Fabel Itu Guru

Sebuah negeri makmur sedang bermasalah dengan tiga anak muda. Mereka adalah anak raja yang bakal menjadi pemimpin. Amarshakti, sang raja, begitu resah terhadap nasib negeri dan rakyat jika dipimpin anak-anaknya. Ketiga anak itu amat bodoh dan tak berminat belajar.

Raja mengeluh di hadapan para menterinya. “Anak bisa dibagi tiga: anak yang belum lahir, anak yang sudah meninggal, dan anak yang bodoh. Dua yang pertama hanya menyebabkan satu kali kesedihan. Tapi, anak yang bodoh adalah siksaan hati sampai akhir hanyat,” kata sang raja. Ia pun meminta pertimbangan pada para menterinya agar tiga anaknya bisa mendapatkan pencerahan-pendidikan.

“Yang Mulia, diperlukan 12 tahun untuk mempelajari tata bahasa. Dan jauh lebih lama lagi untuk menguasai ilmu ekonomi, pemerintahan, dan lainnya yang begitu luas. Hanya dengan cara itu kecerdasan dapat berkembang,” kata seorang menteri. Raja yang sudah tua gundah.

Seorang menteri yang lain berkata, “Hidup kita tidak kekal dan untuk mengetahui segenap pengetahuan itu tak ada batasnya. Hamba pikir, kita harus mencari cara yang lebih singkat. Saya mengenal Vishnu Sharma, seorang guru yang sangat ahli pendidikan dan menguasai ilmu pengetahuan. Jika baginda berkenan, hamba menganjurkan agar tiga putra baginda diajari dan dididik Vishnu Sharma.” Raja cukup senang.

Vishnu Sharma datang atas undangan raja dan bersedia mengajari-mendidik tiga putranya. “Tolong ajari anak-anakku pencerahan dan pengetahuan (nitisastra) dalam waktu yang singkat. Aku akan menghadiahkan seratus kampung tanpa kewajiban membayar pajak,” kata raja.

Vishnu Sharma menolak, “Usia hamba sudah hampir 80 tahun, dan sepanjang usia ini hamba sudah mendapatkan apa yang hamba dambakan. Jika baginda menghendaki, catatlah tanggal hari ini. Kalau hamba belum berhasil mengajarkan nitisastra selama enam bulan kepada para pengeran, maka hamba tak berhak masuk surga.” Demikianlah, akhirnya tiga pangeran itu dididik Vishnu Sharma, seorang guru abadi yang hidup 200 tahun sebelum Masehi.

Ternyata Vishnu Sharma hanya mengajarkan fabel: kisah hewan berhikmah. Kelak, kita mewarisi kitab pendidikan termasyhur dari India itu, Panca Tantra. Buku ini terbagi menjadi lima bab: (1) Retaknya Persahabatan, (2) Membina Persahabatan, (3) Ikhtiar dan Siasat, (4) Kehilangan Keberuntungan, dan (5) Ceroboh. Semuanya kisah fabel yang sederhana, cerdas, memukau.          

Dalam pendidikan dini bahkan pada tingkat tertinggi sekalipun, fabel adalah pola pendidikan interaktif, imajinatif, dan penuh daya kognitif. Secara umum, fabel lebih banyak untuk mengembangkan kemampuan bahasa dan moral daripada pengembang kognitif akal yang sekarang didominasi pola pikir saintifik. Namun, bagi orang dewasa yang sudah mengembangkan daya pikir, fabel tetap sangat menantang dan mencerahkan. Fable tetap sering dipakai dalam berbagai bahasa diplomasi tingkat tingkat, dalam pembelajaran ekonomi politik, atau dalam dunia kemasyarakatan. Dan yang paling penting, khususnya bagi para guru kelas kearifan, kefasihan olah bahasa lisan sangat ditentukan oleh pola penguasaan dan pengajaran fabel. Itulah kenapa fabel tetap bertahan sampai sekarang sebagai kurikulum tak resmi dalam dunia pendidikan modern, baik di institusi pendidikan resmi atau di lembaga pemberdayaan sumber daya manusia.

Yang paling berkepentingan dengan edukasi berbasis fabel adalah pendidikan-pengajaran dalam keluarga, tentu saja. Fabel bisa menjadi bekal pencerahan bagi anak-anak di masa dewasa, saat sang anak harus menghadapi komplesitas kehidupan. 

Ilustrasi gambar dari http://google.com

M. Fauzi Sukri, Penulis buku Guru dan Berguru (2015)

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar