Anak, Agama dan Spiritualitas

Setiap anak usia dini umumnya diajari oleh orang-tuanya pelajaran agama. Misal, kalau di dalam keluarga muslim, anak diajari melakukan salat wajib, diajari cara berwudu, dan bahkan mungkin pelajaran manasik haji dan umroh. Tapi apakah anak-anak usia dini itu diajari pelajaran spiritualitas? Jawabannya, belum tentu.

Baguslah bahwa pelajaran agama di Indonesia diberikan kepada anak didik sejak usia taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi. Pelajaran agama itu di tingkat sekolah dasar sampai perguruan tinggi masuk di dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) dan kurikulum 2013. Dan menunya lebih banyak lagi di sekolah-sekolah swasta yang berafiliasi ke agama tertentu.

Apakah pelajaran agama saja cukup untuk meningkatkan keberagamaan anak didik? Jika yang ditarget dalam pelajaran agama adalah pengetahuan kognitif, mungkin cukup. Tapi jika target pelajaran agama adalah meningkatnya kesadaran beragama yang mendalam dalam bentuk toleransi, kewelas-asihan kepada sesama, etos kerja yang tinggi, dan karakter-karakter positif lain, maka efektivitas pelajaran agama di Indonesia masih menjadi tanda tanya besar.

Fakta di masyarakat, berapa banyak koruptor di Indonesia yang dikenal masyarakat luas sebagai orang yang rajin beribadah dan menyandang gelar-gelar keagamaan? Berapa banyak kejahatan-kejahatan kemanusiaan yang dilakukan oleh mereka yang berdalih memanggul panggilan agama? Berapa banyak orang yang melakukan tindakan penipuan dan kejahatan seksual dari kalangan mereka yang memakai gelar-gelar keagamaan dan simbol-simbol keagamaan?

Idealnya, manusia agamawan (yang menjalankan agama) semestinya otomatis menjadi manusia spiritual (yang berperilaku sesuai ajaran agama). Namun banyak fakta yang menunjukkan bahwa pengetahuan agama, bahkan praktik beragama dengan rajin beribadah misalnya, tak selalu berbanding lurus dengan perilaku yang mencerminkan nilai agung agama. Fakta inilah yang menjadi keprihatinan banyak tokoh agama. Salah satunya Y.B. Manungunwijaya, rohaniwan agama Katolik, yang pernah menulis buku Menumbuhkan Sikap Religius Anak-anak (Gramedia Jakarta, 1986).

Dengan bahasa puitis, Romo Mangunwijaya menggambarkan relasi agama dan spiritualitas (religiusitas adalah kata yang dipakai Mangunwijaya) seperti ini, “Agama laksana daun-daun kelopak bunga bahkan madu, yang indah sedap. Tetapi religiusitas bagaikan sari bunganya yang mengandung kehidupan. Kedua-duanya penting, tetapi toh kehidupan dan penghidupan yang paling menentukan. Pada akhirnya, Tuhan menilai manusia bukan atas dasar fakta kita memeluk formal agama mana, melainkan pada kualitas religiusitas kita masing-masing.”

Pelajaran agama di sekolah karena itu membutuhkan kelengkapan berupa penumbuhan spiritualitas, atau kecerdasan spiritual menurut istilah yang digagas ilmuwan Danah Zohar dan Ian Marshall (SQ, Mizan, 2001). Kecerdasan spritual yang dimaksud Zohar dan Marshall adalah kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan persoalan makna dan nilai; kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup kita dalam kontek makna yang lebih luas dan kaya; kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain.

Namun sejatinya spiritualitas bukanlah sesuatu yang harus diajarkan kepada seorang anak, karena spiritualitas itu sudah ada di dalam dirinya. Jadi berdasarkan thesis ini, spiritualitas sebetulnya sudah tumbuh sejak anak dilahirkan. Untuk mengembangkannya, orang tua hanyalah dianjurkan untuk juga bertumbuh menjadi manusia yang spiritual (baca artikel lain di laman ini: Anak-anak adalah Mahluk Spiritual).

Toh bagaimana pun dibutuhkan pengetahuan tentang prinsip-prinsip penumbuhan spiritualitas pada anak. Dan berikut ini kiat yang diwariskan Romo Mangunwijaya melalui bukunya. Pertama, menghargai anak. Menghormati anak ini dilakukan sejak sebelum pembenihan -- yang tak boleh dilakukan secara sembarangan. Penghargaan yang bersinar dalam diri orang tuanya itulah modal pertama bagi proses pendidikan selanjutnya.

Kedua, kemampuan bertanggungjawab atas hal-hal sehari-hari. Pendidikan religius anak-anak harus dimulai dengan pendidikan menghargai serta bertanggungjawab terhadap hal-hal sehari-hari. Dengan mental apa kita bermain sepakbola, dengan kata-kata apa kita memberi sedekah kepada pengemis, itu semua sangat relevan untuk kehidupan dan pendidikan religius.

Ketiga, kemampuan untuk kagum dan bertanya. Anak memiliki bakat untuk kagum, bertanya, dan berimajinasi. Sikap suka bertanya tentang penyebab segala kejadian, kepekaan terhadap sesuatu yang penuh misteri dan kemampuan untuk kagum murni, serta mengagumi dunia lambang dan puisi, itulah modal vital bagi cita rasa religius. *

Nugroho, aktivis pendidikan

 

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar