  Dalam mendidik anak tidak hanya tugas dan tanggung jawab ibu saja, tetapi dalam keluarga ayah pun mempunyai kewajiban yang sama dengan bekerja sama secara solid.

Masyarakat selayaknya perlu memberikan apresiasi kepada kaum ibu dan mendudukkan  mereka sebagai makhluk Tuhan yang paling berjasa dalam kehidupan kita. Perempuan dan kaum ibu mampu bertahan dan tegar dalam keluarga sebagai seorang pembimbing, pengajar, pendidik, dan  mengatur anak-anaknya. Perempuan Memiliki kekuatan dan keperkasaan layaknya laki-laki untuk bertahan dan pantang menyerah sehingga tidak mudah putus asa.

Ibu adalah benteng utama dalam keluarga.  Peningkatan kualitas sumber daya manusia  dimulai dari peran ibu dalam memberikan pendidikan terbaik kepada anak-anaknya sebagai generasi penerus bangsa.***

Ilustrasi gambar dari: http://google.com

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar