Rekayasa Jajanan Sehat di Sekolah

Hari belum terlalu siang. Penjual cilok, salome, cakue, es, atau jajanan sudah bersiaga di depan sekolah. Mereka memanggil anak-anak dengan bunyi-bunyian. Beberapa sekolah sudah melarang para penjual jajanan mangkal di depan sekolah. Namun, kekhawatiran akan makanan tidak sehat, kotor, warna tidak alami, saus, dan bungkus plastik berbahaya tidak sepenuhnya bisa teratasi. Para penjual ogah pindah. Mereka memiliki alasan sendiri mencari rejeki. Pun saat anak-anak pulang,  mereka sudah tidak lagi dalam tanggung jawab guru.

Sekolah terkepung jajanan adalah masalah bersama dunia pendidikan anak. Jika akhirnya orang tua tidak sempat membekali makanan karena sibuk, mereka mengandalkan uang saku untuk nanti dibelikan jajanan sesuai selera anak. Jajanan anak akan aman dari aspek kesehatan, jika sekolah menyediakan jajanan aman-sehat. Akan lebih baik lagi jika penyediaan makanan anak menjadi bagian dari pembelajaran. Namun fakta di lapangan: kebanyakan sekolah tak memperhatikan aspek kesehatan jajanan ini. 

Apalagi setiap hari, makanan kemasan buatan pabrik memang sering lebih menarik minat anak dibanding makanan rumahan. Iklan-iklan mereka selalu menampilkan anak yang bergembira, energik, dan gaul. Juga banyak toko swalayan di sekitar anak yang menjadi surga jajanan. Jajanan tradisional? Ah. anak-anak terlalu repot untuk ke pasar tradisional. Dan tak setiap keluarga mampu menjalani kerepotan membuat jajanan agraris; getuk, ubi kukus, puthu ayu, serabi, pisang godhok, pisang goreng, klepon, ketan, atau kue sus.

Juga anak-anak menginginkan jajanan yang ditambah dengan kejutan hadiah atau kupon gosok. Ketidakberuntungan karena belum mendapat hadiah justru membuat anak semakin penasaran dan gila jajan. Produsen makanan ringan selalu punya strategi pemasaran baru, menyasar anak-anak tanpa berpikir bahaya kesehatan dan efek makanan pada tubuh anak-anak.

Pertarungan jajanan sehat dan jajanan tidak sehat, terjadi. Guru dan orang tua mesti bersekongkol mencipta kebiasaan membawa makanan dari rumah. Guru juga bisa mengajak orang tua rapat untuk menentukan rancangan kudapan sekolah yang bisa dikonsumsi anak setiap hari di sekolah. Dalam hal ini, anak-anak akan diajarkan menerima kesetaraan makanan, yang berseberangan dengan jajanan toko yang berpotensi saling bersaing.

Barangkali, dengan persekongkolan sehat inilah orang tua dan guru bisa mengepung balik anak-anak dengan jajanan sehat. Saat anak-anak hendak pulang, mereka tidak merasa harus tergoda lagi dengan aneka warna dan kemasan jajanan di tepi jalan. *

 

Penulis : Setyaningsih

Bagikan Artikel Ini

Komentar (0)

Silahkan Login untuk memberi komentar