Melihat Hikmah Dibalik Peristiwa

Melihat Hikmah di Balik Peristiwa

Re-framing yang secara sederhana kita artikan saja -- mengubah cara pandang terhadap sesuatu --, memungkinkan mata kepala dan mata hati kita terasah dan tajam. Kita bisa melihat hal-hal yang semula tak terlihat. Anda pasti akan bisa bertahan hidup, malah akan semakin kuat, jika Anda menyadari bahwa di setiap kejadian, ada pelajaran dan hikmah, dan terutama ada makna.

Jika Anda tiba-tiba menjadi miskin dan menderita karena kehilangan harta, maka kelangsungan hidup Anda akan sangat ditentukan oleh seberapa besar Anda melihat dan menemukan arti dari semua kejadian itu. Demikian halnya ketika Anda dicopot dari sebuah jabatan penting.

Keyakinan kita akan adanya makna dari setiap peristiwa tidak saja membuat kita lebih arif. Lebih daripada itu, kita akan makin dewasa, rasional, dan memiliki kepribadian kuat. Banyak sekali contoh manusia besar yang lahir, karena kehebatannya melakukan re-framing ini.

Contoh yang sering saya kutip untuk itu adalah seorang bernama Viktor Frankl yang ditahan dalam sebuah kamar kecil, dingin dan tanpa hiburan, di kamp konsentrasi Auszwitch. Tak seperti kebanyakan tahanan yang kemudian mati karena putus asa, Frankl malah berhasil membangun kepercayaan diri atas keyakinan bahwa pasti ada makna dari semua kejadian ini. Ini sebuah skenario yang sengaja dirancang untuk mendewasakan orang. Penderitaan-penderitaan itu pasti punya makna, seperti tabrakan kecil yang saya alami dua kali dalam satu hari.

Saya pernah membaca sebuah puisi tanpa nama pengarang. Seseorang berdoa kepada Tuhan agar dijauhkan dari penderitaan dan kenistaan. Namun, Tuhan menolaknya sambil berkata bahwa justru penderitaan itulah yang membuat seseorang menjadi dewasa dan kuat. Penderitaan akan mengajari kita untuk mengerti apa arti kebahagiaan. Sama halnya dengan penyakit yang diderita akan mengajari kita apa arti kesehatan.

Persoalannya, bersediakah kita melakukan re-framing itu. Banyak orang menolaknya. Mereka seperti mengenakan kacamata kuda yang hanya mampu melihat lurus ke depan. Perspektif mereka satu arah saja, Jangan heran kalau orang-orang seperti ini gelisah, terasing, mudah bermusuhan, dan egoistis. *

Taufiq Pasiak, doktor neurosains dan dokter alumnus Universitas Sam Ratulangi

Sumber: Brain Management for Self Improvement, Dr. dr. Taufiq Pasiak, Mizan, 2007

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar