Manfaat Mengubah Cara Pandang

Pada suatu hari, saat saya menunggu di tempat parkir untuk menjemput anak pulang sekolah, tiba-tiba mobil saya tertabrak dari arah belakang oleh sebuah mobil yang sedang mundur. Walhasil mobil saya penyok dan terlihat goresan yang cukup luas. Karena saat itu hujan deras sekali dan kami tidak membawa payung, kami tidak sempat turun dan memperdebatkan siapa yang salah di antara kami. Kebetulan, sang penabrak adalah seorang aparatur negara yang rekan kerjanya saya kenal baik. Akhirnya, kami sepakat untuk mengantar anak kami pulang dahulu dan saya akan datang ke tempatnya bekerja untuk menyelesaikan urusan tabrakan tadi.

Ternyata tabrakan yang saya alami hari itu tidak hanya satu kali, tepat di belokan kanan depan sebuah pompa bensin, sebuah mikrolet membelok secara tiba-tiba dari arah kiri dan menggores mobil saya untuk kedua kalinya. Goresannya cukup luas dan meninggalkan warna cat mikrolet di mobil saya. Sang sopir mikrolet menatap mata saya dan, menurut dugaan saya, dia marah.

Dua kisah tersebut akan saya lihat dari sudut pandang lain. Istilah manajemennya re-framing, mengubah cara pandang, atau membuat (ulang) kerangka rujukan. Mengubah pandangan dari suatu peristiwa sebagai semata-mata kecelakaan atau kesialan, menjadi sebuah peristiwa yang boleh jadi malah merupakan teguran, atau bahkan kemujuran. Melakukan re-framing—atau secara sisternatis kita sebut perubahan paradigma, atau cognitive-re-structuring dalam istilah psikologi— adalah upaya  melihat sesuatu dari sisi yang tak tampak, tak lazim, atau di luar hal-hal normal.

Teknik ini menjadi salah satu cara untuk memicu dan memacu kreativitas. Contoh sederhana, tapi bagus  soal reframing ini adalah melihat lukisan Mona Lisa. Kita tahu lukisan ini sangat terkenal karena senyum misteriusnya. Sekarang malah makin terkenal berkat novel kontroversialnya karya Dan Brown bertajuk Da Vinci Code (yang sudah difilmkan dan diperankan antara lain oleh Tom Hanks. Coba Anda tatap baik-baik lukisan ini saat berhadapan di depan cermin. Masih misteriuskah? Para psikolog dan ilmuwan saraf yang meneliti soal emosi menemukan bahwa lukisan ini kehilangan kemisteriusannya ketika saling dihadapkan di depan cermin. Sebab, tarikan sudut bibir telah berpindah ke arah sebaliknya.

Di bidang periklanan, re-framing malah sangat kentara. Pernah melihat iklan majalah Femina yang menampilkan perempuan seksi, tetapi yang dipegangnya bukan tas mewah atau HP mahal, melainkan sebuah buku tebal yang melambangkan kecerdasan. Re-framing yang hendak ditonjolkan oleh pembuat iklannya adalah bahwa perempuan cantik tak selalu bodoh dan sekaligus menunjukkan bahwa majalah Femina itu menyasar perempuan cantik dan pintar.

Masih ingat acara televisi "Tolooong", yang diramu oleh Helmi Yahya dan disiarkan oleh sebuah stasiun televisi swasta, juga memperlihatkan re-framing. Ada anggapan sebagian masyarakat bahwa orang-orang miskin tentulah ogah menolong orang lain. Acara Helmi Yahya itu menunjukkan bahwa ternyata tidak benar anggapan bahwa orang miskin,  papa, pengemis, tukang becak, atau pedagang kecil adalah orang-orang yang "berat tangan" (lawan "ringan tangan" yang berarti suka menolong). Ada banyak orang miskin dan orang biasa-biasa yang rela dan tulus mengulurkan tangan menolong  orang yang lebih membutuhkan. *

Taufiq Pasiak, doktor neurosains dan dokter alumnus  Universitas Sam Ratulangi

Sumber: Brain Management for Self Improvement, Dr. dr. Taufiq Pasiak, Mizan, 2007

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar