Metode Belajar Sang Penemu

ANGGUNPAUD - Alkisah termasyhur, anak yang dikeluarkan dari sekolah oleh gurunya itu sedang mengerami telor ayam. Si anak itu hanya ingin membuktikan bahwa, bukan karena dierami oleh induk ayamlah sebuah telor menetes. Tapi, telor ayam menetas karena terpapar suhu panas.

Pada masanya, tidak ada cara sederhana, meski terdengar gila, selain mengerami sendiri telor ayam eksperimen itu. Dan, si anak ternyata benar! Yang menarik, ibu si anak tidak pernah menegur apalagi melarang si anak mengerami telur ayam. Si ibu yang seorang guru tahu dan sadar, si anak sedang melakukan eksperimen pembuktian sains. Setelah anaknya dikeluarkan dari sekolah, karena dianggap berotak udang oleh gurunya, praktis yang mengajar si anak adalah sang ibu dan buku-buku.

Sang ibu dengan telaten mengajari anaknya membaca. Ternyata, kesabaran si ibu berhasil, Thomas Alva Edison, anak termasyhur itu, bisa membaca akhirnya. Arus ilmu sudah terhubung dengan pikiran dan raganya. Dan, sejak bisa membaca apalagi tidak pergi ke sekolah lagi, Thomas lebih banyak membaca sendiri buku-bukunya, selain turut membaca koran-koran yang dijualnya di Grand Truck Railway. Thomas menabung uang jajan dan koran untuk membeli buku, dan terutama untuk membeli peralatan laboratorium eksperimen yang dibuatnya sendiri di rumah.

Thomas suka buku-buku sains seperti fisika, kimia, biologi, teknologi, dan sebagainya. Dia membeli buku di toko dan membuat perpustakaan pribadi. Semua tamat dibacanya dengan metode eksperimental langsung. Setelah selesai berjualan koran, Thomas sangat suka sekali berada di kamar laboratoriumnya. Dia membuat berbagai peralatan, mencoba berbagai sesuatu yang menurutnya sangat menarik dari hasil pembacaannya.

Pernah, Marie, teman Thomas datang ke rumah laboratorium Thomas.  "Aku membaca tentang balon yang diisi dengan gas bisa terbang ke udara; karena itu aku ingin mencobanya,” kata Thomas pada Marie. “Siapa yang mengajar kamu semua ini, Thom?” tanya Marie. “Aku belajar sendiri dari buku-buku ilmu alam, Marie.” Lalu Thomas menyuruh Marie membawa satu balon eksperimennya. “Bawalah balon ini ke luar, lalu lepaskan. Pasti akan dibawa angin ke udara,” kata Thom. “Aku tidak percaya Thom. Kemarin ayah meniupkan angin ke dalam balon adikku, tapi tidak bisa melayang ke udara,” kata Marie. “Tentu saja tidak bisa, sebab angin yang ditiupkan ayahmu itu lebih berat dari udara,” kata Thom menjelaskan. Balon itu akhirnya dilepaskan di halaman, dan mengudara. Marie takjub.

Pada suatu hari, saat sedang menjajakan koran, Thom melihat seorang anak yang hampir saja tertabrak kereta api. Beruntung Thom segera menariknya ke pinggir. Anak itu selamat. Ayah si anak, ternyata, adalah seorang yang mengenal ibu Thom dan cerita eksperimen Thom. Si bapak akhirnya mengajak Thom ikut kursus telegraph yang diampunya sendiri. Tentu saja Thom mau, apalagi dia juga bakal dipekerjakan. Thom, yang sebelumnya hanya belajar otodidak, bisa belajar dengan teratur. Dia giat sekali belajar, selain tetap dengan kesibukan eksperimennya. Lalu, tiba masanya dia pergi ke kota New York untuk mencari kerja. Ibunya berpesan agar Thom tetap menjadi orang yang giat belajar, bekerja, dan jujur.

Awalnya, Thom luntang luntung, dan bekal dari rumah hampir habis, yang memaksanya hidup di pinggir stasiun kereta. Pada suatu hari, satu kereta ngadat, Dr Laws sebagai kepala stasiun bingung. Tak ada masinis dan montir yang bisa memperbaiki, padahal kereta sudah harus segera berangkat. Thom melihat kejadian itu dan menawarkan jasanya. “Saya Thomas Alva Edison berasal dari Ohio, Milan. Saya kemarin untuk mencari pekerjaan. Saya mempunyai pengalaman dalam mesin telegraph dan ijazah saya adalah juru telegraph,” jawab Thom. Akhirnya, Thom diberi kesempatan untuk membetulkan, dan dia berhasil memperbaiki dengan cepat.

Sejak saat itu, dia bekerja di sana. Itu masih perjalan pendek Thoms. Dia tetap melakukan ribuan eksperimen yang membuatnya terkenal di seluruh dunia. Dari perjalanan belajar Thomas Alva Edision, dunia pendidikan sadar bahwa pengajaran sains yang terbaik, salah satunya, adalah menerjunkan langsung sang murid dalam eksperimen sains, tidak boleh terlalu terpapar dalam buku teks.

Dan, yang paling mendasar, tiap ilmuwan penemu adalah orang yang tidak mungkin diajari terus-menerus. Penemuan bukanlah hasil pelajaran yang sudah ditemukan dan bisa diajarkan dalam buku teks kurikulum. Penemuan adalah hasil pembelajaran penjelajahan. Maka, guru terbaik dalam sains adalah mereka yang membawa para muridnya ke dalam eksperimen-eksperimen yang terdepan, yang sering bahkan tidak diketahui sang guru sendiri. Thomas Alva Edision adalah bukti semua itu.

M. Fauzi Sukri, Penulis Guru dan Berguru (2015)

Ilustrasi gambar dari: http://google.com

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar