Pahlawan Guru!

       Anggunpaud -  "Guru, pahlawan tanpa tanda jasa". Kalimat yang kerap diucapkan dan akrab di telinga. Namun, nada pengucapan kalimat legendaris itu bisa beragam, mulai dari rasa takdim, sunyi senyap tak perlu kata apa pun, gerutu dalam hati penuh marah jika melihat kondisi kesejahteraan finansial, sampai nada perlawanan terhadap orang-orang tak tahu diuntung yang berkali-kali mengucap kalimat itu.

Kepahlawanan guru seakan hanya wajib dalam sunyi. Rasanya tidak pantas mendaulat guru sebagai pahlawan kemerdekaan nasional, pahlawan proklamator, pahlawan revolusi, pahlawan nasional, atau sekadar pahlawan. Kriterianya, sejak Keputusan Presiden No. 241 tahun 1958, sebenarnya hanya mengacu pada hal: politik praktis dan militer. Inilah yang mengaburkan fakta penting bahwa, sebenarnya, sungguh sebagian besar para tokoh nasional Indonesia jauh sebelum menjadi politikus (atau anggota militer bahkan) adalah seorang guru.

Ini hal lumrah bahkan sewajibnya dalam sejarah kebangkitan kebangunan akal budi warga Indonesia. Sejak Kartini ajakannya adalah selalu menjadi seorang guru, bukan pertama-tama menjadi politikus. HOS Tjokroaminoto, Ahmad Dahlan, Tan Malaka, Alimin Prawirodirdjo, Sukarno, Mohammad Hatta, Soewardi Soerjaningrat, Surjopranoto, Danudirdja Setiabudi, Agus Salim, Sutomo, Hasjim Asj’ary, Dewi Sartika, Nji Ageng Serang, dan seterusnya, semuanya pernah bahkan menjadikan pendidikan-pengajaran sebagai medan perjuangan seumur hidup.

Kebangkitan Indonesia, pertama-tama, adalah kebangkitan pendidikan-pengajaran, bukan kebangkitan politik atau militer. Namun, memang sejak Orde Baru muncul terutama dengan geger 1965, citra kepahlawanan begitu dekat dengan militer. Di Taman Makam Pahlawan Kalibata Jakarta, telah menghuni sekitar 7000 orang pahlawan. Sekitar 5000 berasal dari militer yang didominasi Angkatan Darat, lalu sekitar seribu orang dari Angkatan Laut, Angakatan Udara, dan Polri. Dari kalangan sipil sekitar seribu, dengan hanya 23 orang pahlawan nasional (Asvi Marwan Adam, 2005). Angka tersebut sudah bisa mematahkan darma keguruan dalam imajinasi kolektif kepahlawanan di Indonesia.

Memang terjadi perubahan besar etos keguruan yang terjadi dalam sejarah Indonesia. Jika sejak zaman Kartini dan tokoh-tokoh Indonesia pada awal abad ke-20 begitu kuat menjadi pioner pergerakan pendidikan-pengajaran, yang terjadi sekarang lebih banyak sebagai arus profesi ekonomi—tentu tidak ada yang salah dengan pilihan ini.

Sekilas, hal ini barangkali dianggap biasa saja. Namun, perubahan etos keguruan ini berpengaruh besar pada daya jelajah pemikiran dan tindakan kepengajaran. Pada awal abad ke-20, kita bisa mencatatnya sebagai salah satu puncak pemikiran pendidikan-pengajaran di Indonesia. Para tokoh pendidikan bukan sekadar membuka sekolah, tapi mereka juga menjadi pemikir pendidikan-pengajaran, bahkan sebagian sangat orisinal untuk zamannya bahkan sampai sekarang.

Salah satu yang cukup pantas untuk dikaji terus adalah pemikiran Moh. Sjafei, pendiri INS Kayutanam. Dalam pemikiran Sjafei, kecerdasan manusia tidak terutama terletak dalam otak manusia, namun juga dalam seluruh tubuh, terutama tangan manusia. Kecerdasan tanganlah yang mampu membuat manusia bahkan satu bangsa bisa mandiri dan berdaulat secara ekonomi. Tangan manusia adalah organ tubuh yang paling banyak digunakan, paling banyak membawa kemanfaatan, dan yang paling banyak mencipta dalam kehidupan manusia. Dan, kata Sjefei, kita tidak bisa melihat tangan sebagai hanya berfungsi secara ragawi, tapi sudah seharusnya melihat sebagai organ yang berkecerdasan. Kecerdasan tangan manusia bisa mencipta benda-benda dan inilah yang dilihat Sjafei sebagai kekurangan utama bangsa Indonesia.

Indonesia yang melimpah dengan sumberdaya alam ternyata dijajah Eropa, tak makmur-makmur, bukan karena kalah cerdas otak, namun kalah cerdas tangan. Namun, jika melihat etos berilmu para guru mutakhir dan melihat fungsinya, kita lebih banyak mendapati guru hanya berfungsi melakukan sosialisasi ilmu (khususnya yang sudah disodorkan pemerintah), bukan penemuan ataupun penciptaan ilmu. Sangat sedikit guru yang menulis, begitu juga sangat sedikit yang mencipta sendiri alat-alat pengajaran yang menarik, unik, imajinatif.

Dengan kata lain, dalam terminologi sosial, kerja keguruan tidak begitu mengarah pada etos kepahlawan dalam berkeilmuan. Sayangnya, hal ini berlaku dari tingkat pendididikan-pengajaran dasar sampai perguruan tinggi. Dan, ironisnya, tidak ada tuntutan secara moral personal agar guru pantas dipahlawankan secara keilmuan dari masyarakat Indonesia. M. Fauzi Sukri, Penulis Guru dan Berguru (2015)

Ilustrasi gambar dari: http://google.com

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar