Menegur Tanpa Amarah

       Anggunpaud - Anak perlu mengerti konsep teguran, sebagaimana mereka harus paham konsep benar salah. Teguran perlu diketahui, sebagai akibat dari sebuah kesalahan. Ada syarat mutlak dalam menegur anak. Yakni harus tanpa rasa amarah. Karena bila dalam menasehati atau menegur anak disertai rasa amarah, maka kalimat-kalimat yang meluncur dari bibir akan melukai hati anak.

Kalimat “Marah dan ngamuk itu tidak baik, tidak keren, tidak hebat” akan diterima anak dengan senyum manakala dilandasi dengan cinta kasih. Namun apabila diucapkan dengan disertai amarah, anak akan bersikap sebaliknya. Bila amarah menyertai teguran, maka teguran tersebut justru akan menyulut kemarahan anak yang lebih besar. Menasihati dan menegur anak pada hakikatnya adalah curahan kasih sayang kita kepada mereka. Bentuk kepedulian orangtua kepada anak-anaknya. Wujud rasa cinta guru pada siswa-siswanya.

Ada empat cara yang bisa dilakukan agar kita terhindar dari rasa amarah saat menasihati dan menegur anak/siswa:

Pertama, mari selalu menjaga pikiran dan hati agar selalu dalam kebaikan, penuh cinta, dan kasih sayang. Sirnakan iri hati, buruk sangka dan hal-hal negatif lainnya, karena itu semua adalah sumber energi negatif. Caranya dengan tidak mengkonsumi informasi-informasi yang bisa memicu pikiran negatif. Misalnya mendengarkan dan membicarakan keburukan orang lain alias menggosip. Atau kebiasaan untuk membanding-bandingkan antara antara anak kita dengan anak orang lain yang kebetulan tingkah polah kesehariannya lebih terkendali, bahkan cenderung anteng (tenang).

Kedua, Saat sudah berhadapan dengan anak, fokuslah. Lupakan sejenak segala hal yang membebani pikiran. Jangan sampai, antara pikiran, perasaan dan tubuh tidak sinkron. Tubuh kita di hadapan anak, tapi pikiran dan hati kita lari entah ke mana. Gagal fokus akan menyebabkan kita tidak bisa dengan tepat memenuhi permintaan anak, dan situasi justru akan membuat kita pusing sendiri.

Ketiga, saat pikiran dan hati dilanda dilanda rasa rusuh, amarah kita susah dikendalikan, sementara anak mengamuk, maka cobalah untuk tidak langsung berhadapan dengan anak. Menyingkirlah sesaat. Diamlah sejenak. Keluarlah dari perangkap ekspresi kemarahan yang tidak terkendali. Jika perlu, masuk ke kamar mandi, berwudulah.

Keempat, bila sama-sama sudah tenang, datangi si anak, peluk ia. Minta maaf padanya. Katakan bahwa Anda sangat menyayanginya, tapi juga menyayangi kakak/adiknya/teman-temannya. Ia tidak boleh menyakiti mereka. Katakan kepada anak bahwa Anda tadi “meninggalkan” nya sejenak untuk menenangkan hati agar tidak ikut-ikutan marah. Bukan karena jengkel atau ingin menghukum. Kepergian Anda adalah teguran paling halus kepada buah hati dan siswa Anda. Sekaligus menjadi cara Anda memberikan pengertian kepadanya bahwa orang akan takut mendekat ke orang yang sedang marah. Hobi marah akan membuat ia tidak punya teman. ***

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar