Mengajak Anak Bercakap-Cakap Sejak Dini

Anggunpaud  -  Setiap pagi, istri saya selalu mengajak anak saya bernyanyi dan bercakap-cakap dengannya. Anak saya seorang putri, bernama Aisyah Nur Azkadina. Meski baru berusia 1,5 bulan, tapi kami selalu merangsangnya untuk bercakap dan berdialog.

Cukup membuat kami kagum karena selain tatapan yang mulai fokus pada lawan bicara, ia juga sering berteriak sembari tersenyum manis. Dalam masa-masa tersebut, kita faham bahwa masa-masa usia dini adalah masa yang penting. Di masa itu pula mulai tumbuh dan berkembang otaknya.

Perkembangan linguistiknya juga mulai muncul. Bila kita tak merangsang perkembangan bahasanya, maka anak-anak akan mengalami keterlambatan dalam kemampuan wicaranya. Biasanya, usia setahun anak-anak sudah bisa mengucap wicara meski hanya beberapa kata : baba ,bubu, mama, papa. Hal ini tentu saja bukan sesuatu yang instant. Membutuhkan proses dan kesabaran. Kalau orangtua tak biasa cerewet, maka biasakanlah cerewet kepada anak.  

Di usia dini, 0-6 tahun  menurut para ahli, anak merespon dengan begitu cepat utamanya dalam hal merekam kejadian atau aktifitas yang ada disekitarnya. Apalagi sensor suara, mereka sudah mulai menangkap dan menyimpan dalam memori otaknya. Perkembangan linguistik pada anak penting diperhatikan.

Dalam Kurikulum Taman Kanak-Kanak tahun 2010 kecerdasan verbal-linguistik meliputi :

a. Keterampilan menerima bahasa : keterampilan menerima bahasa dapat dilihat pada kemampuan anak menyimak perkataan oranglain dan dapat mengerti dua perintah yang dilaksanakan bersamaan.

b. Keterampilan mengungkapkanbahasa : indikatornya bisa mengulang kalimat sederhana, menjawab pertanyaan sederhana, mengungkapkan perasaan dengan kata sifat.

c. Keterampilan keaksaraan: mengenal suara-suara hewan, atau benda yang ada disekitarnya.

Mengamati dan terus menjaga pertumbuhan dan perkembangan linguistik anak menjadi penting. Sebab anak semenjak lahir sudah dibekali satu trilliun sel otak sebagaimana yang ditulis oleh Gunawan Adi.W dalam bukunya Genius Learning Strategy—petunjuk praktis untuk menerapkan accelerated learning. Oleh karena itu, semakin dini kita mengajak anak-anak untuk berkomunikasi, maka semakin anak cepat merespon dan melatih daya kembang otaknya utamanya dalam hal linguistik.

Tak boleh kiranya, orangtua hanya mendiamkan anaknya ketika menangis, ketika melamun, bayi memerlukan contoh bagaimana merespon percakapan kita. Karena paling dekat dengan anak, orangtua tidak boleh pasif untuk terus mengajak anak mereka bercakap dan berbicara.***

Arif Yudistira (Peminat Dunia Pendidikan dan Anak, Penulis Buku Ngrasani (2016)

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar